Nominator Rida Award 2010

Melongok Kehidupan Warga Transmigran di Rawa Kolang, Tapeng (1)

Jurnalistik Jumat, 27 Agustus 2010
Melongok Kehidupan Warga Transmigran di Rawa Kolang, Tapeng (1)
Jalan berlumpur menuju ke Rawa Kolang ( Sumber : http://dameambarita.wordpress.com )

8 Tahun Bertahan di Lahan Bekas Rawa, Ubi pun Ogah Berbuah

Sudah delapan tahun lebih lamanya, ratusan warga transmigran mencoba bertahan hidup di Rawa Kolang, Tapanuli Tengah. Tahun-tahun pertama, semangat ‘bertarung’ melawan kerasnya alam di atas lahan gambut itu masih membuncah. Tahun kedua, puluhan keluarga menyerah dan memilih hengkang. Awal 2009, tinggal 40-an KK yang bertahan. Itupun karena tak punya pilihan yang lebih baik.

DAME AMBARITA,  RAWA KOLANG

Rawa Kolang! Dari namanya yang mengandung kata rawa, bisa ditebak kalau daerah itu dulunya bekas rawa. Tebakan itu benar. Dulu kawasan seluas 300 hektare yang oleh Negara dikeringkan menjadi lahan transmigrasi, memanglah bekas rawa. Jaraknya dari Kota Sibolga sekitar 30 Km. Dari jalan besar Kecamatan Kolang (pertengahan Sibolga-Sorkam), sekitar 5 km masuk ke pedalaman. Kawasan ini dibuka tahun 2000 sebagai lahan transmigrasi.

METRO didampingi Edy Saputra, seniman sekaligus Bapak Pembina Anak Sekolah Lokal Jauh di Rawa Kolang, Kamis (22/1) empat hari lalu sekitar pukul 10.00 WIB, mendatangi warga transmigran di daerah itu, naik sepeda motor. Dari Kota Sibolga ke Kolang, jalan beraspal relatif cukup baik dilalui sepeda motor, meski ada kupak-kapik di sini. Tetapi sekitar 2 km dari jalan besar menuju Rawa Kolang, kondisi mulai berat, dengan batu-batu kasar yang menutupi, serta kerikil-kerikil yang terlepas dari ikatan aspal yang aus dihantam alam. Meski demikian; kendaraan roda dua yang dikendarai METRO masih mampu melaju cukup lancar. Di tengah jalan, METRO melalui jembatan papan yang di bawahnya mengalir air warna kehitam. Hitam parit busuk!

Usai jalan yang ditutupi batu-batu kasar, rute mulai berat. Jalan tanah menanti untuk dilalui. Kebetulan saat METRO bersama Pak Edy berkunjung, hujan baru saja turun semalaman. Alhasil, jalan tanah yang bergelombang-gelombang di sana-sini penuh air. Tak terhindarkan, sepeda motor kerkadang masuk ke kolam kecil di jalan dan harus didorong agar bisa keluar. Celana jeans yang dikenakan pun berhias cipratan lumpur merah. “Hahahaha…berat ya? Pertama kali aku ke sini, aku pun pernah berfikir, bersahalian ma on (cukup sekali ini saja, Red) aku datang ke sini,” celoteh Pak Edy sambil ngakak, dan lalu menjelaskan, sebenarnya kalau hari sedang tidak hujan, perjalanan tidak separah itu. METRO hanya bisa ikut tertawa miris.

Jalan sepi. Maklum, sudah jauh dari kota. Desa terdekat, yakni Aek Badan sudah 2 km di belakang. Pohon pinang mendominasi areal pinggir jalan. Matahari terik. Udara terasa panas menyengat. Semakin memasuki kawasan lahan transmigrasi UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi) SP tiga Rawa Kolang, cuaca semakin panas. Saluran irigasi tampak berisi air berwarna coklat kehitaman.

Setelah sekitar satu jam lebih berjuang di atas sepeda motor, akhirnya perjalanan tiba juga di areal pemukiman transmigran, persis beruka SP tiga Rawa Kolang. Rumah-rumah transmigran berukuran 5 x 6 mulai terlihat satu-satu, dengan jarak sekitar 50 meter tiap rumah. Di suatu lokasi yang terlihat ada sejumlah bangunan dari kayu yang sebagian sudah miring, Pak Edy berhenti. METRO ikut berhenti.

