Nominator Rida Award 2010

Mempertahankan Silat Tradisional di Baringin Marapi (1)

Jurnalistik Senin, 20 September 2010
Mempertahankan Silat Tradisional di Baringin Marapi (1)

Ubah Pola Pengajaran, ”Jual” Jurus Sampai Masuk Film

Silat, atau di Minangkabau disebut dengan Silek, mengalami kecenderungan ditinggalkan. Bahkan oleh orang Minang sendiri yang sebelumnya bangga dengan seni bela diri tradisi itu. Tuan Peni, pendekar terkenal penguasa sejumlah aliran silat bersama koleganya, membuat terobosan. Mengubah total pola pengajaran, hingga memasukkan jurus silat ke film “Merantau”.

FAJRI HIDAYAT – Sungai Pua

Mencari kediaman sesepuh silat tradisional Minangkabau, Syafni Sutan Kayo (65), atau lebih dikenal dengan Tuan Peni, bukan perkara gampang. Seru­pa menempuh perjalanan wisata alam, begitu yang POSMETRO alami. Meski jalan yang ditem­puh kebanyakan telah beraspal, tapi ukurannya kecil dan berba­tasan langsung dengan rerum­putan liar di pema­tang sawah, khas jalan perkam­pu­ngan. Sepeda mo­tor yang dikendarai pun beberapa kali harus meraung, ka­re­na pendakiannya kebanyakan sangat terjal.

Di beberapa lokasi penurunan tajam, terpaksa pula rem sepeda motor mengeluarkan bu­nyi gemericit. Sepanjang perja­lanan, tampak sawah-sawah berair yang baru siap ditanami padi. Beberapa di antaranya juga ditanami kol dan sawi serta lobak. Suhu udara yang lebih dingin dari Bukittinggi mem­buat tubuh se­dikit menggigil. Se­belum menemukan rumah kayunya di pinggang Gunung Merapi, di Jorong Patalangan, Nagari Sungai Pua, Agam, POSMETRO bersa­ma rekan bernama Peri, harus tersesat berkali-kali. Kami beberapa kali bolak-balik, bertanya sana sini kepada masyarakat yang kami jumpai di jalanan yang sepi. Untung saja sore itu langit sedang cerah.

Perjalanan menjadi sulit, karena petunjuk satu-satunya yang kami miliki adalah nama dan daerah tempat tinggalnya, tanpa tahu pasti tepatnya di mana. Adalah Fauzi Azim, pemilik Perguruan Gumarang Sakti di Tangah Sawah Bukittinggi, yang membe­ritahu kami tentang keberadaan Syafni Sutan Kayo di Sungai Pua, Agam.

Fauzi, mengatakan, Syafni atau lebih dikenal dengan sapaan Tuan Peni, banyak mengetahui seluk-beluk silat serta perkembangannya dari masa ke masa. Sebagai pemimpin perguruan Baringin Marapi yang disebut-sebut sebagai perguruan terbesar dan paling terkenal di Sum­bar, Tuan Peni menguasai sejumlah aliran silat secara sempurna. Kelebi­han lainnya, lelaki kelahiran Sungai Pua, 16 Agustus 1945, itu pun memiliki pe­mikiran maju untuk memper­tahan­kan budaya tradisi silat di masa da­tang. Pemikiran yang sangat jarang ditemukan pada pesilat-pesilat di generasinya, apalagi sebelumnya.

Bekal informasi yang minim itu, tak menyurutkan niat kami menelusuri jalan-jalan kecil tidak rata dan berliku, di tengah-tengah areal persawahan, guna bertatap muka secara langsung dengan sang pendekar. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) selama sepekan terakhir, mewarnai pencarian kami sore itu. Sembari bertanya sana-sini di mana alamat Tuan Peni, kami pun terpaksa clengak-clenguk mene­lu­suri tempat-tempat penjualan ben­sin eceran, sebab jarum di petunjuk minyak sepeda motor kami, telah melewati zona merah “E”.
Kawasan yang cuma berjarak 6 KM dari Bukittinggi, itu akhirnya kami temukan juga dalam waktu sekitar 3 jam. Sebuah kampung kecil, di ping­gang Gunung Merapi bernama kam­pung Patalangan.

