Riau Pos 19 Tahun (3-habis)

Obsesi Besar yang Beranjak dari Merugi

Jurnalistik Selasa, 19 Januari 2010
 Obsesi Besar yang Beranjak dari Merugi

PADA saat lahirnya, jangan dikira Riau Pos serta-merta langsung meraih keuntungan. Di tahun pertama, ia merangkak dari tiras jauh di bawah 5.000 eksemplar dengan 70 persen sirkulasi dan distribusi terpusat di Kota Pekanbaru. Jumlah halaman pun tidak langsung 32 atau 36, bahkan 40 halaman seperti hari ini, tapi bergerak dari delapan halaman hitam-putih. Kemudian baru berangsur-angsur jadi 12,16, 24 dan seterusnya.

Dahlan Iskan mula-mula mengirimkan dua unit mesin cetak Haris-bekas Tempo. Tahun-tahun pertama memang sangat berat. Bukan hanya masalah modal usaha, tapi juga manajemen yang belum siap. Belum semuanya memiliki semangat baja, pantang mundur dan pantang menyerah menghadapi kesulitan. Inilah yang berat dan sulit.

Namun berkat kerja keras, semangat bushido, serta kemauan belajar dari kelemahan dan kesalahan, akhirnya harian. Riau Pos mulai merayap dan berjalan. Pelan tapi pasti.

Tantangan lain adalah betapa enggannya para agen memasarkan Riau Pos pada masa-masa awal, akibat seringnya koran lokal jatuh-bangun dan hidup-mati silih berganti. Tingkat kepercayaan pasar masih sangat rendah.

Jangankan mau menjualkan, untuk dititipi sajapun para agen tidak bersedia. Kalaupun ada yang mau karena segan dengan seseorang pengasuh koran, Riau Pos hanya ditaruhnya saja di bawah meja. Anggapannya, ‘’toh tidak ada pembelinya.’’ Pemasaran bergerak sangat lamban dan sulit. Akibatnya cash flow pun jadi tersendat-sendat.

Pada bulan-bulan atau tahun pertama, Rida dan ‘’geng’’-nya betul-betul lintang-pukang dan banting tulang, bertungkus lumus. Gajian tanggal ‘’45'’ atau ‘’60'’, sudah lumrah. Namun mereka tetap bertekad, Riau Pos harus selalu terbit dan tetap terbit, tanpa absen.

Riau Pos harus bisa menerobos mitos yang menganggap Riau merupakan lahan tandus bagi koran, apalagi harian. Alangkah ironisnya. Riau diakui provinsi kaya-raya dengan sumber daya alam, tapi pertumbuhan persnya disetarakan dengan Irian Jaya dan Timor Timur yang nihil koran. Para tokoh pers nasionalpun enggan melirik Riau walau dengan sebelah mata.

Namun berkat kerja keras para awaknya, Riau Pos berangsur-angsur tumbuh. Berangkat dari oplah 2.500 eksemplar saat mula terbit 1991, dia pelan-pelan merangkak menjadi 5.000 menjelang berakhirnya tahun itu.

Di tahun pertama, Riau Pos menderita rugi Rp200 juta. Hal ini membuat Rida kelimpungan dan pusing tujuh keliling. Maklum, dengan latar belakang guru sekolah dasar dan praktisi pers yang hidup pas-pasan, angka sebesar itu luar biasa mengerikan baginya.

Pengalamannya tidak pernah mengajarkan bagaimana menghadapi tantangan risiko rugi sedemikian. Bagi orang bisnis, untung dan rugi sudah merupakan permainan sehari-hari. Syukur Rida digembleng seorang manusia Dahlan Iskan yang punya nyali besar dan jiwa optimisme yang tinggi.

Di tahun kedua (1992) oplahnya mulai merayap ke 7.500. Tahun berikutnya menapak lagi ke 12.000. Pada waktu itu Riau Pos baru mulai bisa bernapas, walaupun belum meraih laba. Tirasnya terus meroket ke angka 18.000 pada tahun ke-4 (1994), dan pada tahun ke-5, koran ini sudah menembus titik aman 20.000.

Namun ada kendala lain yang belum teratasi. Faktor geografis Riau dengan ribuan pulau, dan minimnya prasarana transportasi darat maupun sungai, menyebabkan keterlambatan dalam menjangkau pasar tak dapat dielakkan.

