Pak Tenas Itu, Seperti Pancang Nibung, di Tengah Surut Berdengung

Tenas Effendy

Sahabat Kamis, 10 September 2009
Tenas Effendy

Di ujung jalan Durian ada simpang tiga, dan ada sebuah rumah yang letaknya persis di ujung jalan itu. Kata orang tusuk sate. Di rumah itulah untuk pertama kali saya berkenalan dengan Pak Tenas Efendi. Orang yang wajahnya senantiasa bersih dan penuh senyum. Saya ke rumah itu, suatu hari, sekitar tahun 80-an untuk bertemu dengan Ibrahim Sattah (kini alm), dan Hasan Junus. Di rumah itu, yang waktu itu disewa Ibrahim Sattah, dijadikan sebuah kantor usahanya, dalam bidang penerbitan. Sedangkan Hasan Junus, kumpul disitu karena membantu Ibrahim sebagai salah seorang editor (penyunting) naskah buku-buku yang diterbitkan oleh Ibrahim. Sedangkan Pak Tenas Efendi, juga menjadi salah seorang editor disana. Saya dan Ibrahim, serta Hasan Junus, memang pernah bersama-sama hidup bersastra-sastra di Tanjungpinang. Kemudian, Ibrahim Sattah yang polisi itu, pindah ke Pekanbaru dan meneruskan usaha penerbitan dan percetakan disana. Dan ketika saya punya kesempatan ke Pekanbaru, dalam kapasitas sebagai wartawan, saya mampir disana. Ngobrol dan bertemu dan kenalan dengan Pak Tenas.

Awal-awalnya, saya memang hanya mengenal Pak Tenas sebagai seorang budayawan. Menulis berbagai naskah tentang budaya tradisional Melayu Riau. Tetapi secara pribadi amat jarang bertukar pikiran. Tetapi beberapa tahun kemudian, ketika saya menetap di Pekanbaru, dan menerbitkan harian Riau Pos, saya mulai banyak bertemu dan berdialog dengan beliau. Apalagi setelah beliau jadi Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR). Kami sering bicara dan bertukar pikiran, bagaimana upaya memajukan Riau, khususnya memajukan masyarakat Melayu Riau. Bagaimana mempertahankan keberadaan budaya Melayu, melestarikan,dan mengembangkannya.

Dalam konteks memahami dan membangun kebersamaan untuk memajukan masyarakat Melayu itulah, saya melihat, posisi Pak Tenas yang sangat kukuh. Dia menjadi salah seorang tokoh Melayu yang sangat disegani, didengar pendapatnya, dan intens membangun komunikasi dengan berbagai tokoh Melayu lainnya, baik di Riau, di Jakarta, maupun dengan para tokoh Melayu di Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Interaksi pemikiran dengan Pak Tenas bisa berjalan baik, karena Pak Tenas mengembangkan sikap yang sangat terbuka. Saya jadi teringat salah satu pendapat tokoh Melayu Malaysia yang juga seorang budayawan, yaitu Prof Thaib Othman, bahwa kebudayaan Melayu itu seperti sebuah lemari besar, di mana ke dalamnya berbagai kebudayaan lain bisa masuk dan disimpan di sana. Berinteraksi dan menyatu. Dan pak Tenas seperti itulah. Sikapnya yang dialogis, terbuka, mau menerima pendapat dari manapun, membuat dia diterima oleh berbagai pihak. Pikirannya direspon dan ajakannya selalu disambut dan dilaksanakan secara tulus. Namun, sikapnya terhadap suatu persoalan, sangat jelas dan kukuh. Jika menyangkut masalah yang prinsip, dia bak pancang nibung di tengah surut berdengung. Tak bergeming. Akomodatif, tapi prinsipil.

Dia juga bukan tokoh yang hanya bicara. Dia berbuat dan melahirkan karya-karya yang jadi panduan jika orang ingin memahami filosofi hidup dan adat istiadat Melayu. Bukunya Tunjuk Ajar Melayu, jadi referensi dan dikutip oleh berbagai kalangan yang ingin tahu tentang budaya Melayu serta adat istiadatnya. Bukunya Bujang Tomang, bukan main bagusnya, karena ditulis dengan semangat seorang budayawan dan mengangkat permasalahan hidup dan kehidupan serta tradisi orang-orang Melayu. Itu sebab, Yayasan Sagang yang saya pimpin, memilih beliau sebagai salah seorang penerima Anugerah Sagang.