”Ya, di sini rumah Tuan Peni, tapi beliau sedang melatih silat,” kata perempuan setengah baya di sebuah rumah kayu kecil yang di sampingnya ada kedai kopi. Istri Tuan Peni itu tak banyak bicara kepada kami soal kegiatan suaminya. Dia menyarankan agar kami langsung saja menemui Tuan Peni di tempat latihan. Setelah menerima petunjuk lokasi latihan dimaksud, kami berbalik arah dan menyusuri lagi satu jalan yang sebelumnya tidak sempat kami lewati.

Kami akhirnya menemukan Tuan Peni alias Pandeka Rancak sedang mengamati sepuluh orang muridnya lati­han, sambil menikmati sebatang rokok kretek. Dia duduk di pinggir lapangan bola di pinggir jalan, tepat di sebelah kantor Wali Nagari Sungai Pua. Ada beberapa orang laki-laki lebih muda di samping kiri Tuan Peni yang saat itu mengenakan baju batik lengan panjang berwarna kemerahan. Bela­ka­ngan kami ketahui, orang-orang itu adalah adik seperguruan Tuan Peni yang ikut mengembangkan perguru­an Baringin Marapi yang dipim­pinnya.

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk berkenalan dengan laki-laki berkacamata yang rambutnya sudah memutih tersebut. Perjalanan berliku untuk bertemu langsung dengan Tuan Peni  pun terobati. Sambutannya yang ramah, telah memudahkan kami untuk langsung terlibat dalam perbin­cangan atau diskusi, lebih kurang 1 jam.

”Kami mencoba mempertahankan silat tradisi dengan mengikuti perkem­bangan zaman. Cara pengajaran seperti yang saya alami berpuluh tahun silam tidak bisa lagi diterapkan saat ini,” kata Syafni, ketika perbin­cangan kami telah menjurus ke inti persoalan tentang mengembalikan minat generasi muda Minang kepada silat tradisional.

Syafni sepertinya sependapat de­ngan adik seperguruannya, Edwel Yus­ri Datuak Rajo Gampo Alam, pen­diri perguruan silat Harimau Minang­kabau yang sekarang bermu­kim di Jakarta. Dalam perbincangan dengan POSMETRO di sela-sela festival silat tradisi yang digelar ormas Sumarak bulan April lalu, Edwel mengatakan, bahwa manajemen silat harus diubah, bila ingin mempertahankan eksisten­sinya di masa akan datang. ”Tak ada lagi pengajaran silat secara sembunyi-sembunyi dan jurus-jurus yang dirahasiakan,” kata Edwel waktu itu.

Syafni pun berkata demikian. Dia menceritakan betapa susahnya dulu belajar silat. Para guru yang didata­nginya cuma mengajarkan beberapa langkah silat. Padahal beberapa langkah itu saja sama sekali tidak cukup untuk digunakan bila berha­dapan dengan lawan, ketika keadaan memaksa kita harus bertarung mem­pertahankan diri dari bahaya.

Syafni pertama kali diajarkan silat oleh kakeknya, Idi Sutan Rumah Panjang, seorang guru silek tuo ternama di Sungai Pua ketika dia baru berumur tujuh tahun. ”Waktu itu, tahun 1952, saya sendiri yang meminta diajarkan (diturunkan) ilmu silat tuo kepada kakek. Tapi, itulah, saya cuma diajarkan empat tangkok (jurus). Padahal setelah merantau ke beberapa tempat di Sumbar, saya ketahui bahwa ada 16 tangkok yang ada di aliran silek tuo ini,” kata bapak enam anak tersebut.

Lelaki bersahaja dan ramah, itu mengaku, akhirnya belajar kepada 18 guru di 16 sasaran (arena latihan silat) berbeda di sejumlah tempat yang pernah dikunjunginya. Empat puluh tahun lebih dia ”berkelana” mengum­pulkan sepotong-sepotong langkah silat dari guru-guru yang didata­nginya sendiri itu. 

”Sekarang saya menguasai empat aliran secara sempurna, dan telah saya turunkan semuanya kepada anak, adik dan kemenakan-kemenakan saya,” kata Syafni. Empat aliran itu adalah Kumango, Silek Tuo, Sungai Patai dan Staralak. Namun, secara khu­sus, dia hanya ingin mengem­bang­­kan silek tuo. Sementara aliran lainnya diserahkan pengembangan­nya kepada murid dan adik-adik se­perguruannya.

Pengajaran silat yang sepotong-sepotong itulah yang menyebabkan tak banyak generasi penerus yang berminat mempelajari silat. Anak muda sekarang telah terlanjur mengikuti budaya praktis yang ditawarkan oleh orang-orang dari luar negeri. Mereka keba­nyakan ingin instan (bersambung)