Puisi Pengembara(an) dan Pengembaraan Puisi

Sastra Minggu, 17 Mei 2015
Puisi Pengembara(an) dan Pengembaraan Puisi


Oleh Sudarmoko

Saya mendengar terbitnya buku kumpulan puisi Rose ini ketika diluncurkan di Bukititinggi beberapa tahun yang lalu. Sejumlah sastrawan dan seniman, serta budayawan di Sumatera Barat ikut serta memeriahkan, dengan membacakan puisi-puisi yang ada di dalamnya. Namun sayangnya, saya baru mendapatkan buku ini setelah beberapa waktu, dan karena itu memaksa saya untuk membacanya, setelah mendapatkannya sebagai oleh-oleh dari Fakhrunnas MA Jabbar dan Ramon Damora ketika berkunjung ke Leiden, akhir April 2015 lalu.

Secara sederhana, ketika memulai membaca buku ini, saya ingin sekali melacak jejak budaya dalam puisi-puisi Rida K Liamsi, yang terhimpun dalam Rose Selected Poems, kumpulan puisi dwibahasa yang diterbitkan oleh Yayasan Sagang, 2013. Namun memang, puisi lebih mendekatkan pembaca pada perjalanan si penyair, sebagai sebuah representasi yang dinamis, berubah, dan bahkan secara tidak terduga berkebalikan dalam sejumlah hal.

Coba saja baca misalnya, Rida menulis tentang perjalananannya ke Korea, temuan yang didapatinya selama di sana, dan juga konstelasi sosial politik yang terjadi. Ia berbicara tentang peran penyair dan puisi dalam ketegangan politik dan budaya. Di saat lain, Rida berbicara tentang Jepang, Amerika, Arab Saudi (perjalanan haji dan ibadah lainnya), dan beberapa tempat lainnya. Masing-masing memiliki konteks yang berbeda, yang direkam dalam puisi dalam tipografi dan diksi yang berbeda pula. Yang menarik, Rida tidak menggunakan satu gaya tertentu dalam penulisan puisi-puisinya, yang telah dijalani berpuluh tahun, seperti terlihat dalam kolofon puisi-puisinya.

Bagi saya, membaca puisi-puisi dalam antologi Rose ini seperti membayangkan seseorang yang mengembara, dengan dua jenis tas bawaannya. Pertama adalah koper atau tas besar, yang mungkin mewakili latar belakang budaya penyairnya. Kedua adalah tas kecil yang berisi dokumen-dokumen, yang mewakili individu dan identitas personal penyairnya. Entah bagaimana, ketika sedang membaca puisi-puisi, bayangan ini seperti muncul begitu saja.

Koper atau tas besar adalah kerangka budaya dan sejarah yang pertama saya cari, apakah Rida menyuarakan puak Melayu, misalnya, atau setidaknya mewakili semangat zaman yang dilalui dalam profesinya. Jawabannya tentu saja ada. Setidaknya tergambar dalam cara berpikir dan memandang dunia yang lebih luas dari seorang Rida dalam puisi-puisinya. Tetapi memang, koper akan ditinggal di penginapan, ketika seorang pejalan menelusuri sebuah tempat. Yang dibutuhkannya hanyalah sebuah tas kecil untuk menyimpan kartu-kartu penting, buku tulis, pena, dan mungkin juga uang. Karena itu, perjalanan seorang Rida sebagai penyair, individu, lebih besar perannya dalam puisi-puisi ini.

Karena itu, saya kemudian tidak ingin melanjutkan pertanyaan saya di awal tulisan ini. Saya lebih ingin menikmati puisi-puisi Rida yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Dari Sanghai ke Stockholm, dari Washington ke Mekkah, dari Korea ke Vietnam, dan masih banyak tempat lainnya. Bisa jadi Rida juga mengembara di seluruh kampung halamannya, dan menyisakan tanda tanya, misalnya dalam puisi “Kelekatu”: Ada ketika kita menjadi kelekatu/ Terbang dari lampu ke lampu/ Dari pintu ke pintu/ Dan Akhirnya terdampar di bawah bangku/ Tapi tak ada yang menyapa/ Tak ada yang bertanya/ Kesepian seperti degup maut yang berdetak di ujung/ stateskop/ hanya kita yang merasa Aduhai!( hlm. 162). Puisi ini, bagi saya, merupakan salah satu puisi yang dapat mewakili penyair dalam perjalanan panjang kepenyairannya.      

Rida memiliki kebebasan dalam mengekspresikan pikiran dalam puisi-puisinya, dengan pilihan diksi yang lugas, pilihan tipografi yang tidak terikat, namun tema yang dipilihnya seakan mencari kesesuaian dengan konteks budaya masing-masing puisi. Puisi “Elegy (I)”, misalnya, ia tulis dengan tipografi dan gaya haiku, sesuai dengan isinya yang berbicara tentang ingatan pada seseorang, yang berasal dari Jepang, Mishima, dan juga, tampaknya, tentang upacara membela kehormatan dengan harakiri. Sementara puisi-puisi yang ditulis di Mekkah dan sekitarnya, atau hubungan antara aku lirik dengan Tuhannya, lebih banyak menggunakan lirik dan dialog serta kata sapaan orang kedua, yang seakan menunjukkan sebuah upaya keutuhan dalam membangun komunikasi.

Namun demikian, masih berkaitan dengan pertanyaan saya sendiri di atas, saya tertarik dengan gaya dan tema dalam puisi-puisi naratif, seperti “Dan Sejarah Pun Berdarah” (hlm. 200-221), “Cerita-Cerita dari Korea” (hlm. 222-235), dan “Dayangku Laut” (hlm. 182-191). Puisi-puisi naratif ini mampu memberikan suasana yang khas Melayu, dengan nafas yang lebih panjang dalam merangkai cerita dengan rima yang indah, dan ternyata juga mampu berbicara tentang kekinian. Dalam periode yang kemudian, Marhalim Zaini memiliki kekuatan juga dalam membangun puisi-puisi naratif, terlebih ketika mengangkat tema sejarah dan problematika Melayu. 

Menulis puisi dari hasil pengembaraan, dan juga pada saat yang sama berbicara tentang tempat yang dijalani, adalah sebuah cara yang ditempuh oleh beberapa penyair, misalnya Gus tf. Pertemuan dengan tempat yang baru, dengan seluruh kehidupan yang baru dan berbeda, memberikan kontradiksi yang mampu menantang imajinasi. Perjalanan memberikan banyak kemungkinkan ketidakterdugaan, pengalaman estetik, dan tantangan emosional, spiritual, dan mental. Bagi seniman, mencatat perjalanan dengan efek estetika seperti ini merupakan sebuah tantangan. Rida sepertinya salah satu dari mereka yang melakukannya.

Puisi-puisi dalam buku kumpulan Rose ini, memberikan gambaran lain dalam usaha memahami dan memasuki kesusasteraan di Riau. Terlebih bagi saya yang sedang berusaha meneliti penerbitan sastra di Sumatera Barat, dan juga di daerah-daerah lain di luar Jakarta dan Jawa. Penerbitan seperti yang dilakukan oleh Yayasan Sagang, dan juga penerbit-penerbit lain di daerah, memiliki peran penting dalam membangun perkembangan sastra Indonesia di daerah-daerah. Produksi teks dan juga intelektualitas di daerah-daerah memang lebih diketahui dengan baik oleh perangkat intelektualitas di daerah itu sendiri. ***

Sudarmoko, peneliti sastra Indonesia, sedang menyelesaikan pendidikan S3 di Leiden University. :


Related Post