Rida Award 2008

"Tolong Saya a... Mau Obat, Tak Pernah Dikasih"

Jurnalistik Senin, 16 November 2009

Fenomena ‘’Kampung Kusta’’ di Hulu Bokor Bengkalis

Tak banyak yang tahu bahwa di hulu Sungai Bokor Pulau Rangsang,  belasan kilometer dari pusat Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Bengkalis, hidup sejumlah penderita kusta. Mereka hidup dalam pengasingan. Sebuah potret miris kelompok masyarakat yang dilupakan.

Oleh  Kartini Fattach 

AHAD (30/3) cuaca benar-benar tidak bersahabat. Awan kelam yang telah menggelantung di sekujur langit Kota Selatpanjang, Kecamatan Tebingtinggi, Bengkalis dan pulau-pulau di sekitarnya tak lagi kuasa bertahan. Tepat pukul 09.00 WIB, hujan deras pun langsung mengguyur kota sagu itu.

Hujan juga mengguyur Pulau Rangsang, tempat para penderita kusta hidup dalam keterasingan dan jauh dari sanak dan keluarga serta penduduk lainnya.

Untuk sampai ke ‘’kampung kusta’’ ini, tetap tidak mudah. Selain menyesuaikan dengan keadaan air, juga tak banyak kendaraan yang bisa dipakai.

Menurut cerita Muis Abo (56), pemilik kapal pompong Bokor-Selatpanjang yang setiap bulan disewa dan ditugaskan mengantar bantuan bahan makanan ke lokasi pengasingan, untuk bisa ke lokasi harus melihat situasi.

‘’Harus melihat kondisi air sungai dulu, kalau pasang surut pompong tak bisa masuk ke lokasi karena sakat (kandas, red),’’ ucap Muis.

Selain itu, para pemilik pompong tak berani ke lokasi penderita kusta ini jika dalam kondisi hujan. ‘’Jangankan ke lokasi, ke Bokor saja kami tak berani jalan dengan kondisi hujan lebat seperti ini,’’ celoteh pria yang belakangan diketahui salah seorang warga Bokor.

Untuk sampai ke ‘’kampung kusta’’ ini, dari Selatpanjang harus menumpang pompong ke Bokor. Lama perjalanan bisa mencapai satu jam. Dari Bokor, harus menyewa pompong dengan ukuran lebih kecil maksimal muatan 4-6 penumpang. Ini untuk mengantisipasi agar pompong jangan sakat, sebab lokasi berada di hulu sungai yang ukuran lebar sungai semakin menyempit dan dangkal.

Tapi pompong jenis ini tak selalu ada, tergantung situasi. Bila menumpang pompong kecil ini perjalanan dari Bokor ke lokasi bisa lebih cepat, yakni 30-40 menit.

Muis lantas menawarkan alternatif lain. Lokasi bisa ditempuh dan lebih aman bila menyewa boat pancung dari Selatpanjang langsung menuju lokasi. Sewa boat khusus ini memang lumayan mahal dibanding menumpang pompong dan menyewa pompong kecil di Bokor. Riau Pos memilih alternatif kedua yang ditawarkan Muis.

Ditemani Ardian Setiadi (34) warga asal Bokor yang telah hijrah ke Selatpanjang, Muis lantas mencari boat khusus tersebut untuk disewa.

Kala itu hujan masih rintik-rintik. Tapi Muis menjamin laut sudah bersahabat untuk dilayari. Meski demikian gelombang laut tetap saja masih tinggi. Dalam rinai itulah, perjalanan dimulai ke Bokor. Saat itu jarum jam telah menunjukkan pukul 11.15 WIB.

Perjalanan ke lokasi ditempuh dengan perasaan was-was. Betapa tidak, beberapa kali boat pancung berkapasitas enam penumpang tersebut oleng dihantam gelombang. Ini terjadi lebih dari 20 menit. Kondisi air baru stabil setelah boat memasuki sungai Bokor. Tak ada lagi riak gelombang yang melambungkan pompong. Namun, ancaman lain tetap saja mengintai yakni buaya yang menurut cerita masyarakat sesekali menampakkan diri. Untungnya, dalam perjalanan itu, tak sekalipun terlihat ada buaya itu.

