Nasib "Jebat" di Tangan Rida K Liamsi

Sastra Senin, 11 Mei 2015
Nasib

Oleh : Ary Sastra

Entah siapa pengarangnya, tahun berapa diciptakan, yang jelas Hikayat Hang Tuah telah melegenda dalam kehidupan masyarakat Melayu. Bahkan, tokoh-tokoh dalam hikayat tersebut telah menjadi mitos, dipercayai secara turun temurun oleh masyarakat Melayu.

Tokoh Hang Tuah misalnya, selalu diidentikkan dengan kepahlawanan, kesetiaannya terhadap raja. Sedangkan tokoh Hang Jebat, lebih identik dengan perlawanan atau pemberontakan terhadap sang penguasa.

Menariknya, mitos tentang Tokoh Hang Jebat ini menjadi sumber inspirasi bagi Rida K Liamsi dalam penciptaan puisinya yang berjudul “Jebat” dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul Tempuling. Hal yang dilakukan Rida K Liamsi ini juga pernah dilakukan oleh penyair lain, seperti Amir Hamzah dengan puisinya berjudul “Batu Belah” dan “Hang Tuah” berdasarkan dongeng Batu Belah dan Hikayat Hang Tuah, puisi Chairil Anwar, “Cerita Buat Dien Tamaela” didasarkan kepercayaan orang Maluku, serta puisi Gunawan Mohammad, “Gatoloco” yang diolah dari buku Gatoloco, sebuah kitab yang berisi ajaran mistik masyarakat Jawa.

Meski berpijak dari mitos masa lalu, para penyair atau sastrawan tetap memainkan kreatifitasnya sesuai dengan situasi dan kondisi hari ini. Mitos-mitos tersebut hanyalah sebagai pintu masuk agar karya-karya mereka mudah dipahami dan lebih familiar bagi pembacanya.

Misalnya puisi “Jebat” Karya Rida K Liamsi. Dari membaca judulnya saja, pikiran kita telah digiring kepada Hikayat Hang Tuah. Kisah ini sangat populer sekali bagi masyarakat Melayu, bahkan juga di wilayah nusantara lainnya.

Tapi setelah membaca lebih jauh, puisi Jebat karya Rida K Liamsi jauh berbeda dari kisah Hang Jebat sebagaimana yang terdapat dalam hikayat. Jebat dalam puisi Rida K Liamsi lebih mengarah kepada upaya kesadaran orang Melayu terhadap masa lalu mereka, seperti yang dilukiskan pada bait pertama puisi itu.

Telah kau hunus keris
telah kau tusuk dendam
telah kau bunuh dengki
tetapi, siapakah yang
telah mengalahkan mu


Dalam hikayat diceritakan yang membunuh Hang Jebat adalah Hang Tuah, sahabatnya sendiri yang diutus oleh Raja. Namun kenapa Rida K Liamsi masih mempertanyakannya? sebagai orang Melayu, Rida K Liamsi tentu lebih tahu. Agaknya pertanyaan itu merupakan autokritik dari sang penyair bagi dirinya sendiri dan masyarakatnya bahwa perseteruan tersebut tidak ada guna sama sekali.

Kami hanya menyaksikan
luluh rasa murka mu
celup cuka cemburu mu
kubur rasa cinta mu
di bayang-bayang hari mu


Kami hanya menyaksikan
waktu menghapus jejak
darah mu
angin menerbangkan setanggi
mimpimu
ombak menelan jejak
nisan mu
di balik cadar mimpi-mimpi mu


Sebagai Orang Melayu yang hidup pada masa kini, Rida K Liamsi memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan budaya Melayu hari ini. Ia khawatir budaya Melayu perlahan-lahan tergerus arus perkembangan zaman

Kami semua telah
mengasah keris
telah menusuk dendam
membunuh dengki
meruntuhkan tirani


Tapi siapa yang
telah mengalahkan kami
menumbuhkan khianat
melumatkan sesahabat
mempusarakan sesaudara

Kami hanya menyaksikan
waktu yang berhenti bertanya
sejarah yang berhenti ditulis
kita hanya membangun
sebuah arca

Apa yang telah dilakukan Rida K Liamsi melalui puisi Jebat, tidak semata berpijak kepada mitos, tetapi telah mengaktualkannya sesuai dengan kondisi hari ini. Banyak pakar berpendapat bahwa karya sastra yang baik, akan menciptakan mitos kepada pembacanya.

Sebut saja Tokoh Siti Nurbaya dalam novel Marah Rusli. Padahal tokoh itu hanya ada di dalam novel, rekaan Marah Rusli semata. Namun masyarakat di Kota Padang mempercayai cerita itu memang benar-benar ada. Bahkan Pemerintah Kota Padang juga ikut-ikutan memberikan nama jembatan di kawasan Muara Padang dengan nama, Jembatan Siti Nurbaya.

Kembali ke puisi Jebat, meski tidak mempersoalkan perseteruan antara Hang Tuah dan Hang Jebat, siapa yang benar dan siapa yang salah, Rida K Liamsi telah menciptakan Jebat masa kini. Jebat yang lebih arif, memunculkan kesadaran masyarakat Melayu. Atau mungkin Rida K Liamsi, Jebat itu sendiri? Selamat berkarya Pak Rida.***


Related Post