Nominator Rida Award 2010

Menggali Kubur untuk Anak Cucu (3)

Jurnalistik Senin, 20 September 2010
Menggali Kubur untuk Anak Cucu (3)

*Robi Chandra Tak Muncul Lagi
Kamis sore akhir Oktober 2009 akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi pasangan Fidri dan Jumiati, warga Batubesar, Nongsa. Robi Chandra, 12, anak mereka, pergi untuk selamanya. Siswa kelas VI SD 008 Nongsa itu menjadi korban kubangan bekas galian pasir yang banyak terdapat di Kampung Panglong, Batubesar, Nongsa.

Saat itu, sepulang sekolah, Robi Chandra bermain bersama dua temannya, Oktarianto dan Rizky. Mereka main lompat-lompatan di atas gundukan pasir, sisa-sisa pengerukan yang belum terjual. Biasanya, setelah puas bermain pasir, mereka akan terjun ke kubangan, lalu berenang kembali ke pinggir.

Begitu juga Kamis sore itu. Tanpa menunggu dua temannya, Robi terjun terlebih dulu. Tubuhnya tenggelam dalam kubangan, lalu muncul kepermukaan. Ia berteriak, mengajak Oktarianto dan rizki berenang bersama dirinya. Namun Oktarianto dan Rizki enggan terjun.

Robi naik ke pinggir, hendak memamerkan keahliannya melompat ke dalam kubangan. Ia melompat untuk kedua kalinya, dengan posisi kepala di bawah. Ternyata nasib berkata lain. Kepalanya meluncur terbenam dalam lumpur. Robi tak muncul lagi seperti lagi saat melompat pertama kali.

Oktarianto dan Rizky panik setengah mati. Mereka terjun ke kubangan mencari tubuh Robi. Namun yang dicari seperti menghilang. Hampir sepuluh menit mencari, tubuh Robi ternyata tersangkut di akar pohon. Ia pingsan, tak bergerak. Oktarianto dan Rizky berteriak. Orang-orang datang memberi  pertolongan. Robi kemudian dibawa ke Klinik Alam Sehat, klinik terdekat. Tapi jiwanya sudah tak tertolong lagi.

Robi merupakan korban keempat yang tewas di dalam kubangan galian pasir di Kampung Panglong, Nongsa. Sepanjang tahun 2009, ada sebelas anak yang tewas dalam kubangan bekas galian di Batam.

Menurut ketua RW XI Batubesar, Ligiono, meski penambangan pasir itu diberi pagar, tetap saja membahayakan nyawa anak-anak. “Karena Lokasinya di tengah-tengah pemukiman,” katanya.
Tewasnya anak-anak itu menambah panjang dampak negatif penggalian pasir di Batam. Bukan hanya lingkungan yang rusak, tapi banyak jiwa juga melayang. (med)