Menyusuri Kampung Sepanjang Batang Sebayang di Kampar Kiri Hulu

Negeri yang Belum Pernah Diinjak Ban

Jurnalistik Selasa, 22 Februari 2011
Negeri yang Belum Pernah Diinjak Ban

Karya pilihan erdeka.com. Tulisan ini menjadi penerima Dahlan Iskan Award 2011 Kategori Tulisan Jurnalistik


Siang menjelang senja di Pelabuhan Gema, Kampar Kiri Hulu. Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB. Sebagian orang sibuk memuat barang-barang di beberapa perahu yang tengah bersandar di pelabuhan. Sebagian lagi asyik berbual-bual di bangku kayu di los penjual ayam. Pelabuhan Gema persis terletak di dekat pasar. Selain para pedagang yang sibuk dengan perniagaan, beberapa mobil angkutan umum berupa superban menurunkan penumpang yang hendak melanjutkan perjalanan lewat sungai. Sejumlah penumpang duduk mencangkung di tangga menuju dermaga, menunggu perahu siap diberangkatkan.

Laporan PURNIMASARI, Tanjung Beringin

purnimasari@riaupos.com


Di tepi Pelabuhan Gema, sejumlah perahu yang ditambatkan telah termuat penuh oleh barang-barang. Sebagian besar isinya adalah bahan makanan. Barang-barang itu disusun sedemikian rupa agar seimbang ketika dinaiki penumpang. ‘’Arusnya cukup deras, jadi hati-hati, duduk tenang,’’ ujar Rustam, pengemudi perahu yang membawa kami.

Tak lama, mesin robin pun dihidupkan. Sebenarnya, robin adalah merek mesin yang dipakai di perahu. Selain robin, merek lainnya yang biasa dipakai adalah johnson. Namun, penduduk tempatan kadang lebih suka menyebut nama angkutan perahu mereka dengan robin. Cuaca seketika menjadi teduh ketika kami mulai naik ke atas perahu. Awan berpusing dan desau angin mengiringi perjalanan kami menyusuri Batang Sebayang.

Gema adalah ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Jaraknya kurang lebih 100 kilometer dari Pekanbaru ke arah Lipat Kain. Persis menjelang jembatan Rakik Godang di jalan lintas Lipat Kain-Telukkuantan, ada simpang belok kanan, itulah jalan menuju Gema. Jika kita menemui jalan bercabang, maka pilihlah arah ke kiri. Sebab jalan lurus adalah arah menuju ke Kampar Kanan. Menjelang sampai ke Gema, kita akan melewati sejumlah kampung seperti Domo, Kuntu Darussalam, dan Sungai Liti. Di awal masuk dari simpang jembatan Rakik Godang, kondisi jalan relatif mulus meski lebarnya kurang memadai. Ketika Riau Pos sampai ke sana akhir Oktober lalu, di beberapa bagian jalan sedang diperbaiki dan alat berat tengah bekerja.

Baru beberapa menit meninggalkan Pelabuhan Gema, kebuasan Batang Sebayang mulai terasa. Tipikal sungainya cukup unik. Meski terlihat cukup lebar, ternyata tidak semuanya bisa dilalui oleh perahu. Sekejap dalam, sebentar dangkal. Ketika dalam, air beriak agak tenang. Tetapi saat dangkal, air berarus deras. Di beberapa tempat, arus air berpusing sangat cepat. Inilah yang harus dihindari pengemudi agar perahunya tak pecah. Dalam dan dangkal serta deras yang seperti datang tiba-tiba itu membuat kita seperti sedang melalui arung jeram. Di beberapa tempat, bebatuan cadas hadir mencumbui sungai. Bahkan tak jarang bebatuan ini mendongak hingga melebihi permukaan air. Gema memang merupakan salah satu tempat penambangan batu gamping. Namun, airnya yang sejuk sungguh jernih dengan dasar yang penuh bebatuan serta pasir. Warna airnya hijau toska sehingga kawanan ikan yang berenang-renang sungguh mudah dilihat.  

