Oleh: Rian Kurniawan Harahap

Mengulang Kaji Pentas "Mangkat Dijulang"

Sastra Senin, 15 Juni 2015
Mengulang Kaji Pentas

"Pakcik Bujang, Kuburkanlah nangka ini tepat di bagian perut Maimunah!"


Penggalan dialog itu terasa sangat memilukan, terlebih lagi disuguhi adegan visual dengan penampakan panggung yang menampilkan kuburan masih “segar”. Inilah kisah yang  diangkat oleh Sanggar Latah Tuah UIN Suska Riau dengan tema besar kebangsawanan. Tidak tanggung-tanggung, pementasan ini dipatok mendapatkan hampir ratusan penonton dan berlangsung selama tiga hari. Garapan yang cukup mengejutkan datang dari sebuah sanggar yang berdiri dan berkiprah dari dalam dunia akademisi kampus non-seni.

Membaca dan mengulang kaji tentang kisah heroisme dari kisah Mangkat Dijulang. Cerita ini tak lepas dari kisah di masa lalu tentang pembalasan dendam Megat, bersebab kekasih hatinya Maimunah telah menemu ajal dan serta merta pula kandungan buah hati mereka. Tak lain tak bukan adalah sultan yang mencari seulas nangka, lalu menggunakan segala kuasanya untuk membunuh. Alasan klise dan sumbang untuk membalaskan dendam sultan sebab tidak mampu mempersunting Maimunah yang cantik jelita, maka hasutan yang bersembang di telinga sultan dari Datuk Bendahara mampu memecahkan segala logika dari Sultan Mahmud.

Tepat sebelum Jumat seperti apa yang dikatakan oleh Datuk Bendahara bahwasanya segala kekuatan akan hilang di tubuh Sultan Mahmud. Ia tidak akan lagi kebal senjata, maka ketika bumbungan amarah sudah di ubun-ubun Megat. Keris yang sudah keluar dari sarungnya tak lagi ingin masuk sebelum menemu darah. Tepatnya itu pesan yang didapat dari dialog panjang Megat ketika mencegat Sultan Mahmud ketika dijulang hendak ke mesjid. Semua percakapan panjang itu pun berakhir pada sebuah pertarungan sengit dua sahabat sedari kecil. Dendam telah meluluhlantakkan semua logika mereka. Mereka jatuh dan saling membunuh. Ucapan, “Kita pernah berjanji berbagi tanah” menutup kisah mereka.

Kisah polemik ini kembali dihadirkan meski sudah berulang kali dipentaskan oleh kelompok teater, baik yang ada di dalam negeri dan luar negeri. Dari pantauan penulis di dunia maya, ada beberapa yang sukses mementaskan ide cerita ini dengan baik, namun ada beberapa juga yang belum mampu menyampaikan apa yang dipaparkan kelompok teater tersebut. Dengan ide cerita  yang memiliki variasi ragam kisah, konflik serta alur dan yang pasti ditulis oleh orang yang berbeda.

Kisah “Mangkat Dijulang” yang dipentaskan di Anjungan Seni Idrus Tintin ini ditulis oleh SPN. GP Ade Darmawi yang merupakan pendiri sanggar ini. Beliau menulis ini dengan kisah-kisah yang saling menyambung satu naskah dengan yang lainnya. Dengan sebuah tekad keberanian serta sebuah pemahaman dialektika yang berani, maka naskah ini kembali dibuka sebagai lembaran pembuka khasanah oleh Rezza Akmal sebagai sutradara, untuk dipanggungkan sesuai dengan kemauannya. Penulis melihat Rezza Akmal sebagai seorang yang masih “muda” dalam dunia panggung kebangsawanan, namun patut diacungkan jempol dengan keberaniannya mengangkat khasanah melayu kembali ke dunia panggung.

Mengkaji Mangkat Dijulang sejatinya melihat sisi yang bernas dalam pementasan tersebut. Melihat sebuah tontonan tidak hanya melihat dari berapa jumlah penonton yang terpuaskan hasratnya akan hiburan, edukasi atau hanya untuk tertawa sepanjang pertunjukan. Ada hal yang lebih estetis yang harus dibuka untuk dikupas sebagai tawaran-tawaran cerdas dalam memaparkan apa yang mesti dijabarkan.

Melihat ide cerita yang begitu bagus, tampaknya sutradara kelelahan melakukan penguatan-penguatan dalam diri aktor-aktornnya. Ada dialog-dialog yang terkesan dipaksa untuk memunculkan kemagisan, dan terkesan mengarah ke arah kebengisan dan ketegasan yang dipaksa. Dialog Gorda Bianglala misalnya, makhluk yang merupakan ayahanda dari Peri Bunian ini sengaja dipaksa menegangkan batang tenggorokannya untuk mengucapkan dialog yang sebenarnya lebih magis jika tidak terkesan berteriak.

“Nanda kita berbeda. Masalahnya kita adalah bangsa bunian, dan sultan adalah bangsa manusia. Dekat tak dapat ditunjal, jauh tak dapat ditunjuk. Ingat barang siapa bermain api dengan perkara yang agung, bersiaplah menghadapi resiko yang besar”

Dialog itu memiliki nasihat dan situasi yang astral. Wajah pelakonnya tak semestinya berteriak dan mengangkat tinggi suaranya. Ada hal yang bisa ditawarkan sebenarnya dengan beberapa tawaran-tawaran dalam proses latihan, sehingga muncullah bentuk-bentuk alamiah dari pemeranan itu. Terlebih makhluk tersebut bukan manusia, sehingga perlu inteprestasi penginderaan yang lebih lama untuk memahami lingkungannya.