Sekitar 15 menit menyusuri Sungai Bokor, tibalah boat kecil itu di Dermaga Desa Bokor. Tapi di tempat ini hanya berhenti sebentar menurunkan seorang warga Bokor yang tadi turut menumpang.

Bersama Ardian, Muis, dan pengemudi pompong, perjalanan kembali dilanjutkan ke lokasi yang menjadi sasaran awal yakni ‘’kampung kusta’’ itu.

Dari Desa Bokor, boat kembali berlayar. Untuk bisa sampai ke lokasi, setidaknya masih memerlukan waktu 20 menit lagi. Dengung mesin boat seakan memecah kesunyian sepanjang sungai yang disusuri. Sesekali, riak pompong menggoyang sampan penduduk Desa Bokor yang tengah mencari ikan menggunakan alat tangkapan seadanya.

Para pencari ikan ini, sepertinya terusik juga dengan keberadaan boat yang kami tumpangi. Ada juga yang menatap dengan tatapan curiga. ‘’Mereka memang jarang melihat boat berlayar di sungai ini,’’ cerita Ardian melawan dengung mesin boat.

Saat jarum jam sudah menunjuk angka 12.15 WIB, langit masih saja meneteskan gerimis. Awan hitam masih sekelam kampung yang hendak dituju saat tali boat pancung itu ditambatkan di tiang jembatan kayu yang dibuat seadanya di lokasi pengasingan penderita kusta ini.

Perasaan ngeri dan khawatir akan tertular, menyeruak tiba-tiba saat menginjakkan kaki di perkampungan sepi dan berpenduduk khusus ini.

Baru saja kaki menginjak tebing, lolongan anjing pun terdengar riuh menyambut. Bersamaan dengan lolongan anjing ini, dari kejauhan terdengar pula suara penghuni kampung yang berdiamater hanya sekitar tiga kilometer persegi ini.

Begitu mengetahui ada yang bertandang ke pemukiman mereka, sontak saja penghuni lokasi yang saat itu hanya tinggal lima orang saling pandang.

Tiga orang penghuni yang terlihat masih bugar dibanding dua orang lainnya, langsung tegak dari duduknya tatkala melihat Riau Pos menghampiri tempat duduknya.

Muis yang sedari awal mendampingi, langsung menyapa penghuni lokasi. Sembari memanggil nama salah seorang penghuni yang sudah ia kenal bernama Kongkam, Muis langsung memberitahukan ada tamu yang datang. ‘’Kongkam, ini ada tamu yang datang. Mereka dari Pekanbaru,’’ sebut Muis tanpa menyebutkan Riau Pos.

Setelah diperkenalkan, Riau Pos langsung menyapa Kongkam yang belakangan diketahui bernama asli Tuanse (62). Lelaki tinggi besar ini merupakan penghuni terlama pulau ini. Dia sudah berada di ‘’kampung kusta’’ itu sejak tahun 1946 lalu. Berdekatan dengan Kongkam ada dua penghuni lain, bernama Tang Heng Sin (63) yang hampir sama lamanya dengan Kongkam.

Selain itu ada lagi satu penghuni bernama Amoy (53). Warga asal Rangsang ini merupakan penguni terbaru di lokasi ini. Amoy baru empat tahun silam diantar ke lokasi sepi itu.

Meski di awal pembicaraan, Kongkam menyebutkan ada lima orang di lokasi ini, namun saat itu hanya terlihat tiga orang. ‘’Kami tinggal lima orang la...,’’ sebut Kongkam dengan logat Tionghoa yang cukup kental.

Lantas di mana dua orang lainnya. ‘’Mereka sudah sakit parah. Dah buta, tak bisa lihat lagi,’’ ucap Kongkam sembari menunjuk ke arah dua orang penghuni lainnya yang saat itu dalam kondisi cukup parah.