Jika kita berangkat dari Pelabuhan Gema, di sisi kanan Sungai Sebayang adalah barisan perbukitan yang hijau. Jika makin ke hulu, Batang Sebayang semakin banyak berkelok-kelok. Ketika itu, barisan perbukitan ini pun terlihat seperti berlapis-lapis dengan kontur tinggi rendah sehingga seperti ikut melilit sungai. Sungguh benar-benar pemandangan nan molek yang menyejukkan mata dan hati.

Di bagian belakang perahu, Rustam terlihat sibuk dan konsentrasi memegang kemudi dengan tangan kirinya. Sesekali, lelaki warga Kampung Pangkalan Serai yang duduk berjongkok itu meraih gayung dengan tangan kanannya untuk menguras air yang masuk ke dalam perahu ketika menghantam gelombang. Jika kita berangkat dari Pelabuhan Gema, maka itu artinya kita menuju ke hulu dan menentang arus sungai. Karena itu, perjalanan memakan waktu lebih lama. Kesibukan Rustam kian bertambah untuk menghindari air dangkal agar robin tidak tersangkut di bebatuan dasar sungai. Tidak hanya itu, sesekali ia juga harus mendorong perahu dengan galah sepanjang kurang lebih dua meter saat tersangkut atau kandas di bebatuan.

Di sepanjang Batang Sebayang terdapat sedikitnya 24 kampung yang terdiri dari delapan kampung bagian alur kiri (hulu) dari Gema, empat kampung ke alur kanan (hilir) serta tujuh kampung yang bisa ditempuh melalui jalur darat, meski jalannya sangat memprihatinkan. Sementara itu jumlah penduduk secara keseluruhan kurang lebih sebanyak 12.784 jiwa dengan jumlah kepala keluarga (KK) di setiap kampungnya bervariasi.

Tak Ada Listrik dan Sinyal Ponsel

Jika di sisi kanan sungai adalah perbukitan, maka perkampungan penduduk ada di sebelah kiri. Setelah Gema, kita akan menemui Desa Tanjung Belit. Aliran listrik dan sinyal handphone hanya bisa didapat sampai di daerah ini. Semakin ke hulu, handphone sudah tak berfungsi sama sekali dan listrik pun tak ada. Setelah Tanjung Belit, ada kampung Muaro Bio, Batu Sanggan, Tanjung Beringin, Muara Tikun, Gajah Bertelut, Aur Kuning, Terusan, Salo (bukan Salo di Kampar Kanan, red) dan yang paling akhir adalah Pangkalan Serai. Di tiap kampung, rata-rata hanya dihuni 100-150 kepala keluarga. 

Makin ke hulu, pemandangan semakin memukau. Ketika mentari sudah semakin senja, di sepanjang kampung yang kami lewati, aktivitas warga di tepi sungai semakin ramai. Mereka, tua muda, sibuk mandi, mencuci, menangkap ikan, atau sekadar duduk-duduk di tepi sungai. Jarak antara rumah penduduk ke tepian sungai umumnya agak jauh, landai dan ditutupi pasir serta bebatuan. Budak-budak mandi bergerombol, saling bercanda dan meloncat telanjang dada dari pinggir sungai. Yang remaja, asyik bermain voli di lapangan berpasir di pinggir pantai dikelilingi jaring tinggi. 

Riau Pos turun di Desa Tanjung Beringin. Kampung tuanya ada di sebelah kanan. Namun, Riau Pos menginap di rumah M Jais (45) yang ada di sebelah kiri Batang Sebayang. Kampung baru ini persis di seberang kampung lama dan baru didiami enam rumah. Dulunya, Tanjung Beringin bernama Kampung Miriang (miring, red). Ia diganti menjadi Tanjung Beringin ketika Saleh Djasit menjabat Bupati Kampar. Perjalanan dari Gema (pusat Kecamatan Kampar Kiri Hulu) ke Tanjung Beringin memakan waktu kurang lebih 1,5 hingga 2 jam. Itupun jika tak ada halangan seperti tertabrak batu cadas atau kerusakan mesin.