Di tempat itu, sejumlah laki-laki tampak duduk di sebuah rumah semacam kedai. Di depan kedai itu, dipisahkan oleh jalan tanah, berdiri sebuah bangunan sekolah. Ke salah satu ruang kelas di gedung sekolah itulah  kami datang, disambut oleh dua orang guru yakni Bu Lestari dan Pak Tosari, didampingi Kepala Sekolah AR Silalahi, dan Kepala UPT SP 3, Safari.

“Inilah Sekolah Lokal Jauh yang ada di wilayah trans ini,” jelas Pak Edy kepada METRO, lantas menyapa murid-murid dengan nada akrab. “Apa kabar? Tanyanya.

Anak-anak kelas 1 SD di kelas itu berdiri dan mengucapkan salam.

“Salam Pak Edyyy…,” sapa anak-anak manis.

Tak berapa lama, sejumlah bapak-bapak dari kedai itu pun ikut msuk ke ruangan kelas. Waktu menunjukan pukul 10.30 WIB.

Dalam pertemuan yang berlangsung informal itu, terungkap kalau warga transmigran di Rawa Kolang khususnya di SP tiga (SP 1 dan SP 2 tidak dikunjungi METRO, Red), awalnya berjumlah 150 KK. Sekitar 100 KK adalah translok (transmigrasi local) yang terdiri dari warga suku Batak dan Nias sekitar Kolang. Sekitar 35 KK transmigran dari Jawa Timur. Dan 15 KK pengungsi asal Aceh.

Awalnya, setiap KK mendapat dua hektare tanah yang terletak terpisah di tiga lokasi, yakni setengah hektare di lahan I (kebun), setengah di lahan II (pemukiman), dan satu hektare di lahan III (perkebunan). Selain mendapat lahan dua hektare, masing-masing KK juga mendapat rumah papan ukuran 6 x 6. Selain itu, masih di tahun pertama, kebutuhan pangan mereka ditanggung pemerintah, seperti beras, ikan asin, minyak goreng, kecap, garam, sabun, dan lainnya.

“Awalnya, kami dijanjikan pemerintah lahan siap tanam. Namun, saat kami datang, lahan memang sudah dibuka tapi batang-batang kayu masih malang melintang di atas lahan. Kami yang harus membersihkan,” jelas Handar Sitompul (60).

Meski lahan tak sesiap yang dijanjikan, warga tetap bersemangat memulai hidup baru di dalam trans. Tanah-tanah pun digarap. Diawali dengan lahan sekitar pemukiman. Handar Sitompul misalnya, mengaku mencoba menanam 700 pokok pisang. Eh, ternyata semua mati karena tergenang air coklat kehitaman. “Apapun ditanam pasti gagal, baik itu cabe, pisang, pepaya, dan lainnya. Kencur ditanam satu hektare, busuk semua,” terangnya.

Menimpali Sitompul, rekannya Kasman Laoly mengatakan, ubi pun ditanam tak berbuah. “Konon lagi berbuah, berdaun pun, tidak,” katanya.

Ia menjelaskan, pertanian umumnya gagal di Rawa Kolang, selain karena PH (derajat kesamaan) tanahnya yang terlalu asam, juga karena sistem irigasi yang tidak lancar, menyebabkan air tergenang di parit-parit. Jika hujan turun deras, air meluap dan mengenangi lahan-lahan kebun warga, hingga tanaman rusak dan busuk semua. “Tahun pertama, masih banyak yang bertahan tinggal di lahan transmigrasi ini, karena kebutuhan kami masih ditanggung pemerintah. tetapi tahun kedua, kebutuhan kami tak lagi ditanggung, sementara pertanian gagal terus. Mau makan apa? Tak heran banyak yang pilih keluar dari sini,” cetusnya.

Ditengarai pada tahun ke dua, keluarga yang pindah sudah mencapai 80-an  KK. Jumlah itu terus bertambah secara bergelombang. Apalagi, sejumlah sarana dan prasarana di lokasi sama sekali tak memadai. “Sekolah tak ada, Puskesmas tidak ada, sarana tranportasi tidak ada. Dan banyak lagi,” cetusnya getir.

Memang, terangnya lagi, pemerintah melalui Kanwil Transmigrasi, ada memberikan bantuan berupa bibit kelapa, sawit, pupuk, bahkan bibit ternak berupa ayam, dan lainnya. Namun bantuan hasilnya bersifat jangka panjang, sementara perumahan diisi setiap hari.

“Sekarang ini, kebanyakkan hidup dan menjadi buruh lepas di Kecamatan Kolang sampai Sibolga. Ada juga menjadi pedagang. Banyak lahan yang terlantar karena tidak dikerjakan. Soalnya dikerjakan pun hasilnya tidak ada,” jelasnya


Related Post