Kontan saja Riau Pos mengalihkan pandangan ke arah telunjuk Kongkam. Perhatian langsung tertuju pada sosok renta yang tengah merangkak mengarungi becek akibat hujan untuk menuju gubuk tempat dia berteduh selama berada di lokasi pengasingan.

Tanpa sadar, Riau Pos tertegun melihat sosok yang baru saja berhasil duduk bersimpuh di atas pondok berukuran 2 x 3 meter setinggi satu meter terbuat dari papan lapuk dan atap rumbia ini.

Sosok yang belakangan diketahui bernama Limhong Lian ini, tak lagi memiliki anggota tubuh yang lengkap karena membusuk digerogoti penyakit ganas yang dideritanya.

Limhong Lian tak lagi punya jari tangan maupun jari kaki. Kondisi lebih parah lagi terlihat pada bagian kaki. Jangankan jari-jemari, sosok ini sudah tak lagi memiliki kaki bagian bawah terutama dari mata kakinya. Kedua kakinya putus bukan karena diamputasi melainkan diputus sendiri oleh ganasnya kusta.

Luka di bagian kaki dan tangannya masih terlihat basah dan —maaf— berbau dan dikerubungi lalat. Luka itu dibalut dengan kain yang sudah bercampur darah dan kotoran lukanya.

Meski rasa was-was dan cemas terus menghantui, Riau Pos yang semula berdiri tiga meter dari Limhong Lian, memberanikan diri mendekat. Dari jarak hanya 1,5 meter, kondisi penderita semakin jelas dan saat itulah momen humanis ini diabadikan melalui kamera digital.

Selanjutnya terjadilah perbincangan dengan Limhong Lian. Kepada Riau Pos, pria 70 tahun ini menyebutkan, dirinya sudah lebih 40 tahun hidup di lokasi pengasingan tersebut. Kusta yang menyerangnya sejak masih usia 10 tahun ini benar-benar telah menggerogoti Limhong.

Ternyata, Limhong Lian tak hanya kehilangan jari tangan dan kakinya. Dari dekat baru diketahui bahwa pria ini juga sudah tak bisa lagi melihat karena kedua matanya ikut buta juga akibat serangan kusta. ‘’Mata sudah tak nampak la.. sudah buta sejak tiga tahun lalu,’’ ucap Limhong dengan bahasa Indonesia patah-patah.

‘’Kamu siapa, kamu mau tolong sayakah? Tolong saya a... saya mau obat... saya tak pernah dikasi obat a...,’’ pinta Limhong berkali-kali. Suara lirihnya cukup menyayat hati.

Dari mulut Limhong inilah diketahui bahwa sudah beberapa tahun terakhir, dirinya tak lagi mengonsumsi obat. Sehingga penyakitnya kian parah. ‘’Dokter tak mau datang la... Manteri datang tapi tak mau kasi obat a... tolong saya, saya mau obat,’’ ucapnya berulang-ulang.

‘’Di sini dokter memang pernah datang, tapi mereka cuma menengok kami saja tanpa mengasih obat,’’ timpal Kongkam membenarkan ucapan Limhong.

Diketahui pula, dulu dua bulan sekali dokter rutin datang ke lokasi yang didatangkan oleh yayasan persatuan warga Tionghoa yang oleh Kongkam disebut Yayasan Khatolik. ‘’Tapi itu waktu zaman presiden lama. Sejak presiden baru (Soesilo Bambang Yudhoyono, red) hidup kami makin susah, yayasan tak mau lagi datangkan dokter, bantuan juga dah tak ada,’’ timpal Tang Heng Sin, penderita kusta lainnya yang sudah sembuh.

Mereka dulunya mendapat obat dari Italia yang didatangkan yayasan dan tanpa disuntik. ‘’Makan obat satu kali seminggu satu tablet warna merah,’’ cerita Tang Heng.  

Berkat meminum obat yang diberikan yayasan tersebut, Tang Heng Sin dan Kongkam kini sudah berhasil sembuh dari penyakitnya, begitu juga dengan Amoy.  