Rumah Jais ada di atas bukit. Untuk mencapainya ada 63 anak tangga batu.  Istri Jais, Nirwana baru saja pulang bersama anak bungsunya, Desta Reju, usai bertandang ke rumah kerabatnya di Gunung Sahilan. Listrik masih menjadi angan-angan di kampung ini. Ketika matahari tenggelam, Nirwana menyalai lampu colok. Dengan dua pelita yang menggunakan botol kaca bekas minuman berenergi itu, kami menyambut malam. Untungnya tetangga di sebelah rumah Jais menggunakan genset, sehingga cahaya lampunya bisa sedikit menerangi teras dan halaman Jais. Jika memiliki genset, warga bisa menghidupkan televisi atau mendengarkan radio. Cukup banyak saluran televisi yang bisa diterima di sini. Namun, karena minyak untuk genset juga cukup mahal, paling-paling lampu listrik hanya menyala kurang lebih dua jam. Lepas itu, yang tersisa hanya kelam yang bersanding dengan pelita lampu colok. Kunang-kunang pun keluar di balik semak-semak ditingkahi suara katak dan konser binatang malam.

Menurut ayah Nirwana, Pak Iyai (63), ketiadaan listrik dan jalan darat memang sudah mengkungkung negeri ini sejak puluhan tahun silam. Jika kini kampung mulai sedikit terang, itu memang karena penduduknya yang membeli genset sendiri. Kalaupun tetap ingin menempuh jalan darat, yang ada hanya jalan setapak melintasi hutan dan medannya cukup sulit. ‘’Dulu, zaman Jefry Noer (mantan Bupati Kampar, red), pernah mau dibuat jalan darat di sini. Tapi tak tahu mengapa tiba-tiba berhenti begitu saja,’’ ujar Pak Iyai menyulut rokok yang mereknya agak asing terdengar.

Sebab itu, lanjut Pak Iyai, kendaraan yang menggunakan ban roda adalah sesuatu yang belum pernah menjangkau negeri ini. ‘’Jangankan ban mobil atau sepeda motor, ban kereta angin saja tak pernah sampai ke sini. Tak ada penduduk yang punya sepeda motor atau kereta angin. Karena kalau dibeli, mau dipakai di mana? Untuk berjalan-jalan di kampung, penduduk lebih suka berjalan kaki atau menggunakan perahu,’’ ujar mertua Jais itu.

Ketika ditanya apakah ia tahu siapa Gubernur Riau, wajah Pak Iyai agak sedikit ragu dan terdiam sejurus. ‘’Burhanuddin?’’ jawabnya dengan nada bertanya. Ketika dikatakan bahwa Burhanuddin adalah Bupati Kampar saat ini, wajahnya  hanya mengangguk-angguk. Ia juga masih menganggap Presiden Indonesia masih dijabat Soeharto.  

Lubuk Larangan
Lepas makan malam, kami ditemani Jais pergi memancing di hulu Tanjung Beringin. Menyusuri Batang Sebayang di kala malam ternyata menyuguhkan pemandangan alam yang tak kalah unik. Kelamnya malam ditingkahi suara mesin robin. Hutan dan semak-semak di pinggir sungai berubah jadi mozaik hitam. Kami ditemani cahaya bulan separo dan bintang gemintang yang bertaburan di angkasa. Ketika menoleh ke belakang, cahaya pelita di perkampungan penduduk seperti rombongan kunang-kunang.