Namun tidak semua adegan pula yang dibuat serta merta dengan kepuitisan. Hal ini bisa dilihat dari kekuatan dialog dan alunan ucapan dari Datuk Bendahara. Penulis melihat penonton sangat mudah mencerna intonasi, tempo dan nada yang keluar darinya. Terlepas dari pemaparan aktor-aktor lainnya yang secara keseluruhan memerlukan proses yang lebih panjang dalam mencerna, memenggal kata sehingga makna yang diucapkan sampai dan tidak terpenggal-penggal pula.

Melihat Mangkat Dijulang dari kacamata penonton tentu saja akan menjadi takjub. Pasalnya properti yang dihadirkan penuh dengan guratan ukiran-ukiran melayu, motif lebah begantung, belum lagi hadirnya rumah di atas kanvas. Tampaknya pementasan ini memang sengaja memperkuat sisi propertinya. Sebab untuk menghasilkan sebuah latar tempat dan pesan itu sampai kepada penonton awam. Perlu dengan gamblang menjelaskan dengan properti yang hadir di panggung. Adanya kuburan di depan rumah, tepat di awal pertunjukan ketika Megat mencari Maimunah istrinya terkesan janggal. Musababnya kehadiran dua tempat itu secara bersama-sama ada di halaman rumah. Tampaknya perlu dipertanyakan juga sebuah fakta-fakta kebangsawanan yang ingin disampaikan sutradara. Kuburan itu apakah sengaja ditaruh di depan rumah? Atau memang tidak ada tempat lagi untuk menggambarkan adegan itu sehingga disatukan tepat di halaman rumah yang bersih.

Pergantian properti sudah lembut. Sutradara mampu mengakali keberadaan setting yang berat untuk ditukar pakai disebaliknya untuk babak yang lain. Inilah kecerdasan sutradara dalam menimang setiap adegan dan babak yang ingin disampaikan. Properti yang berat namun simpel inilah yang diracik lagi lewat penambahan adegan untuk mengubah set panggung lewat aktor-aktornya. Penulis juga pernah melihat pementasan yang menggunakan aktor sebagai kru pengganti set panggung, bisa diakali dengan baju hitam atau dengan gerakan fast/slow motion namun di pementasan ini cukup berbeda. Bujang dan Mak Inang sengaja dihadirkan dengan iringan musik berjoget, maka pelayan-pelayan kerajaan pun  muncul untuk mengubah set menjadi kerajaan.

Logisnya pementasan ini memang memakai tangan-tangan profesional untuk menggarap set tersebut. Selain itu pada bagian tata musiknya, pementasan ini kental dengan tangga nada melayu. Cengkok melayu pun dengan lawas didendangkan, tanpa ada hambatan yang berarti. Memang penonton agak asing mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan, sebab inilah yang sebenarnya proses kreatif dari sebuah pementasan teater. Bagian yang tidak terlepas dari teater dan tidak berdiri sendiri. Musik bukanlah bagian tempelan yang hanya mengiringi sebuah suasana dalam adegan, atau untuk mengganjal pergantian adegan pula. Musik adalah proses integral yang diciptakan bersama untuk menginterpretasikan pementasan itu sendiri. Agaknya lagu-lagu yang ditampilkan sangat mudah dihapal sehingga penonton masih mengeja beberapa lirik setelah pementasan berakhir. Namun ada sedikit yang perlu ditawarkan lagi dalam proses penataan musik. Apakah dengan menyanyikan semua lagu dan bahkan aktor bernyanyi lipsync itu bisa menggambarkan suasana hati aktor tersebut. Jelas saja ini perlu dikaji lagi, sebab ada kejenuhan ketika suasana hati selalu digambarkan dengan nyanyian. Penonton bisa menerka apa yang akan terjadi ketika suasana hati berganti.

Mangkat Dijulang merupakan naskah yang apik. Naskah ini dibuat dengan kebebasan daya imajinasi bagi siapa saja yang mementaskannya. Naskah ini bisa diadaptasi dengan bentuk dan pola pemanggungan yang berbeda. Alhasil pertunjukan yang tergolong cukup lama ini, sekitar dua setengah jam dan mampu membuat penonton dihipnotis untuk bertahan lama duduk di kursinya. Penonton dibawa ke ruang pertunjukan baru. Ini dikarenakan notabene penontonnya adalah mahasiswa kampus. Dengan segala keterbatasannya Latah Tuah mampu mendobrak ruang berpikir dalam mementaskan Mangkat Dijulang.

Terlepas dari pola pemanggungan dan teknis yang telah dibahas sebelumnya. Pementasan yang didukung hampir lima puluhan kru ini terselip nilai estetika yang coba ditawarkan. Rona melayu kembali hidup untuk kesekian kalinya. Teater bangsawan ini bukan untuk dikaji baik atau buruknya, sejatinya menonton teater adalah berbicara tentang apa yang terjadi pada penonton setelah pentas tersebut. Penonton terpuaskan oleh hiburan yang apik atau ia menangkap nilai dan pesan dalam hiburan yang apik. Penonton punya banyak mata, aktor punya banyak cara. Semoga.***


Rian Kurniawan Harahap adalah penikmat pementasan teater. Mahasiswa Pascasarjana Unri. Berkhidmat di Kota Pekanbaru.


Related Post