Tapi, di pengasingan itu kini selain Limhong, masih ada satu lagi korban wanita yang masih sakit, bernama Atho (53). Sama dengan Limhong, Atho juga sudah tak bisa berjalan. Keseharian wanita terlihat subur ini hanya bisa duduk di tepi pintu menden-garkan siapa yang datang. Sebab, Atho pun sudah tidak bisa lagi melihat. Selain itu bagian kakinya juga sudah putus.

Asal-muasal ‘’Kampung Kusta’’
Lantas bagaimana asal-muasal kelima penderita kusta bersama dengan ratusan korban lainnya yang pernah tinggal di pengasingan tersebut bisa sampai di kampung nun jauh di sana?

Dari cerita Limhong, diketahui kampung ini sudah ada sejak zaman Jepang. Kala itu, perang sedang bergolak di kawasan Tebingtinggi, Selatpanjang. Menemukan adanya warga yang menderita penyakit kusta yang dianggap aib bagi keluarga, Jepang lantas mengasingkan mereka di tempat ini.

Jadilah sejak itu bila ada warga di lingkungan perumahan masyarakat ditemukan menderita kusta, langsung didesak oleh masyarakat sekitar untuk ‘’dibuang’’ di kampung ini.

‘’Kalau dihitung sejak zaman Jepang sampai sekarang, penderita kusta yang pernah tinggal di sini sudah ratusan orang. Di antara mereka ada yang sudah sembuh tapi ratusan pula yang tak tertolong sehingga harus dikuburkan di sini,’’ kata Tang Heng.  

Beberapa lama sebelumnya, kampung ini sempat hanya berpenghuni dua sampai tiga orang saja. Sebab anggota keluarga korban tak mau mengantarkan keluarganya yang menderita kusta di lokasi ini. ‘’Mereka cenderung memilih menyimpan korban di loteng rumah atau di lantai dua bagi yang punya ruang lantai dua,’’ cerita Kongkam.  

Namun puncaknya, kampung ini menjadi ramai hingga mencapai 19 orang saat Kota Selatpanjang ditimpa musibah kebakaran dahsyat dan menyebabkan puluhan rumah penduduk, termasuk rumah mereka-mereka yang tadinya menyimpan penderita kusta di loteng, terpaksa harus mengantarkannya ke ‘’kampung kusta’’. Musibah itu kenang Limhong terjadi sekitar tahun 1960-an silam.  

Musibah ini tak luput pula menimpa Limhong. ‘’Saya diam di sini sejak rumah keluarga kami turut terbakar. Sejak itu sebagian besar kakak dan adik serta anggota keluarga saya yang lainnya pindah ke Tiongkok. Sekarang yang tinggal di Selatpanjang hanya ada satu orang kakak. Tapi dia tak pernah datang lihat saya di sini, sudah 20 tahun lamanya,’’ sebut Limhong sudah terlihat keriput.

Sekitar tahun 1997, penghuni tempat ini kembali bertambah mencapai angka 20 orang. Karena penghuninya terbilang ramai, terpaksa satu unit rumah yang dibangun yayasan diisi oleh tiga orang. Limhong sendiri pernah serumah dengan Cuan, namun telah meninggal tahun 2000 lalu. Sekitar pengujung tahun 2006, penderita lainnya bernama Aheng menyusul Acuan menghadap Sang Pencipta. Sejak saat itu hingga kini mereka hanya tinggal berlima tanpa ada penambahan penghuni baru.

Akan halnya Tang Heng yang sudah berada di tempat ini sejak berumur 16 tahun. Diceritakan Tang Heng, dia merupakan keluarga besar 16 bersaudara. Tapi mereka berasal dari keluarga kurang mampu sehingga tak bisa berobat. Nasib Tang Heng lebih beruntung dibanding Limhong. Sebab keluarga Tang Heng yang kini telah menyebar di sejumlah negara termasuk Singapura, masih menyempatkan diri datang menjenguk Tang Heng. ‘’Tahun baru Imlek lalu mereka datang dan saya dikasih angpau,’’ ujarnya.