‘’Kalau di kampung, tak bisa memancing, itu lubuk larangan,’’ ujar Jais. Menurut ayah dua anak ini, setiap kampung di sepanjang Batang Sebayang memiliki tradisi lubuk larangan. Di sejumlah daerah sungai yang ditetapkan sebagai lubuk larangan, penduduk apalagi orang pendatang tidak diperbolehkan mengambil ikan. Batas-batas lubuk larangan ini ditandai dengan tali cukup besar yang diikatkan di kedua sisi sungai. Jarak antara tali ke tali itulah yang akan menandakan mana yang lubuk larangan dan mana yang tidak. Itu sebabnya, jika ingin mencari ikan, penduduk di sepanjang Batang Sebayang harus pergi ke daerah-daerah sungai yang bukan lubuk larangan.

Menurut Jais, ikan-ikan di lubuk larangan hanya bisa diambil dalam kurun waktu tertentu, tergantung kesepakatan warga di kampung yang berkenaan. Ketika masa itu datang, para penduduk akan turun ke sungai bersama-sama menangkap ikan. Karena uniknya tradisi ini, tak jarang acara tersebut juga dihadiri para pejabat. ‘’Kalau di Tanjung Beringin, sudah hampir dua tahun tak ada membuka lubuk larangan. Kampung-kampung yang lain ada yang sekali setahun, tergantung kesepakatan warga. Kabarnya sebentar lagi (acara menangkap ikan di lubuk larangan). Datanglah lagi pas masa tu, ramai orang,’’ ujar pria yang bekerja sebagai penakik getah ini.

Karena hanya diambil pada kurun waktu tertentu, ikan yang ditangkap dalam acara lubuk larangan biasanya cukup banyak. Dulu, seperti dikatakan Pak Iyai, ikan-ikan sungai yang khas di Riau seperti geso, mudah dijumpai di Batang Sebayang. Sayang, karena maraknya penggunaan pukat harimau, geso sudah payah ditemukan. Kini paling-paling hanya ada ikan lemak, selais, pantau, kepiyek, kepar, udang dan lain-lain. 

Negeri di Awan
Berada di perbukitan dan dikelilingi hutan, membuat suasana malam hari di Tanjung Beringin jadi sedikit sejuk. Di pagi hari, pemandangan mempesona kembali hadir. Gumpalan kabut yang turun di sela-sela hutan dan sungai membuat kampung ini seperti negeri di awan jika kita memandangnya dari bukit. Kawanan kabut yang seperti gumpalan kapas putih itu hadir cukup lama dan turun perlahan-lahan digantikan sang surya. Kicau burung-burung adalah musik instrumentalia yang senantiasa mengalun di sana. Jika kita menjejakkan kaki ke sungai, kawanan ikan pantau akan segera menggelitik kaki, mirip terapi gigit ikan yang kini marak di mall-mall. Di mana-mana, udara terasa begitu segar.

Kami menyusuri Kampung Tanjung Beringin yang tua, di seberang rumah Jais. Rata-rata kampung di sepanjang Batang Sebayang dihuni100-150 KK. Di dalam kampung, deretan rumah-rumah sangat dekat hingga nyaris bertaut. Jalan-jalan di dalam kampung sudah disemen dengan lebar kurang lebih satu meter. Naik turun tangga mulai dari kategori sedang hingga terjal adalah hal yang biasa. Begitu pula dengan jembatan gantung. Sayangnya, jembatan gantung di Tanjung Beringin sudah mulai lapuk. Beberapa papannya sudah mulai hilang atau menganga dimakan usia.

Di Tanjung Beringin juga ada air terjun. Temulun namanya. Untuk mencapai ke sana, kita harus melewati jalan semen yang lebarnya kurang lebih hanya setengah meter. Di sebelah sisinya adalah bukit terjal dan di sisi lainnya jurang. Kami melewati pekuburan, yang sejumlah makamnya ada di bibir-bibir jurang. Bunyi kecipak air sungai yang tak jauh dari jalan mudah didengar. Tak lama kami menjumpai tangga batu yang sangat tinggi menuju sebuah pohon besar yang rindang dan ada teras semen di bawahnya, nun jauh di atas bukit. Menurut istri Jais, Nirwana, di bawah pohon rindang itulah biasanya para penduduk Tanjung Beringin melakukan makan bersama ketika doa kubur tiap 2 Syawal. Di pekuburan ini juga terdapat makam moyang mereka yakni Datuk Sati dan Datuk Dara Putih. Sayang kondisinya tidak terawat dengan baik.

