Pragmatis Keindahan Makna Terhadap Bahasa

Sastra Senin, 08 Juni 2015
Pragmatis Keindahan Makna Terhadap Bahasa

Meskipun dihubungkan dengan yang pernah dikemukakan oleh Aristoteles dalam sebuah buku berjudul “Poetic”. Dengan pernah mengatakan bahwa dalam karya sastra bukanlah kenyataan sehari-hari sebagaimana mestinya. Disini dihubungkan yang pernah dikemukakan oleh Quintus Horatius Placcus, dalam sebuah buku berjudul”De Arte Poetica”. Dengan pernah mengatakan bahwa karya sastra mesti memberikan pesan moral serta keindahan dan bermanfaat dan menyenangkan dari sisi aspek pragmatis.


Namun dihubungkan dengan yang pernah dikemukakan oleh Noam Chomsky, melalui sebuah metode “Transformatif Generatif”. Dengan pernah mengatakan bahwa bahasa alami telah menyimpang dari rumus gramatis bahasa yang ada dalam otak. Dimana pernah membagi bahasa dalam dua struktur yakni struktur dalam dan struktur permukaan yang mampu disamakan dengan istilah “competence” atau pelahiran bahasa dalam otak sesuai dengan aturan dan “performance” atau pelahiran bahasa oleh seseorang.  Akan tetapi orang yang sama mungkin berbeda dalam “performance” atau surface struktur.

Sedangkan dihubungkan yang pernah dikemukakan oleh Hans Robert Jausz, melalui penekanan pembaca selaku pemberi makna. Apabila dalam sebuah makalah berjudul “Literatur Geiscichte Als Provokation”. Sejarah Sastra Sebagai Tantangan. Berisikan “Dinamika Sastra” yang timbul berdasarkan diakronis dan sinkronis. Dengan pernah mengatakan bahwa dari segi estetik karya sastra sebagai karya seni, pembacalah yang menentukan apakah karya sastra dapat diterima ataukah ditolak, apakah karya sastra bernilai ataukah tidak, apakah karya sastra yang tertonjol itu nilai esetetik atau nilai kegunaannya.

Namun dihubungkan dengan yang pernah dikemukakan oleh Hopkins. Dengan pernah mengatakan bahwa keindahan dalam karya sastra merupakan suatu hasil dari intresa dan inscape, dimana”interesa” adalah pengaruh nyata tangan Tuhan terhadap cipta kreatif seorang seniman. Sedangkan “inscape” adalah pemahaman kekuatan melihat segala sesuatu dengan hati dan pikiran sebagai puncak realitas dalam cita seni berdasarkan kebenaran Tuhan (Muhsin Ahmadi, 1984;126).

Sehingga dihubungkan dengan yang pernah dikemukakan oleh Lucien Goldman, melalui sebuah metode”strukturalisme genetik”. Dengan pernah mengatakan bahwa setiap individu itu tidak memiliki pandangan dunia sendiri melainkan pandangan terhadap dunia kelompok sosial. Apabila segala aspek berkaitan dengan aktifitas sosial merupakan struktur sama dengan aspek bahasa.

Apabila dihubungkan dengan yang pernah dikemukakan oleh Ferdinand De Saussure, dengan pernah meletakkan dasar-dasar kajian kuat dalam ilmu linguistik modern. Dengan memperkenalkan bahasa terdiri dari dua sisi yang tidak dapat dipisahkan; petanda (signifian) dan penanda (signifie). Meskipun dihubungkan dengan yang pernah dikemukakan oleh Julia Kristeva, melalui metode “Intertektualitas”. Dengan pernah mengatakan bahwa teks karya sastra mesti membongkar dan mengembalikan kepada teks-teks lain dan menyusun kembali menjadi teks baru yang berasal dari (dekonstruksi dan rekonstruksi). Sehingga terbuka segala kemungkinan spekulasi subjektif mengandung resiko.

