(Maju-mundur@Timbul-tenggelam)

Estetikasi Masa Kini pada Karya Senirupa Riau

Sastra Minggu, 24 Mei 2015
Estetikasi Masa Kini pada Karya Senirupa Riau

Dantje S Moies

Mau tak mau terpaksa harus diakui, seperti yang dikatakan oleh seorang teman yang juga pengelola padepokan seni, ketika bincang-bincang seni dengan saya sambil berkelakar, bahwa Riau bukanlah lahan subur untuk tumbuhnya spesies senirupa baru yang unggul, terutama pada aspek pengembangan. Pengamatannya seakan menjadi suatu pembenaran, karena hingga saat ini sangat sulit memparadekan karya-karya senirupa yang pernah dilahirkan daerah ini berdasarkan masa, kurun waktu, perkembangan dan pengkomparasian agar terlihat jelas beda dan perkembangan dari waktu ke waktu, berdasarkan kemampuan estetikasi kreativitas pencarian bentuk baru dari para perupa daerah ini.

Pada setiap pameran senirupa (baca: karya dua dimensional dan tiga dimensional) yang diadakan secara berkala oleh lembaga, terutama yang diselengarakan oleh institusi pemerintah daerah terkait. Karya-karya terpajang, kasat mata terlihat hanya pengulangan-pengulangan bentuk dan gaya yang itu-itu saja, selalu berkiblat pada bentuk yang dilahirkan para perupa sohor di tanah Jawa sana (Jokja, Jakarta, Bandung).

Senirupa Riau memang selalu saja tertinggal walau “hanya” pada aspek perubahan dan pengembangan.

Senirupa Indonesia awalnya juga demikian. Terlambat maju jika dibandingkan dengan perkembangan senirupa dunia. Seni  rupa  kontemporer  Indonesia (kota-kota besar di Jawa) menemukan  spirit  mula  dari  lahirnya  Gerakan  Seni  Rupa  Baru  (1975) dengan  gejala-gejala  penolakan  dan  penentangan  terhadap mainstream seni  rupa  moderen,  yang dianggap  sewenang-wenang  atas  nama  universalitas.  Penolakan yang ditandai dengan  penggunakan  berbagai  ragam media ungkap alternatif, di luar tradisi fine art (seni lukis, seni patung, dan seni grafis), seperti senirupa instalasi,  seni  rupa  pertunjukan  (performance  art),  seni  rupa  lingkungan  (environmental  art), video  art, hingga  seni   rupa   dengan  media  barang  jadi   (readymades).   Penolakan   di sana dan pada saat itu, juga  diwarnai   nuansa penghapusan (erasures) atas pengkotak-kotakan antar cabang senirupa, antar cabang seni, percampuran berbagai gaya dan aturan (eklektik), hingga terjadi pengaburan batas antara seni dengan kehidupan sehari-hari.

Dunia  seni  pada  wacana  seni  rupa  kontemporer  tidak lagi  dipandang  sebagai  “dunia  agung”,  yang terpisah  dari  dunia  kehidupan  sehari-hari.  Pengaburan  batas,  bahkan  penghapusan  antara  seni  dengan kehidupan  sehari-hari  (estetikasi  kehidupan  sehari-hari)  merupakan  bentuk  integrasi  baru  antara  “dunia seni”  dengan  “dunia  kehidupan  sehari-hari”  yang  dilandasi  oleh  pemikiran  akhir  modernisme  (post modernism).  Pemikiran  posmodernisme  dalam  konteks  seni  rupa  yang  sangat  fenomenal  dinyatakan secara  filosofis  oleh  Arthur  Danto, “The  End  of  Art”, pernyataan filosofis “berakhirnya senirupa” itu, pada tataran pemikiran, menandai berakhirnya senirupa (mainstream  modernisme),  sehingga  mempersuasi  lahirnya  era  seni  rupa  baru  dengan  paradigma posmodern.

Sejak  awal  tahun  1990-an  sering  diselenggarakan  pameran  seni  rupa  Indonesia  dengan  label “Seni  Rupa  Kontemporer”.  Kata  “kontemporer”  (contemporary)  berarti  sezaman  atau  masa  kini,  namun secara  terminologis,  seni  rupa  kontemporer  tidak  cukup  dipahami  pada  pengertian  seni  rupa  sezaman, senirupa masa kini, atau senirupa yang berkaitan dengan waktu saja. Senirupa kontemporer dipahami sebagai  wacana  dan  praktik  seni  rupa  yang  ditandai dengan  gejala-gejala  “kontradiksi”,  “penolakan”, “subversi”, hingga “dekonstruksi” terhadap kemapanan wacana dan praktek senirupa moderen, terutama aspek  universalisme  dan  formalisme.  Reaksi  penolakan  itu  terepresentasikan  melalui  penggunaan keragaman  media  ungkap  baru  di  luar  tradisi fine  art (seni  lukis,  seni  patung,  dan  seni  grafis)  dengan kecenderungan  yang  bersifat  eklektik  (penggabungan berbagai  gaya  dan  aturan).  Dinamika  seni  rupa kontemporer Indonesia memiliki benang merah kesejarahan dengan Gerakan Senirupa Baru (1975).