Dari tangga batu yang tinggi itu, kami menyusuri jalan setapak di tebing yang curam. Medannya cukup sulit, sebab tanahnya cukup licin. Tak jarang, kita harus berpegangan pada batang-batang kayu agar tak tergelincir. Di lereng-lereng bukit yang terjal itu, kami menjumpai para penduduk yang sedang menakik getah. Kurang lebih 20 menit, terdengarlah bunyi air terjun Temulun. Letaknya seperti tersembunyi di tengah rerimbunan pepohonan. Kawanan batu-batu besar di bawahnya menimbulkan bunyi air yang menenteramkan.

Hidup dengan Menakik Getah
Di pagi hari, kampung-kampung terlihat sepi. Yang ada hanya anak-anak, orang tua dan kaum hawa. Para lelakinya sibuk ke kebun menakik getah. Tak jarang, para perempuan juga ikut menakik. Kumpulan getah buku yang sudah diikat satu sama lain dan direndam mudah ditemui di anak-anak sungai Batang Sebayang. Nanti, getah buku ini diangkut dengan perahu untuk selanjutnya dijual. Menjelang tengah hari, barulah kampung terasa agak ramai sebab para lelaki telah pulang dari menakik getah dan anak-anak pun sudah pulang dari sekolah.

Saat ini, menurut Jais, harga getah berkisar sekitar Rp11.000 per kilogram. Menakik getah adalah mata pencaharian utama penduduk di sepanjang Batang Sebayang selain membuat perahu dan bertukang. Mencari ikan hanya untuk memenuhi keperluan sehari-hari, bukan untuk dijual. Kadang-kadang, mereka juga suka memikat burung untuk dijadikan santapan. Sebab itu, rata-rata penduduk memiliki kebun getah. ‘’Sejak dulu, kami hanya kenal getah, bukan sawit,’’ tutur Jais yang pagi-pagi juga sudah berangkat ke kebun.

Kebun-kebun penduduk biasanya ada di perbukitan curam yang memagari sepanjang Batang Sebayang. Sepintas, perbukitan itu terlihat seperti hutan yang lebat. Karena banyak pepohonan rimba yang mudah ditemukan di sana. Mulai dari sialang, durian, hingga petai mudah dikenali. Tetapi, jika diamati, di sela-sela rerimbunan hutan itu, ada batang getah. Kita baru mengenali itu sebagai kebun getah ketika menemukan ada panggung di dalamnya. Dan itu sebenarnya masih termasuk dalam kawasan hutan lindung Rimbang Baling.

Ketika Gubernur Riau, HM Rusli Zainal SE MP sempat berkunjung ke sana pada tahun 2007, warga tempatan sebenarnya pernah minta kampung-kampung mereka dikeluarkan dari kawasan hutan lindung Rimbang Baling. Sebab, mereka sudah puluhan tahun hidup di sana turun temurun. Ketika itu, Gubernur mengatakan bahwa permintaan itu baru bisa dikabulkan jika sudah disetujui Menteri Kehutanan dan gubernur berjanji akan menyampaikannya. Namun, hingga kini, permasalahan itu belum menemui titik terang.

Minim Sarana Pendidikan
Ketika menyusuri Kampung Tanjung Beringin, kami sempat singgah di SDN 07. Selain madrasah yang dibuka sore hari untuk belajar agama dan mengaji, SD inilah satu-satunya sekolah formal di Tanjung Beringin. Jumlah muridnya total ada 70 orang dan gurunya tujuh orang. Sebab itu, jumlah murid di tiap kelasnya cukup minim, hanya berkisar belasan orang tiap kelas. Jika ingin melanjutkan, anak-anak di Tanjung Beringin harus bersekolah di SMP di Kampung Aur Kuning, atau ke ibukota kecamatan, Gema.