Menyambung Hidup Lewat Ayak
Meski sudah sembuh, namun Kongkam, Tang Heng dan Amoy tak mau meninggalkan ‘’kampung kusta’’ dan kembali hidup normal seperti orang-orang normal lainnya. Amoy bahkan lebih aneh lagi. Berasal dari keluarga cukup berada, sempat berobat ke Singapura, namun tetap memilih bergabung dengan teman-temannya sesama mantan penderita kusta.

Berkat mereka-mereka yang telah sembuh dari sakitnya inilah, Limhong dan Atho yang sudah tak berdaya bisa terbantu dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, termasuk untuk makan. ‘’Saya masak bubur sendiri, tapi sayur dimasakkan kawan,’’ cerita Limhong.  

Untuk menyambung kehidupan, lima penghuni kampung ini bekerja keras banting tulang. Terutama Kongkam dan Tang Heng yang masih sehat. Meski sekali-kali Tang Heng terpaksa jongkok karena tak tahan berlama-lama berdiri sebagai dampak dari kusta yang pernah dia idap.

‘’Hari-hari kami menganyam ayak (tapisan, red),’’ cerita Tang Heng. Ayak yang dibuat itu bahan bakunya memanfaatkan bambu yang banyak terdapat di sekitar rumah mereka. ‘’Yang ada di sini hanya bambu. Makanya kami memanfaatkannya,’’ kata Tang Heng.

Sehari, Tang Heng bisa menyelesaikan satu buah ayak. Setelah dikumpulkan selama sepekan, ayak itu lantas dibawa ke Selatpanjang untuk dijual. Oleh penampung langganan mereka, ayak hasil kerajinan tangan Hang Teng dihargai Rp28 ribu per buah.

Disebut Orang Teko
Menurut Rozali (68), salah seorang warga Desa Bokor, meski dihinggapi kusta, para penderita ini masih punya semangat hidup yang tinggi. Selain menjual ayak, mereka juga menjual ikan yang mereka tangkap sendiri di Sungai Bokor. ‘’Ikan yang mereka jual tetap dibeli warga. Tak ada warga yang merasa khawatir berinteraksi dengan mereka di sini,’’ cerita Rozali yang menyebutkan bahwa warga memanggil para penderita kusta ini dengan sebutan ‘’Orang Teko’’.

Dari lima penghuni ini, Kongkam paling sering berbelanja keperluan sehari-hari. ‘’Terakhir, sekitar setahun lalu Cuan masih datang berbelanja ke kedai saya. Tapi sekarang orang itu tak pernah kelihatan lagi. Mungkin sudah meninggal,’’ sebut pria asli Bokor ini.

Merata di Riau
Kasus kusta ini sebenarnya bukan hanya ditemukan di Desa Bokor Bengkalis. Menurut Muis, saat ini di Selatpanjang dan Pulau Rangsang, masih banyak warga Tionghoa yang menderita kusta. Tapi mereka tak diantarkan ke kampung kusta. Keluarga lebih memilih menyembunyikan mereka di rumah, baik di loteng maupun lantai dua.

Sementara, berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Provinsi Riau, penyakit kusta sebagai salah satu penyakit menular ini, terdeteksi merata di 11 kabupaten/kota se-Provinsi Riau. Pada 2007 lalu, terdeteksi sebanyak 218 kasus.

Kepala Sub Bagian Pelayanan Kesehatan dan Gizi yang juga Humas Diskes Riau drg Burhanuddin Agung MM menyebutkan, kasus terbanyak ditemukan di Kota Dumai 26 kasus, Pelalawan 33 kasus, Bengkalis 18 kasus, Indragiri Hilir 52 kasus, Pekanbaru 29 kasus, Kampar 13 kasus, Rokan Hulu 14 kasus, Rokan Hilir 13 kasus, Siak 14 kasus, Kuantan Singingi dua kasus, Kampar 13 kasus, dan Indragiri Hulu empat kasus.***

KARTINI FATTACH , wartawan Riau Pos. Tulisan ini adalah pemenang Rida Award II 2008. Dimuat di Riau Pos 13 April 2008.