Sehingga dihubungkan dengan yang pernah dikemukakan oleh Frederick Engel dan Hegel yang merasa tidak sesuai dengan pandangan Marxisme. Dengan pernah mengatakan bahwa karya sastra mesti dihargai integritas terlebih dahulu sebagai karya seni baru pencerminan masyarakat. Akan tetapi dihubungkan yang pernah dikemukakan oleh kaum pasca Strukturalisme Semi, Rusia yang tidak mampu menemukan makna hakiki karya sastra. Dimana para tokoh Paul De Man dan J Hill Miller dari Universitas Yale Amerika Serikat. Dengan pernah mengatakan bahwa karya sastra atau bahasa pada umumnya tidak mencerminkan kenyataan akan tetapi menciptakan kenyataan. Meskipun dihubungkan yang pernah dikemukakan oleh Plato, dalam sebuah buku berjudul “Republik”. Dengan pernah mengatakan bahwa dalam karya sastra merupakan kenyataan sehari-hari meniru dunia ide atau dunia Illahi.

Apabila memiliki persamaan dengan yang pernah dikemukakan oleh Abrams dengan pernah mengatakan bahwa karya sastra menitikberatkan kosakata bahasa kearah struktur otonom. Apabila dihubungkan yang pernah dikemukakan oleh Jan Mukarovsky. Dengan pernah mengatakan bahwa karya sastra sangat berkaitan dengan konteks sosial, akan tetapi fungsi estetik dan puitika bahasa tidak terlepas dari fungsi sosial sementara fungsi estetik dan fungsi sosial selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan fungsi sosial itu sendiri. Fungsi estetik dan fungsi sosial selalu berubah-ubah pada suatu masyarakat sepanjang zaman. Kadang kala lebih mementingkan fungsi sosial dan kadang kadang lebih mementingkan fungsi estetik ( Teeuw, 1984-7).

Akan tetapi keindahan  makna terhadap bahasa merupakan bagian “integral” yang tidak dapat dipisahkan fungsi utama penggunaan struktur kosakata bahasa dalam kalimat. Meskipun melakukan proses permentasi beraneka ragam kosakata bahasa menjadikan bahasa yang berbeda dari pemakaian bahasa biasa pada umumnya. Namun dalam karya sastra bukan sarana memperbaiki karya sastra berhadapan langsung ‘realitas’ atau kenyataan menentukan kualitas atau tidaknya karya sastra. Akan tetapi menekankan keberlangsungan teori bukan hanya untuk menyulitkan seorang pengarang selaku pencipta dari beraneka ragam kosakata bahasa sampai membentuk kalimat. Meskipun seorang pengarang mesti menyikapi segala bentuk yang berhubungan beraneka ragam kosakata bahasa sampai membentuk kalimat dalam karya sastra.

Namun dalam melakukan berbagai proses keyakinan ataupun proses penjiwaan dalam menciptakan karya sastra dari sisi keindahan sosial makna yang terdapat pada bahasa bukan sebagai pengaruh dari lingkungan sosial masyarakat ataupun pembaca. Namun pembentukan bahasa terjadi sebagai upaya pergolakan sebuah karya sastra dari sisi panutan didalam proses lingkungan sosial masyarakat ataupun pembaca. Meskipun keindahan makna terhadap bahasa pada baris dan bait kalimat memberikan kelonggaran kepada tubuh bahasa. Apabila seorang pengarang memperhitungkan makna dalam keindahan sosial makna terhadap bahasa.***

Sayyid Fahmi Alathas, Bermukim di Lampung Timur. Menulis sejak tahun 2004 sampai saat ini puisi dan esai terpublikasi di lima belas media massa lokal maupun nasional. Menghasilkan tiga buah buku antologi puisi bersama dan masuk kumpulan terbaik esai pilihan Riau Pos (Seniman, Ramadhan dan Hari Raya) An Fahmi Alatas BRI, No rek 5701-01-008392-533