Ketika singgah ke Kampung Aur Kuning, kami mengunjungi SMPN 2 Kampar Kiri Hulu. Menurut warga kampung Aur Kuning yang juga jadi cikgu di sekolah itu, Bustaman, selain tidak ada jalan darat memadai, komunikasi juga sulit. Namun, dibanding Kampung Tanjung Beringin, Kampung Aur Kuning tampak agak sedikit lebih maju. Setidaknya, jenjang pendidikan di sana sudah sampai tahap SMP. ‘’Di sini memang serba sulit. Tidak ada jalan darat memadai dan kami harus menggunakan robin atau johnson untuk keluar masuk. Bahkan, sekolah ini adalah satu-satunya SMP di sepanjang Batang Sebayang. Jadi, anak-anak kampung yang lain kadang melanjutkan sekolah di sini. Mereka biasanya  berjalan kaki menyusuri jalan setapak di lereng perbukitan atau naik perahu,” ujar Bustaman.

Menurut Sekretaris Desa Aur Kuning, Alam, saat didatangi di kediamannya, terisolir dan minimnya infrastruktur adalah masalah klasik di perkampungan sepanjang Batang Sebayang. Padahal, pesona alam semula jadinya sungguh mempesona dan masih asri.  Namun, kemolekan alam yang indah ini masih belum banyak diketahui orang luar. ‘’Dari dulu, memang akses jalan darat itu yang sulit. Dulu sebenarnya sudah ada rencana jalan darat dari Tanjung Belit ke Aur Kuning, tapi sekarang sudah tak jelas lagi,’’ ujar Alam.

Hal itu juga diamini Jais. Putri sulungnya, Rina, kini melanjutkan sekolah di Gunung Sahilan. ‘’Anak-anak yang melanjutkan sekolah biasanya kos. Di sana (Gunung Sahilan), ada saudara. Bisa membantu kami menengok-nengok Rina kalau ada apa-apa. Kalau melanjutkan sekolah ke Gema juga biasanya kos. Susah kalau tiap hari harus pulang pergi naik perahu,’’ tutur Jais.

Sayangnya, perjalanan Riau Pos menyusuri Batang Sebayang terpaksa berhenti di Pulau Tani, di hulu Kampung Terusan. Dua kampung lagi di hulu, yakni Salo dan Pangkalan Serai akhirnya dibatalkan karena dua pengemudi perahu kami, Jais dan Pak Iyai tak mau ambil risiko demi keselamatan. ‘’Makin ke atas, sungai makin mengecil dengan arus sangat deras. Belum lagi kita harus melewati bebatuan besar. Saya takut nanti kita karam karena perahu pecah,’’ ujar Jais.

Sebenarnya, medan sungai ke Kampung Terusan sudah cukup menyulitkan. Banyak pusaran-pusaran air yang deras yang menyebabkan perahu sulit dikendalikan. Bahkan, Jais sempat beberapa kali turun dari perahu. Kata Jais, di salah satu tempat menuju ke Kampung Terusan, ada sebuah tempat yang bernama Lubuk Betung. ‘’Di situ arusnya paling besar dan kuat. Banyak perahu yang sudah karam di sana. Untung tadi kita lewat di sana baik-baik saja,’’ ungkap Jais.

Berjuang Lepas Belenggu Isolasi
Menurut Camat Kampar Kiri Hulu H Muslim SSos, sejak dahulu hingga kini kampung-kampung menuju hulu di sepanjang Batang Sebayang masih terbelenggu akibat terisolir. Dan kondisi itu masih bisa disaksikan hingga hari ini. Berbagai persoalan yang melekat erat, bak batu lumut di batu cadas antara lain adalah masalah akses jalan darat, listrik, pendidikan, kesehatan, air bersih dan lain-lain.

