(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Menggelorakan Sastra Melayu di Langit Eropa

Sastra Senin, 01 Juni 2015
 Menggelorakan Sastra Melayu di Langit Eropa

Fakhrunnas MA JabbarNALCO (Institut National des Langues et Civilization Orientales)–Institut Nasional Bahasa dan Kebudayaan Timur, Paris (Prancis) merupakan sebuah perguruan tinggi terkenal di Eropa. Di kampus ini diajarkan 80 bahasa dunia termasuk bahasa yang hampir punah seperti bahasa Swahili. Hal yang menggembirakan, bahasa dan sastra Indonesia termasuk salah satu yang diajarkan di sana.

Institut inilah yang mengundang saya selaku sastrawan dan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR) dan penyair Ramon Damora (Ketua PWI Provinsi Kepulauan Riau) selama sepekan (13-17 April 2015) untuk mengajar, berceramah dan diskusi serta membaca puisi dan cerpen bagi para mahasiswa, dosen dan peminat sastra Indonesia di Kota Paris.

Koneksitas dengan pihak INALCO ini diawali saat pertemuan saya dengan salah seorang dosen seniornya, Dr Etienne Naveau pada acara Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) V di Jambi tahun lalu. Perkenalan saya–juga para sastrawan Indonesia lainnya diperantarai kritikus sastra Maman S Mahayana. Semua sastrawan yang diperkenalkan dengan Dr Etienne memiliki peluang sama untuk mendapatkan menjalin  kerja sama di bidang sastra. Etienne yang pernah menjadi dosen tamu Universitas Indonesia (UI) dan  fasih berbahasa Indonesia ini kebetulan saja sedang menghimpun puisi-puisi bentuk soneta yang pernah ditulis oleh penyair Indonesia. Salah satu sastrawan yang proaktif mengumpulkan soneta-soneta itu dan terus berkomunikasi dengan Etienne di Prancis adalah Soni Farid Maulana, penyair dari Bandung. Soni merupakan sastrawan  Indonesia pertama yang diundang oleh pihak INALCO untuk berbagi pengalaman di sana.

Saya berkomunikasi  lanjut dengan Dr Etienne setelah memberikan buku cerpen Ongkak yang kemudian diminatinya karena kekayaan nilai-nilai lokalitas Melayu. Sewaktu Etienne melakukan perjalanan ke Indonesia untuk keper luan penelitian dan kegiatan ilmiah lain, saya sempat bertemu Etienne di Jakarta. Sejumlah buku puisi dan cerpen saya yang pernah terbit saya serahkan sesuai permintaannya.

Ketertarikan Etienne terhadap karya-karya sastra saya yang sarat dengan muatan ke-Melayuan ternyata membuka pikiran Etienne untuk mengenalkan lokalitas Melayu itu pada mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia di INALCO. Kesempatan itu terbuka buat saya ketika Etienne menawarkan saya untuk mengajar dan berceramah di kampusnya dengan fokus bahasan tentang sastra Melayu –termasuk Melayu Riau yang sejak dulu ditahbiskan sebagai ‘Negeri Sahibul Kitab’ oleh Amarzan Loebis, wartawan majalah Tempo.

Beberapa bulan sebelum keberangkatan, saya memperkenalkan  sastrawan angkatan muda  dari Kepulauan Riau (Kepri) yang juga memiliki lokalitas Melayu yang kuat, Ramon Damora kepada Etienne. Apalagi, Ramon rupanya juga seorang penyuka soneta dan memiliki sejumlah puisi-puisi soneta. Etienne tertarik dan jadilah undangan di INALCO itu kami perankan berdua secara saling mengisi.

Minat Besar Mahasiswa.

Sewaktu saya dan Ramon secara bergantian mengajar di ruang kelas jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang didampingi oleh Dr Etienne, tampak jelas besarnya minat para mahasiswa untuk mengetahui dan mendalami Sastra Melayu. Apalagi kecenderungan selama ini berdasarkan cerita Etienne, para mahasiswa dan peminat sastra Indonesia lebih mengenal sastra Indonesia di Pulau Jawa (Jawa, Sunda dan Bali).

Pada perkuliahan awal di depan para mahasiswa yang dominan asal Prancis, saya memaparkan, sastra  Indonesia memiliki kekayaan khasanah dan genre yang sangat beragam. Setiap genre itu mempunyai  kekuatan dan daya tarik yang luar biasa. Situasi ini dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia berlangsung sejak masa Klasik, Pujangga Lama, Pujangga Baru hingga masa kini. Sedangkan khusus mengenai Lokalitas Melayu itu pernah diangkat dalam karya-karya puisi mantera Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Taufik Ikram Jamil dan prosa BM Syamsuddin, saya sendiri dan sebagainya.

