Pusara Kasih

Sastra Senin, 01 Juni 2015
Pusara Kasih

MEMASUKI bulan puasa, hampir semua umat muslim Melayu Riau pulang-kampung dengan tujuan bermacam-macam. Mungkin meminta ampun dan maaf kepada orangtua, mengunjungi kaum-kerabat, rindu sudah lama tak pulang kampung, berlimau (mandi berlimau), yang semuanya dapat disebut dengan berziarah. Apakah ziarah? Arti sesungguhnya adalah “kunjungan” (dari bahasa Arab), misalnya kunjungan ke tempat-tempat yang dianggap suci, ke tempat kaum-kerabat, ke tempat guru suluk (yang sudah meninggal-dunia maupun yang masih hidup), dan pengertian yang sebagian orang memahaminya dengan makna ziarah kubur. Tujuannya adalah sebagai ingatan, baik ingatan pribadi maupun ingatan kolektif; meneguhkan iman untuk menyucikan diri.

Kubur disebut juga dengan pusara atau pesara. Di atasnya dibuat batu nisan yang ditulis nama yang meninggal, tanggal lahir dan tanggal kematian beserta tahunnya, dan yang lengkap sampai kepada hari lahir dan hari meninggal-dunianya. Selain tulisan nama, tanggal lahir dan tanggal kematian beserta tahunnya, di batu nisan, biasa juga ditulis kalimat kenangan, terutama berbentuk sajak, tulisan singkat tentang orang yang meninggal-dunia pada batu nisan orang yang dikubur, atau kalimat berbentuk puisi, yang disebut dengan epitaph (epitaf). Epitaf tertua di Indonesia dalam bahasa dan huruf Melayu terdapat di Minje Tujoh (Aceh), setelah Batu Tersilah di Terengganu pada abad ke-14 (tepatnya 1300 Masehi) yang menurut terjemahan C Hoykaas sebagai:

Setelah Hijrah Nabi kekasih yang telah wafat/ tujuh ratus delapan puluh satu tahun/ bulan Zulhijjah empat belas hari Jumaat/ raja iman rahmat Allah dari baginda/ dari keluarga Barubasa mempunyai hak atas Kedah dan Pasai/ menaruh di luat dan darat semua/ masuklah baginda dalam surga Tuhan. Hasan Junus mencatat epitaph pada pusara seorang penyair Portugal Luís de Camões: Aqui jaz Luís de Camões: Príncipe dos poetas de seu tempo: Viveu pobre e miseravelmente, a assim morreu o anno MDLXXIX (Di sini berkubur Luis de Camoes: Raja penyair di zamannya: Hidupnya miskin dan menderita, dan demikianlah ia meninggal-dunia tahun MDLXXIX).



Ahmad Baqi (alm), pencipta lagu bernuansa Islami, pimpinan Orkes Gambus El-Surayya Medan, menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Pusara Kasih”. Ketika saya masih di sekolah dasar (SD), lagu ini sangat terkenal terutama disukai oleh orang paruh baya ke atas di kampung sepanjang aliran Rokan; bahkan orang yang berusia agak dewasa juga kenal dan suka dengan lagu ini, hal ini mungkin karena belum banyak kaset (waktu itu) lagu-lagu “anak muda” seperti yang beredar sekarang ini.

Kalau bersendirian mendengar lagu ini, di rumah melalui tape recorder (ketika masa  itu), atau seperti kawan-kawan saya sewaktu masih sekolah dasar (SD) atau sekolah menengah pertama (SMP) yang tinggal di perbatasan Kecamatan Tambusai Riau dan Kecamatan Sosa Sumatera Utara yang membawa tape recordernya yang masih dihidupkan dengan batu baterai, keliling kampung dan membunyikan lagu “Pusara Kasih” ini, lamat airmata tak terasa akan jatuh menetes.