Akses jalan misalnya. Untuk menempuh kampung Tanjung Beringin saja, bisa memakan waktu kurang lebih dua jam melalui jalur sungai jika menggunakan perahu robin atau johnson. Jika menggunakan perahu tanpa mesin bisa menghabiskan waktu satu hingga dua hari. Jika dibandingkan dengan jalan darat, menyusuri lereng perbukitan, menggunakan sepeda motor, diperkirakan menghabiskan waktu sekitar satu jam saja. Untuk transportasi ke Tanjung Beringin memakai perahu mesin memakan biaya Rp25 ribu dan ke Pangkalan Serai Rp40-an ribu. Bagaimanapun, keberadaan jalan darat akan mempersingkat waktu dan memotong biaya transportasi.

“Wilayah Kampar Kiri Hulu masih tertinggal dari wilayah lain dan kondisinya cukup memprihatinkan dengan berbagai persoalan yang belum terselesaikan. Hanya saja, kami tidak akan pernah berhenti menyuarakannya hingga ke level nasional melalui pemerintah kabupaten dan provinsi,” ungkap Muslim SSos kepada Riau Pos.

Khusus untuk jalur darat, tambah Muslim, sudah ada tujuh kampung yang memiliki jalur darat. Cuma, jalannya baru setakat pengerasan dan terlalu sulit untuk ditempuh karena kerusakannya kian hari kian parah. Sementara itu untuk kampung-kampung ke jalur kiri sudah ada tapak jalan dari Gema hingga Aur Kuning yang dibangun masa Jefry Noer pada kurun waktu 2005/2006 saat menjabat sebagai Bupati Kampar. Sayangnya hingga kini masih terbengkalai dan mulai ditumbuhi semak belukar.

Dijelaskan Muslim, upaya untuk meneruskan pembangunannya tidak pernah berhenti dan seluruh persiapan sudah pula dilakukan, minimal untuk semenisasi. Upaya itu digesa dari tingkat kecamatan, kabupaten hingga provinsi dan saat ini tinggal menanti izin Menteri Kehutanan. “Khusus untuk pembangunan jalan ke hulu sudah kita gesa dan tinggal persetujuan pusat saja. Kami bahkan sudah bertemu langsung dengan menterinya. Tapi kita tidak mau sekadar menunggu, melainkan terus menyuarakannya sampai benar-benar dibangun sesuai dengan keinginan masyarakat. Masyarakat tidak perlu jalan besar, cukup untuk bisa dilalui sepeda motor ataupun ojek,” aku Muslim.

Dilanjutkan Muslim, begitu pula dengan persoalan listrik yang terus disuarakan pihak kecamatan. Hingga hari ini, di Kampar Kiri Hulu, empat kampung sudah tersambung kabel listrik namun baru dua kampung saja yang mendapatkan penerangan dari PLN. Kesulitan lain karena letak kampung-kampung yang cukup terisolir dan untuk mengatasinya diusulkan pembangunan PLTA mini. Untuk listrik tenaga air sudah dibangun Dinas Pertambangan sejak 2000 silam di kampung terhulu Batang Sebayang, Pangkalan Serai. ‘’Masih banyak kemungkinan untuk pembangunan penerangan/listrik yang telah diusulkan sejak 2008 lalu itu. Kami sangat memerlukan pembangunan listrik tenaga surya,” tuturnya.

Muslim juga mengakui, persoalan pendidikan dan kesehatan juga belum terealisasi secara maksimal. Untuk bidang kesehatan, kini sudah ada bidan desa, tenaga medis di setiap kampung. Puskesmas sudah ada di dua desa, yakni Gema dan Batu Sasak. Namun, bidang pendidikan memang yang dirasakan masyarakat cukup menyedihkan. Meski di setiap kampung sudah berdiri Sekolah Dasar (SD) namun tenaga pengajarnya masih sangat minim. Tak jauh berbeda kondisinya dengan dua Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk delapan kampung di hulu sungai.