Pak Tenas juga sangat memperhatikan masalah hubungan antara para pemimpin daerah di Riau, khususnya yang berasal dari Putera daerah. Jika di antara mereka terjadi konflik kesepahaman dan juga kepentingan, Pak Tenas segera menjadi risau, dan berupaya merujukkan mereka, menyatukan pikiran, dan membangun kembali silaturrahmi. Dan saya pernah terlibat cukup intens dalam kaitan pertelingkahan prinsip dan sikap kepempinan para tokoh Melayu Riau itu. Salah satunya, ketika diawal-awal pelaksanaan Otonomi daerah di Riau, terjadi sedikit ganjalan dan miskomunikasi antar elit pemerintahan di Riau. Kami berdua coba menyiapkan forum untuk mempertemukan mereka dan coba membuka wacana untuk mempersatukan dan mengajak mereka berpikir jauh ke muka dan membangun satu kekuatan bersama untuk memajukan Riau. ?Apalagi yang kurang pada kita. Hampir semua kepala daerah adalah putera-putera terbaik Riau. Sumber dana pembangunan cukup besar, baik di propinsi, maupun di kabupaten. Tapi kenapa kita tak bisa bersatu dan menyatukan kekuatan itu?? Begitu alur pikir saya dan Pak Tenas. Maka kami sepakat mengadakan forum silaturrahmi para tokoh dan pemuka masyarakat Riau dan membangun dialog disana. Forum itu kami adakah di gedung Balai Adat Riau di Pekanbaru dan mengundang Gubernur Riau (waktu itu Pak Saleh Djasit), Ketua DPRD Riau (waktu itu Pak Chaidir), semua para bupati, wali kota dan tokoh masyarakat lainnya. Kami minta mereka bicara tentang hari depan Riau dan masyarakat Melayu dan apa yang menjadi komitmen mereka. Maka bicaralah mereka, antara lain adalah Pak Saleh Djasit, sebagai Gubernur Riau, Pak Chaidir, Ketua DPRD Riau, Pak Rusli Zainal, mewakili para Bupati di Riau, Al Azhar mewakili generasi muda Melayu Riau, dan tentu saja Pak Tenas sebagai Ketua Umum Lembaga Adat Melayu Riau dan saya sebagai penggagas acara.

Pertemuan berjalan baik, terjadi dialog, meskipun setelah itu, seperti biasa, pemikiran-pemikiran yang bernas itu, akhirnya, tersimpan lagi dalam laci-laci kehidupan, dan memerlukan waktu lagi untuk membuka laci, membulak baliknya, dan mendialogkannya lagi dimasa datang. Namun bagaimanapun, forum itu berhasil mencairkan segumpal es batu yang sedang membeku yang sedang mencoba menjadi bola salju, yang kalau dibiarkan dan tidak diingatkan, akan menjadi sesuatu yang merugikan masyarakat Melayu di masa depan. Memang, seorang teman sempat berbisik. ?Ini, kalau melihat yang bicara, tampaknya sudah dimulai kampanye calon Gubernur yang akan datang,? katanya. Memang waktu itu, menjelang akhir jabatan Pak Saleh Djasit, sebagai Gubernur Riau. Yang dia maksud, kandidat yang sudah mulai dielus dan diberi kesempatan bicara tentang visi Riau kedepan itu, adalah Pak Saleh sendiri, Pak Chaidir, dan Pak Rusli Zainal. Dan saya bilang, "Tak apalah, kan itu jago-jago terbaik sekarang yang kita punya."

Begitulah, antara lain, Pak Tenas membangun komunikasi dengan berbagai pihak, dalam upaya menjaga kebersamaan para tokoh pemimpin Melayu di Riau, para pemimpin daerah, agar apapun persoalannya, bisa diselesaikan dengan cara dan filosofi budaya Melayu. Inilah yang saya katakan, bahwa Pak Tenas itu, seperti pancang nibung, disurut berdengung. Kukuh, tapi dinamis. Prinsipil, tapi terbuka. Dan konsekuen atas apapun yang sudah diputuskan. Dan selalu mampu menjaga keseimbangan dengan budaya-budaya lain.

Saya pikir, kita memang memerlukan banyak lagi tokoh dan sosok kepemimpinan seperti Pak Tenas ini, agar kita senantiasa merasa sejuk dan nyaman dalam membangun wacana pemikiran dan membangun masa depan. Tampil dengan pikiran-pikiran yang jernih, bernas, dan sistimatis, seperti yang selalu beliau perlihatkan dalam berbagai forum. Menyampaikan pikiran dengan gaya yang lembut, tapi tajam dan kritis. Tangkas dalam menjawab berbagai pertanyaan, yang bahkan menggugat, dan menyimpulkan segala permasalahan dengan arif dan singkat. Nyaris hanya dalam satu dua pantun, sudah jelas apa yang dia maksud. Handal memang!

Tulisan ini merupakan catatan ringan untuk Buku Biografi Bapak Tennas Effendie. (Pekanbaru, penghujung Agustus 2005)


Related Post