Ini selalu menjadi keluhan pembaca. Jika orang Pekanbaru dan Bangkinang sudah dapat menikmati Riau Pos pada pukul 06.00-06.30 pagi, Rengat baru terima pukul 09.00, Tembilahan pukul 11.00, Batam pukul 11.30 (dengan pesawat udara) atau malam bila hanya mengandalkan ferry. Selatpanjang dan Karimun tak tentu, bisa pukul 14.00 sampai 16.00, tergantung keberangkatan kapal. Tanjungpinang malah lebih larut lagi, karena menunggu kiriman dari Batam.

Cetak Jarak Jauh

Kemudian diusulkanlah sistem cetak jarak jauh (SCJJ) untuk wilayah kepulauan, dengan menempatkan sebuah percetakan di Tanjungpinang, ibukota kabupaten Kepulauan Riau. Investasinya sangat mahal, mungkin tidak cocok menurut perhitungan bisnis.

Namun dengan semangat optimisme yang tinggi, ditunjang oleh naluri bisnis yang kian terasah, dengan prinsip nekat akhirnya terwujudlah SCJJ yang pertama di Sumatera. Sekali lagi Riau Pos mengukir sejarah kehidupan pers nasional, sebagai surat kabar pertama yang menerapkan SCJJ secara nyata.

Dengan sistem ini para pembaca di Kepulauan Riau, yang mewakili 25 persen dari seluruh pembaca Riau Pos, telah dapat menikmati korannya pada waktu yang sama dengan pembaca di Pekanbaru dan Bangkinang, yaitu sekitar pukul 06.00 pagi.

Menjelang genap berusia enam tahun (17 Januari 1997) Riau Pos telah terbit dengan halaman muka full-color setiap hari. Pada hari jadinya yang ke-6 itu, dia berhasil menembus angka tiras 25.000. Suatu rekor yang selama ini hanya merupakan impian imajiner bagi pers di Bumi Lancang Kuning.

Jika pada tahun-tahun pertama lebih 70 persen penyebarannya terpusat di Kota Pekanbaru dan sekitarnya saja, maka sepanjang tahun 1997, komposisi distribusi dan sirkulasi sudah lebih merata menjadi sekitar 45 persen beredar di Pekanbaru dan Kampar, 15 persen di Batam, 10 persen di Bintan, 10 persen di Duri/Dumai, delapan persen di Indragiri Hulu, tujuh persen di Bengkalis, dan lima persen di Indragiri Hilir.

Puncak 50 Ribu
Titik puncak tiras tercapai dalam tahun ke delapan, yakni pada hari lengsernya Presiden Soeharto dari singgasana republik ini tanggal 21 Mei 1998. Esoknya Riau Pos ‘’terpaksa’’ dicetak di atas 50 ribu eksemplar. Angka ini bertahan selama lebih 10 hari. Tahun-tahun berikutnya oplah Riau Pos bersikukuh di atas angka 35.000.

Pada usianya yang ke-19 sekarang ini, dia sudah berada pada posisi sangat mapan dan aman. Dia telah berhasil membantah mitos bahwa ‘’Riau tidak mungkin bisa punya koran harian.’’

Dorongan keinginan untuk memberikan bacaan bagi masyarakat luas dalam waktu yang cepat, serta dirangsang oleh reformasi yang membuka peluang lebar terhadap liberalisasi pers, membuat Riau Pos tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Di awal reformasi 1998 dia mula-mula membelah diri menjadi tiga harian dan sebuah majalah, yaitu harian Riau Pos, Utusan, dan majalah budaya Sagang di Pekanbaru, serta harian Sijori Pos di Batam. Pada tahun 1998 itu Riau Pos sudah terbit 16 halaman dengan empat halaman warna dan tiras 29 ribu, Utusan 12 halaman dengan dua halaman warna dan tiras 7.500, sedang Sijori Pos 16 halaman dengan tiras 15 ribu.

Sementara itu pemasukan Riau Pos dari iklan, yang merupakan tulang punggung bagi kelangsungan hidup surat kabar, juga mulai merayap naik. Bermula dari 15 persen, kemudian berangsur-angsur mencapai 35 persen dari total omset (pendapatan). Peralatan redaksi pada tahap awal masih sederhana. Walau sudah menggunakan perangkat komputer, tapi untuk pengiriman dan penerimaan berita masih pakai modem.