‘’Bagaimana kami tidak sedih, banyak guru yang awalnya semangat untuk mencerdaskan masyarakat di sini, ternyata hanya menjadikan sekolah di sini sebagai batu loncatan untuk bisa pindah ke daerah lain. Karena itu, kami mengharapkan, baik perawat maupun guru sebaiknya berasal dari putera daerah hingga secara emosi lebih terasa dan tidak memikirkan harus pindah ke tempat yang lebih baik lagi,” harap Muslim. 

Selain minimnya guru dan tenaga kesehatan (bidan/perawat), lanjut Muslim,  persoalan lainnya adalah infrastruktur yang tidak memadai sama sekali. Masih banyak sekolah yang memerlukan perawatan atau penambahan lokal baru namun belum bisa terealisasi hingga hari ini. Akhirnya, baik bidan maupun guru hanya memanfaatkan fasilitas yang ada dengan caranya masing-masing.

“Ini juga tugas yang harus kami tuntaskan bersama. Masalah lain yang sedang kami cari penyelesaiannya adalah soal konversi (penukaran) minyak tanah ke gas. Pada dasarnya, masyarakat tempatan memerlukan minyak tanah karena manfaatnya bukan sekadar untuk memasak, melainkan untuk penerangan dan campuran bahan bakar johnson/robin. Konversi ini cukup membebani masyarakat dan perlu ditinjau kembali. Karenanya di setiap rapat saya suarakan terus agar dilakukan peninjauan ulang,” bebernya.

Menurut Muslim, di depan semua masalah yang mengungkung Kampar Kiri Hulu itu, masih ada potensi besar untuk mendatangkan pendapatan masyarakat tempatan, yakni objek wisata yang tergolong masih alami. Terdapat sedikitnya 17 titik air terjun dari ketinggian 2-115 meter. Air terjun tertinggi terdapat di kampung Kebun Tinggi namun terlalu sulit untuk ditempuh. Selain itu, kondisi alam yang molek menggambarkan potensi yang layak dijadikan kawasan wisata yang menjanjikan.

‘’Kondisi alam di sini tidak kalah dengan daerah lain namun perlu ditata secara baik sehingga wisatawan mudah mencapainya. Tidak banyak wisatawan yang mau berkunjung jika akses jalan buruk dan sulit ditempuh. Karenanya kami terus berjuang untuk melepaskan kawasan ini dari keterisolasiannya agar bergerak maju seperti daerah lain,” kata Muslim semangat.

Ditanya soal balak liar (illegal logging), Muslim tidak menampik bahwa penebangan masih terjadi. Namun bukan untuk komersil, melainkan untuk keperluan warga kampung yang hendak membangun perumahan dan keperluan lainnya. Tujuannya hanya sebatas keperluan orang tempatan, bukan dijual. Dikatakannya, banyaknya kilang gergaji (sawmill) di Kampar Kiri seolah-olah banyak orang beranggapan, bahan bakunya berasal dari Kampar Kiri Hulu. “Saya tegaskan, tidak ada illegal logging di kawasan ini dan saya berharap anggapan salah itu perlahan-lahan akan terkikis dengan semakin banyaknya orang luar melihat langsung kondisi di sini, terutama di bagian hulu Sungai Sebayang,” ungkap Muslim

Walau mungkin tak sehebat Sungai Siak, Kampar, Rokan, Kuantan dan Indragiri, Batang Sebayang kini adalah salah satu benteng terakhir negeri ini. Di sana terkelimbun situs renta yang merekam sejarah kegemilangan masa silam. Sebayang telah menjadi simbol kesetiaan pada kearifan lokal, lambang penantian yang panjang. Meski tanpa kebulatan asa, Sebayang dan ‘pasukannya’ tetap setia menunggu kabar lewat malalak (nandung khas Kampar, red) di tiap liuk dan lekuk tubuhnya, tentang gegap gempita kemakmuran Tanah Melayu. Nun jauh di ceruk negeri ini, Sebayang masih menunggu, hingga penantian itu mungkin menjadi seonggok bangkai.***