Ghairah Dunia Dalam Empat Baris

Sastra Kamis, 24 Desember 2020
Ghairah Dunia Dalam Empat Baris

Tahun ini tema seminar yang diusung dalam Festival Sastera  Internasional Gunung Bintan ( FSIGB)  2019 adalah : Pantun  Sebagai  Akar  Puisi  Moderen. Yang pertama memantik   kata kata itu adalah  penyair, Hasan Aspahani , melalui  salah satu essai nya yang dimuat di halaman Jembia , halaman sastera dan budaya   harian Tanjungpinangpos, yang terbit di Tanjungpinang, Kepri.

Saya mendukung tema itu, karena  kebetulan pada FSIGB 2018 lalu , saya bertemu dengan   Prof Muhamnad Haji Salleh ( MHS ), seorang sasterawan Malaysia yang selalu saya juluki  pakar Hang Tuah, karena  dia telah menerjemahkan  Hikayat Hang Tuah dari bahasa Melayu , ke bahasa inggeris. Sehingga karya klassik  itu kini menjadi milik dunia dan dibaca oleh para peminat yang berbahasa asing, khususnya Inggeris.
     Prof MHS ikut  Festival  Gunung Bintan 2018 itu sebagai salah satu pembicara yang  membahas tentang jejak Hang Tuah dalam  puisi. Dan dia  pun ikut menulis  beberapa puisi  yg bertema Hang  Tuah dan dimuat dalam antologi puisi  Jazirah yg diterbitkan panitia fedtivsl.
       Prof HMS ini memberi saya buku karyanya yang judulnya sangat  menarik : Ghairah  Dunia Dalam Empat Baris ( Sihir  Pantun  dan Estetikanya  ). Buku   yang merupakan kumpulan makalah Prof MHS dan memdedahkan soal pantun dari segala sisi , terutama  bagaimana pantun itu menjadi begitu identik dengan orang Melayu , padahal pada etnis lainpun di indonesia , pantun itu sudah di kenal. Hanya namanya berbeda. Di jawa misalnya disebut Parikan. Lalu mengapa para pakar sastera di Prancis juga sangat  menyukai pantun dan menerjemahkan karya melayu klassik itu ke dalam bahasa Prancis
       MHS mengutip   pendapat seorang peneliti asing , yang mengatakan , bahwa sesungguhnya, kita  belumlah bisa memahami  orang  melayu , sepanjang kita belum memahami  pantun pantun melayu.
       Esai Hasan dan buku MHS itu menjadi sumber pendorong   untuk menjadikannya  tema seminar dan memberi sebuah pemahaman yang lebih kuat relevansinya  dengan antologi puisi ( 2 ) yg tahun ini memilih cogan  : segara sakti , rantau bertuah ( jazirah Melayu dalam puisi ).  Dalam seminar itu kelak , Hasan Aspahani yang biasa dipabggil HAH itu akan jadi salah satu pembicara, disamping dua pembicara dari jakarta , dua dari  Malaysia , dan datu kepulauan Riau sendiri.
      Prof  MHS ini salah  satu dari 14 sasterawan negara malaysia  Yang diberi  gelar Kehormatan  : Sasterwan Negara  bersama usman Awang , Samad Said, dll dan terakhir Sitti Zainon Ismaik. MHS katanya sekarang  sedang menerjemahkan  Salalatus  Salatin ( sejarah melayu karya Tun Seri Lanang  ) dari bahasa melayu ke bahasa  Inggeris,agar  Karya klassik itu jadi milik dunia , katanya. Komitmen MHS untuk membawa karya sastera melayu ke tengah dunia itu,  patutlah diapresiasi dan dihormati .
       Sosok  MHS pun memang sangat familiar dan dihormati di Malaysia  dan juga di Indonesia, sering diundang jadi pembicara seminar  dan pertemuan sastera dan kebudayaan, dan kononnya dia ini keturunan perantau  Indonesia yang datang ke negeri  Semenanjung itu . MHS ini bagi rumpun Melayu  dianggsp sebagai salah satu tokoh Melayu Baru. Soal ciri ciri Melayu Baru itu,  saya menulis gurindam yang saya  sarikan dari pidato kebudayaan Mahatir Muhammad , 30 tahun lalu , dalam Pertemuan  Dunia Melayu di Melaka, dan diulanginya lagi belum lama ini dalam pertemyan “ membangkitkan martabat bangsa melayu “. Ini gurindambya :

Apa tanda Melayu baru
Lebih baik mengamuk daripada merajuk

Apa tanda Melayu baru
Pantang kalah meski selangkah

Apa tanda  Melayu  baru,
Pantang mencaci sesama sendiri

Apa tanda  Melayu baru
Menuntut ilmu seperti ibadah

Apa tanda Melayu baru
Dahulukan tuah daripada daulah

Apa tanda Melayu baru
Sematkan  di hati pesan Hang Tuah

Apa tanda Melayu baru
Mulailah hari  ini, dengan bismillah


Tanjungpinang 2019


Related Post