Pada tahun ke-4 (1994), barulah dipasang perangkat komunikasi satelit VSAT (Very Small Apparatus Terminal) sehingga bisa memperoleh berita lebih cepat dan dapat berlangganan foto berita berwarna dengan kualitas prima.

Rebut Anugerah Adinegoro
Dunia jurnalistik Riau mencatat suatu prestasi luar biasa di awal 1999. Wartawan Riau Pos, Mosthamir Thalib, terpilih sebagai peraih Anugerah Adinegoro, lambang supremasi karya tulis jurnalistik di Indonesia. Lomba ini diadakan setiap tahun di kalangan anggota PWI.

Mosthamir Thalib adalah wartawan pertama dari luar Pulau Jawa yang pernah meraih lambang supremasi karya pers Indonesia ini. Dia menerima anugerah tersebut dari tangan Menteri Penerangan, M Yunus Yosfiah, yang terkenal sangat reformis dengan terobosannya mengakhiri lembaga SIUPP.

Karangan yang mengantarkan putera kelahiran Mandah, Indragiri Hilir, ini ke puncak supremasi pers Indonesia tersebut bertajuk ‘’Ketika Talangmamak Terserang Perangkap Ijon: Darah-Keringat Mereka Meleleh Bak Getah Jelutung’’, tampil di Riau Pos 6 September 1998. Sekarang ini, setelah menjadi group, Riau Pos Grup berhasil mengantarkan satu lagi wartawan groupnya menjadi penerima Anugerah Adinegoro, yaitu Mohd Nur, wartawan Batam Pos, yang menjadi penerima anugerah bergengsi itu tahun 2008.

Warisan Soeripto
Saat ini Riau Pos Grup (RPG) sudah berkembang biak dan beranak-pinak menjadi 19 media, yakni 12 media cetak (11 koran dan satu majalah), dua stasiun televisi, dan lima media online atau internet website.

Wilayahnya sudah menggurita, merambah empat provinsi di Sumatera belahan utara. Riau Pos Grup telah merupakan salah satu konglomerat pers di Indonesia. Total tiras dan sirkulasi seluruh media cetak grup ini sudah berada di atas 150 ribu eksemplar per hari, hasil kerjasama tim dari lebih 1.000 karyawan, wartawan dan non-wartawan.

Riau Pos telah mampu bertahan dengan tegar selama 19 tahun, dan berkembang biak menjadi se-abrek aneka produk media. Sungguh, Riau Pos telah mengukir suatu karya fantastis. Ia sudah merupakan sebuah lokomotif pembangunan, yang terus maju, terus di depan, dan Insya Allah akan tetap terdepan.

Grup Riau Pos, bersama mitranya yang tergabung dalam Jawa Pos National Network (JPNN), yang juga sudah menggurita ke seantero tanah air dengan lebih 150 media dan jaringan usaha lainnya. Ini membuktikan bahwa dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah, disertai dengan keberanian mengambil risiko, usaha apapun pasti berhasil.

Dan yang lebih penting ialah, bahwa Riau Pos telah pula berhasil mengantarkan seorang ‘’putera Melayu’’ bernama Ismail Kadir alias Rida K Liamsi dari Desa Bakung, Dabo Singkep, Kepulauan Riau, menjadi salah seorang pengusaha media yang sukses, dan mampu mempertahankan keberadaan Riau Pos sebagai suratkabar daerah yang terbit non-stop tanpa absen.

Rida juga membangun tradisi kaderisasi dalam manajemen bisnis Riau Pos Grup baik jajaran redaksi maupun usaha, sehingga grup ini mampu bertahan dan kuat menghadapi perubahan. Masa 19 tahun ini membuktikan bahwa tak ada lagi kata mustahil dalam kamus Riau untuk melahirkan koran harian yang bisa bertahan lama. Insya Allah! Akhirul kalam, di usianya genap 19 tahun ini, Riau Pos perlu mengenang pelopor dan motivator koran ini, yakni almarhum H Soeripto, mantan Gubernur Riau 1988-1998. Innalillahi wa innailaihi roji’un.***

*** Tulisan ini sudah disunting oleh redaksi, terutama untuk menyesuaikan dengan data terakhir perkembangan Riau Pos Group (red).


Related Post