Gerakan Senirupa Baru (1975-1979) sering dikukuhkan sebagai momentum awal perkembangan seni  rupa  kontemporer  Indonesia.  Gerakan  yang  dipelopori  oleh  Jim  Supangkat  dan  kawan-kawan  itu mengusung  paradigma  estetis  baru  pada  masa  itu,  yaitu  personal  liris.  Gerakan  itu  menghadirkan perwajahan karya senirupa yang sangat berbeda dengan mainstream senirupa moderen yang telah ada sebelumnya, walaupun tidak secara eksplisit berlabel “senirupa kontemporer”. Karya-karya Gerakan Senirupa  Baru  menekankan  citra  analitik  kontekstual  dan  partisipatoris  terhadap  persoalan  sosial-politik aktual.  Gerakan  itu  juga  mendekonstruksi,  mengaburkan  atau  menghapus,  batas-batas  seni  rupa  tinggi (high  art/grand art/hoge kunst)  dengan  seni  rupa  rendah  (low  art/faible art/lage kunst),  seni  rupa murni  (pure  art/  fine  art)  dengan  seni  rupa  terapan (applied  art),  batas-batas  antar cabang  seni  rupa  (seni  lukis,  seni  patung,  seni  grafis,  seni  reklame,  dan cabang-cabang senirupa lainnya), batas antar cabang seni, bahkan batas antara karya senirupa dengan benda kehidupan sehari-hari.

Salah  satu  catatan  penting  dari  jejak  wacana  dan  praktik  seni  rupa  Gerakan  Seni  Rupa  Baru adalah  dieksploitasinya  benda-benda  pakai  kehidupan  sehari-hari  (readymades)  sebagai  media  ungkap.

Penggunaan  media  ungkap  “tak  terbatas”  (alternatif)  itu  telah  mendorong  perkembangan  seni  rupa instalasi,  seni  rupa lingkungan  (environmental  art),  seni  rupa  pertunjukan  (performance art),  hingga  seni video (video art). Dalam aspek yang lebih luas, penggunaan media ungkap alternatif itu turut mendorong fenomena  pengaburan  batas  atau  penghapusan  jarak  antara  karya  seni  rupa  dengan  barang-barang kehidupan sehari-hari.

Ada  dua  aspek  mendasar  di  balik  pemahaman  tentang  terminologi  seni  rupa  kontemporer  yang berlaku  di  Indonesia. 

Aspek  pertama  mengacu  pada  pemahaman  seni  rupa  kontemporer  sebagai  senirupa  alternatif,  dengan  media  ungkap  baru  seperti  instalasi, performance  art  (happenings), video  art, invironmental  art,  hingga readymades. 

Seni  instalasi  merupakan  karya  rupa  yang  terdiri atas  gabungan berbagai  media  sehingga  membentuk  kesatuan  baru  dan  menawarkan  makna  baru  pula.  Karya  seni instalasi  menjadi  wujud  nyata  pembebasan  seni  rupa dari  pengotak-kotakan  seni  lukis,  seni  grafis,  seni patung,  seni  reklame,  dan  cabang-cabang  seni  rupa  lainnya,  serta  penghapusan  pandangan  dikotomis atas  seni  rupa  menjadi  seni  murni-seni  terap,  seni tinggi-seni  rendah,  atau  seni  bebas-seni  terikat.

Performance art atau happenings disebut juga senirupa pertunjukan, senirupa peristiwa, atau senirupa total.

Performance  art  merupakan  penggabungan  seni  rupa  dengan  seni  pertunjukan  (performing), persilangan antara pameran senirupa dengan pertunjukan teatrikal. Dalam hal ini ditampilkan unsur rupa, musik,  dan  gerak,  namun menghindari  adanya  alur  cerita  (ploting)  secara  tradisional.  Salah  satu contoh performance art yang sangat fenomenal dan tercatat dalam sejarah perkembangan senirupa kontemporer Indonesia  adalah performance  art  yang  dilakukan  oleh  Eddie  Hara  dan  Ellen  Urselmann  (1987)  pada Pekan Seni Eksperimental FSR ISI Yogyakarta, sebaga imana yang dicatat oleh Marianto (2000: 198-199).