Kehebatan lagu “Pusara Kasih” ini mempuyai lirik yang baik dan bagus, sebagaimana yang selalu diucapkan oleh Al azhar (sekarang Ketua Harian Lembaga Adat Melayu Riau, LAM) dalam perbualan ketika kantornya masih di Bandar Serai sebagai Ketua Harian Yayasan Bandar Serai. Bait lirik lagu ini berbentuk pantun “yang sempurna”, yakni tidak ada sampiran, tetapi semuanya isi, namun berbentuk pantun; kalau mau meteliti lagu-lagu karangan Ahmad Baqi ini, akan dapat dilihat bahawa semuanya berbentuk pantun yang semuanya isi. Karena itu, ilmu pengetahuan kita tentang makna dan bentuk “pantun” barangkali perlu diadakan kaji-ulang. Mendengarkan lirik lagu “Pusara Kasih” ini seperti sebuah lukisan atau sebuah in-focus di depan mata yang membangkitkan kenangan lama, terutama yang berusia 40 tahun ke atas ketika tulisan ini dibuat. Seperti apakah lirik lagu “Pusara Kasih” yang dilupakan orang itu atau seperti hilang dari kenangan orang itu? Bait-bait lirik lagu ini sebagai:

 
Di bawah lambaian pohon selasih
Di lingkung alam samar redup
Di sana kiranya wahai kekasih
Tempat istirahat di akhir hidup

Sunyi dusun sejak kau tinggalkan
Sepi tepian sejak kau pergi
Rumput bersusun di tengah laman
Alam keliling menghiba hati

Betung yang rampak lampai di hulu
Kinilah rebah ke tepian
Kampung yang nampak ramai dahulu
Kini hanya tinggal kenangan

Sentana daku menutup mata
Pintaku teman mohon sampaikan
Agar jasadku dibawa serta
Pusara kasih mohon rangkaikan
 
Mohon siramkan setitik air
Taburkan atasnya bunga rampai
Pahatkan nisan serangkum syair
Keluh pujangga kasih tak sampai

Lagu “Pusara Kasih” karya Ahmad Baqi ini tidak hanya mempunyai liriknya yang bagus, tetapi dengan melodi lagu yang mempunyai tiga jenis tempo, meskipun mempunyai aliran masri yang terkenal ketika Umi Kaltsum masih hidup dan jaya, namun jika diteliti lebih mendalam, lagu-lagu Ahmad Baqi adalah persebatian antara Arabic scale (terutama masri) dan Melayu Scale. Oleh itu juga-lah Ahmad Baqi dan Orkes El Surayya-nya sering diundang sampai ke Malaysia dan Brunei Darussalam; bahkan Ahmad Baqi ditawari oleh Kerajaan Brunei untuk tinggal di Brunei dengan tawaran gaji yang ia tulis sendiri, namun ia memilih tinggal di Medan dan meninggal-dunia di kampung halamannya sendiri, barangkali Ahmad Baqi menganut paham “Hujan emas di kampung orang, hujan batu di kampong sendiri, biarlah di kampong sendiri”.

Hari raya tiba, semua orang merindukan pulang ke kampung, mengunjungi orang-tua, mengunjungi sanak-saudara, kaum-kerabat, sahabat waktu kecil. Lepas sembahyang subuh pada hari raya dipotong ketupat dibuat lontong dan dimakan bersama-sama keluarga; pergi ke tanah-lapang memakai baju baru untuk sembahyang. Namun, jika tak ada duit untuk pulang kampung untuk bulimau, mandi balimau, petang megang, balimau kasai, atau berhari raya; baiklah dengarkan kembali lagu Ahmad Baqi, Pusara Kasih, biar lepas rindu pada kampung halaman, biar lepas kenangan ketika masih muda di kampung; tetapi jika titik airmata janganlah salahkan saya.***

Zuarman Ahmad
, pemusik, composer, arranger, pensyarah/ pengajar musik Akademi Kesenian melayu Riau (AKMR), penulis cerita-pendek, Wapimred Majalah Budaya Sagang, penerima Anugerah Seniman Pemangku Tradisi Prestasi Seni/Musik 2005, Penerima Anugerah Sagang 2009, dan Ketua Orkes Gambus Ikhwanusshofa Pekanbaru.