Sementara Ramon Damora mengungkapkan lokalitas Melayu bagi para sastrawan di Tanah Melayu sudah begitu akrab sejak dulu. Oleh sebab itu, ketika para sastrawan melahirkan karya-karya sastra modern seperti sonta yang terikat dengan baris dan bunyi, tidak menjadi kendala apa-apa. Ramon mencontohkan pantun Melayu lama yang berbunyi “Raja zalim raja disembah, raja zalim raja disanggah” sebagai kekayaan khasanah lokal Melayu. Namun, di era kekinian, pantun-pantun lama itu bisa saja dimodifikasi menjadi ungkapan-ungkapan yang bermuatan lokalitas.

Baca Puisi dan Cerpen
Keberadaan saya dan Ramon Damora selama berada di Paris dipertemukan pula dengan para sastrawan, mahasiswa dan dosen serta peminat sastra Indonesia. Acara yang digelar di sebuah ruang pertemuan INALCO, 16 April 2015. Acara yang dipersiapkan oleh Dr Etienne Naveau untuk kami berupa baca puisi dan cerpen serta wawancara yang berhubungan Sastra Melayu khususnya di Riau.

Etienne didampingi oleh Mira Naveau dan dosen INALCO asal Indonesia lain, Dina Sumantri yang berperan menerjemahkan apa yang disampaikan Etienne dalam bahasa Prancis kepada kami. Hal ini memudahkan kami untuk memahami apa yang diungkapkan Etienne termasuk tanya jawab dengan hadirin yang bertanya dalam bahasa Indonesia terbata-bata  atau kami jawab dengan bahasa Indonesia dan Inggris.

Etienne Naveau menyampaikan pembacaan puisi dan cerpen Fakhrunnas dan Ramon yang sama-sama berasal dari kultur Melayu sangat berarti bagi publik Prancis. Puisi dan cerpen khas Melayu merupakan suatu kekayaan khasanah sastra yang belum banyak diketahui peminat sastra  Indonesia di Prancis.

Kesungguhan kami dalam mempersiapkan penampilan itu dilakukan dengan latihan berkolaborasi dengan sejumlah mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia INALCO yang pandai memetik gitar dan perkusi. Ada Ony, Lenny dan Isadora Pichou.

Mengawali penampilan, saya diminta membacakan beberapa bait Gurindam 12 karya Raja Ali Haji dengan gaya bersyair. Ini menjadi penting bagi para audiens untuk menunjukkan gurindam merupakan salah satu bentuk sastra Melayu lama yang masih hidup dan berkembang di Tanah Melayu Riau dan Kepri hingga saat ini.

Setelah itu, pembacaan puisi ini disandingkan dengan puisi Gurindam 12 Kehancuran yang saya tulis lebih 20 tahun lalu dalam bentuk modern dan bebas. Etienne yang memberikan narasi dalam bahasa Prancis untuk setiap penampilan baca puisi ini menjelaskan, gurindam pun dimungkn untuk dilakukan modifikasi-modifikasi sesuai dengan perkembangan masa. Sepanjang tidak mengubah struktur bentuk dan barisnya.

Selain itu, saya membacakan puisi   Riau Extravaganza dengan gaya rap diiringi pukulan perkusi di punggung gitar oleh para mahasiswa tadi. Suasana ini tampak cukup interaktif dengan audiens. Setelah itu ada pula puisi  Selat Melaka dan Tanah Airku Melayu. Waktu membacakan Puisi Riau dengan gaya rap, Fakhrunnas diiringi dengan music perkusi-gitar.

Sementara  Ramon Damora membacakan puisi karya Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri (SCB) dan puisi sendiri dengan gaya musikalisasi melibatkan mahasiswa INALCO, Ony dan Elza. Di antara puisi SCB yang dibacakan  antara lain Pot dan Tapi dan puisi Ramon sendiri adalah Soneta Sudah Mati dan Sonet/Monnet.

Hal menarik dari penampilan Ramon terkait kemampuannya menggubah irama lagu sendu sesuai dengan iringan gitar Ony dan Lenny yang memukau. Suasana semakin cair dan akrab. Audiens juga larut dalam dendang dan bacaan puisi Ramon berkolaborasi dengan para mahasiswa.***

 

Fakhrunnas MA Jabbar, Sastrawan dan  dosen Faperta UIR