Karya performance art itu diilhami oleh Hardship Art Amerika. Mereka berdua merantai salah satu tangan masing-masing lalu digembok. Selama 24 jam dirantai, mereka tidak berbicara satu sama lain dan tidak saling  bersentuhan  secara  fisik.  Mereka  mengenakan  pakaian  putih-putih  dan  berjalan-jalan  menyusuri perkampungan  untuk  mengalami  suatu  sensasi  seperti yang  terjadi  dalam  tradisi  laku  mati  raga,  puasa membisu,  puasa pati  geni,  dan  sebagainya.  Hal  itu  menggugah  keingintahuan  warga  masyarakat  yang dilewatinya. Keanehan dan daya kejut  yang unik karya performance art itu telah membuka mata tentang kenyataan  bahwa  kemungkinan  berkesenian  dapat  dilakukan  dengan  berbagai  cara.

Invironmental  art adalah  seni  rupa  yang  menggunakan  lingkungan  hidup (alam)  sebagai  media  ungkapnya,  seperti  yang terlihat  pada  karya  Dadang  Christanto  berjudul  “For  Thoses  Who  Had  Been  Killed”  (1993),  yang memanfaatkan  lereng  perbukitan  yang dikepras. 

Video  art Senirupa  yang  memanfaatkan  video  sebagai  media ungkapnya  secara  intensif  ditekuni  oleh  perupa  Krisna  Murti,  atau  perupa  tokoh video  art berskala internasional kelahiran Korea, Nam June Paik.

Aspek kedua adalah senirupa kontemporer sebagai senirupa yang menentang atau menolak seni rupa  moderen  (anti-moderenisme).  Dalam  pandangan  Sumartono  (2000:  22-23),  aspek  ini  merupakan penolakan  terhadap  pengagungan  seni  rupa  Barat  dan pelecehan  terhadap  seni  rupa  non-Barat  (atas dasar  universalisme).  Seni  rupa  kontemporer  sangat menghargai  pluralitas,  berorientasi  secara  bebas, tidak  menghiraukan  batasan-batasan  secara  kaku  (baku).  Seni  rupa  kontemporer  dapat  diciptakan  dari  berbagai  benda,  bahan,  atau  media,  tidak  ada  pembedaan  antara  satu  dengan  yang  lain,  termasuk benda-benda jadi (readymades) dalam kehidupan sehari-hari.

Hampir semua media ungkap (tak terbatas) yang dikenal hingga kini, pernah dimunculkan oleh seniman-seniman di Riau, sehingga dapat dikatakan bahwa upaya untuk mencari dan menanam spesies baru pohon senirupa itu pernah ada, namun pembenaran kalimat yang disampaikan oleh seorang teman saya itu perlu diakui, karena tak berkelanjutannya (ketidak-suburan lahan?) upaya dan pemunculan karya baru itu terlihat.

Contoh nyata dapat diamati pada karya M Yusuf AS, salah satu perupa Riau alumnus ISI Yogjakarta, yang mengusung media temuannya berupa Tapas Kelapa pada karya senirupa kaligrafi ke ruang pameran. Yusuf, memanfaatkan media tak terduga (tapas kelapa) dengan pemaknaan bawaan (sampah) menjadi sebuah karya seni dengan pemaknaan baru; atau karya Amron Salmon berjudul “Keremunting”, berupa karya lukis dua dimensional yang terilhami dari karya sastra  karangan sastrawan Rus Abrus dan memberikan pemaknaan baru cenderung bebas dalam hal interpretasi.

Hal  yang  sama  juga  terlihat  pada  karya  Armawi Kh  “Orang Perahu”,   yang mengangkat fenomena sosial pengungsi Vietnam di Kepulauan Riau.  

Pada peringatan hari bumi 1992 di Taman Budaya Riau Pekanbaru, para seniman terutama perupa, mengestetikasikan sebatang pokok kelapa yang “hidup segan mati tak mau” dengan melilit perban di sekujur pokok kelapa dan menggantungkan botol-botol infus, lengkap dengan selang yang mengaliri cairan nutrisi ke “tubuh” pokok kelapa.
Sebuah kelambu lusuh yang digantung di ruang terbuka, dengan pemaknaan biasa layak kelambu. Namun perupanya (Dantje S Moeis) memberikan pemaknaan baru dengan menaburkan daun kering, meletakkan patung orang terbaring ringkih menahan serbuan asap yang melanda Riau saban tahun pada periode tertentu (musim kemarau). Karya tersebut diberi judul “Kelambu Asap”.

Dari gambaran di atas, Riau sebenarnya memiliki bibit (kreativitas) yang dapat mampu tumbuh baik dan membesar. Namun hingga saat ini tampak bahwa lahan tempat tumbuh tak berkesempatan menerima nutrisi (pupuk) yang seyogianya merupakan tugas para pembina kesenian dalam hal ini lembaga pemerintah yang diberi kepercayaan mengelola kebun seni di daerah ini. Itu saja.***

SPN Dantje S Moeis: Perupa, penulis kreatif, redaktur senior majalah budaya “Sagang”, dosen Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR),Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbabaru