Rida Award 2009

Perjuangan Pelajar Galang Menggapai Cita-Cita

Jurnalistik Senin, 16 November 2009
Perjuangan Pelajar Galang Menggapai Cita-Cita

* Bus Bisa Gratis, Nafas Malah “Bayar”

Tak ada lagi jarak antara satu pelajar dengan pelajar lainnya.  Sangat berdesakan. Untuk bernafas pun sulit. Kaki terjepit sekalipun  dibiarkan saja. Mau bergerak susah, ditahan juga sakit.  Sebenarnya, mereka tak ingin berdesak-desakan seperti ini. Tapi, kalau tak sesak seperti ikan disusun rapi, mereka tak akan sampai  ke sekolah. Tak ada ilmu yang didapat Sabtu (15/11) itu.

Oleh Martunas

Herman dan Wahyudi harus pandai-pandai mengatur penumpangnya. Dua sopir inilah ‘’ikut’’ mencerdaskan sekaligus  menjaga keselamatan para pelajar yang mengeyam pendidikan di  sejumlah sekolah di Pulau Galang dan sekitarnya, mulai dari sekolah dasar, hingga sekolah menengah atas.

Semuanya harus selamat sampai sekolah, juga saat kembali dari sekolah. Bus, yang seharusnya mengangkut 27 penumpang itu,  saban hari harus bisa mengangkut lebih dari 100 pelajar. Malah  Wahyudi kadang membawa sampai 150 pelajar. Hendak ditolak,
berarti sang supir akan membuat pelajar itu absen. Barangkali juga  kecewa.

Di Simpang Tembesi Batuaji, Sabtu (15/11) itu, bus kuning yang dikemudi Herman tampak melaju menuju SMAN 10 Galang. Jam  masih menunjukkan pukul 06.00 WIB. Hari itu, Batam News mengikuti Herman mengantar para pelajar dan sejumlah guru. Bus
pelajar gratis ini harus melaju cepat untuk mengantar guru dan pelajar yang sudah menunggunya di sepanjang jalan Tembesi hingga simpang lokasi wisata eks Kampung Vietnam, Kecamatan Galang.

Dari simpang Tembesi, ada empat guru yang langsung naik. Mereka mengajar di SMAN 10 Galang dan MTS Daarurrahman Sijantung-Galang. Para guru ini berangkat lebih awal dari rumahnya di Tanjungpiayu, Batuaji dan Sekupang agar tak ketinggalan bus.

Jika tidak, mereka harus merogoh kantongnya Rp20 ribu untuk ongkos taksi. Bahkan bisa lebih.

Selain mereka, ada juga tiga siswa SMP dan SMA. Mereka warga Tembesi, Tanjunguncang dan Tiban yang "urbanisasi" ke sekolah di Galang. Dari depan Perumahan Cipta Asri Barelang, naik juga seorang siswa kelas IV SDN 024 Tanjungkertang bernama Indah.

Bersamaan dengan Indah, naik seorang guru dan lima siswa lainnya. Sekitar 200 meter bergerak dari sana, bus harus berhenti lagi untuk  menaikkan siswa lainnya. Setelah itu, mobil melaju dan berhenti di Jembatan I Barelang untuk menurunkan siswa SDN 003 dan SMPN 14 Galang di pulau seberang tersebut.

‘’Terimakasih ya om, terimakasih ya Pak," ujar para pelajar ini dengan santun. Herman, tak lupa menjawab. "Iya, iya, iya."

Berkali-kali kalimat iya diucapkan Herman setiap hari kepada pelajar saat diturunkan di sekolah dan sepulang sekolah. Mungkin herman merasa kurang enak hati bila dijawab dengan senyum saja.

Dengan langkah kecilnya, mereka berlari-lari turun ke jalan berkerikil di bawah Jembatan Raja Haji Fisabilillah itu. Sebuah pancung sudah menunggu mereka di pelantar kayu di bawah jembatan yang jadi simbol wisata Batam. Sekitar 10 menit perjalanan laut, mereka akan tiba di sekolahnya dan belajar.Ketika mereka meneruskan perjalanannya, bus terus melaju. Di ujung Jembatan I atau perbatasan Kecamatan Sagulung dan Kecamatan Galang, bus nopol BP 7141 C tersebut berhenti lagi, tujuh siswa langsung melompat naik. Beberapa menit melaju, siswa lainnya menyetop bus dan bergegas naik. Kemudian bus masuk ke Setokok sekitar dua kilometer dari jalan utama tersebut.

Di ujung jalan itu, belasan siswa sudah menunggu. Ketika bus gratis ini muncul, para siswa yang sebelumnya duduk di aspal dan warung di tempat itu langsung berdiri. Saat mobil putar haluan dan kondisinya masih jalan, mereka sudah rebutan naik ke bus. Salah satu siswa SMP yang memegang gitar saat tampak kewalahan karena harus berjaga-jaga agar gitarnya tak tergores.

"Oii,,awas gitarku. Jangan dorong dulu," kata pria berkulit hitam itu saat rebutan naik bus.

Tugas pak supir tak sampai disitu saja. Meski bangku yang tersedia sudah penuh bahkan sudah ada yang berdiri, masih banyak siswa lainnya di sepanjang jalan yang harus dibawa.

Saat menuju Galang, masih ada puluhan siswa lainnya yang naik. Di Jembatan IV sudah menunggu beberapa siswa lainnya. Di Simpang Pantai Seranggon, Herman menaikkan lima siswa. Di Simpang Kampung Pantai Melayu naik juga belasan siswa yang baru tiba dari rumahnya di pedalaman.

Karena kondisi bus sudah padat, para pelajar yang sudah duluan dapat tempat duduk mulai saling berpangku-pangkuan. Yang berdiri makin merapat sambil berpegangan erat pada tali pegangan tangan di bus tersebut. Sebagian diantara mereka harus rela membungkukkan badan ke sandaran tempat duduk itu.

Jarak satu siswa ke siswa lainnya nyaris tak ada. Mereka terlihat  menempel bagaikan ikan rebus yang disusun rapi. Sirkulasi nafas  mereka disitu-situ saja. Saking sempitnya, tak jarang juga mereka  menghela nafas seakan sesak nafas. Karena itu, mereka yang  berdiri jarang bicara satu sama lainnya.

Tanpa ada rasa takut dengan bahaya yang dihadapinya. Pelajar lelaki terlihat asik menghirup udara sambil menggantung di pintu  mobil. Padahal, posisi sangat riskan dijemput maut jika jatuh.

Saking padatnya, perlahan-lahan posisi supir juga mulai menyempit karena siswa yang berdiri mulai pindah ke depan. Beberapa siswa SMP yang awalnya duduk di kursi mulai mengalah dan duduk di sebuah plat besi berbentuk segi empat disamping supir itu.

Batam News pun mencoba duduk di atasnya juga sambil berbincang dengan mereka. Ternyata, besi berbentuk kotak itu membakar bokong. Pasalnya, tepat di atas mesin.

Setelah melaju sekitar tiga kilometer, bus harus berhenti lagi. Beberapa siswa SD, SMP dan SMA mau naik. Dua siswa SD membawa ember bekas tempat cat. Yang siswa SMP membawa cangkul.

Menurut Linda, siswa SD, ember cat itu digunakan untuk membuang sampah karena mereka ingin sekolahnya tetap bersih. Bus ini akan meneruskan perjalanannya hingga ke SMAN 10. Di sanalah ia mangkal sambil menunggu pelajar sekolah pulang.  Sementara itu, satu unit bus pelajar gratis lainnya mulai bergerak dari ujung Galang baru (lewat Jembatan VI) dan mangkal di SMPN 22 Tanjungkertang, Galang. Dua unit bus pelajar gratis ini melayani jemputan dari dua arah. Satu unit dari Tembesi-Batam menuju Galang, satu unit lagi dari ujung Galang dan mangkal di SMPN 22 Galang.

Biasanya, Wahyudi yang mengemudikan bus pertama itu berangkat  lebih pagi dari Herman. Ia mulai bergerak dari simpang Tembesi  sekitar pukul 05.30 WIB setiap pagi langsung ke ujung Galang. Para siswa yang berada di sepanjang jalan sudah mengerti jadwal bahwa jemputan mereka adalah bus kedua.

Wahyudi membawa anak sekolah dari ujung Pulau Galang, Galang Baru (siswa dari Pulau Nguan), Air Lingka, Kampung Baru, Simpang Monggak, Tebing Tinggi, Tanjungcoleng (pulau di seberang laut), Tanjungpengapit, Blengkong dan lainnya.

Bus yang dikemudikan Wahyudi ini jauh lebih padat dibandingkan bus yang dikemudikan Herman. Setiap hari, Wahyudi harus membawa pelajar tiga kali lipat dari daya tampung bus yang sebenarnya. Jumlah kursi yang tersedia hanya 27 saja.

Daya tampung yang diperkirakan sekitar 40-50 orang. Sementara  Yudi harus membawa penumpang sekitar 150 orang. Bisa dibayangkan betapa padatnya bus tersebut. Nyaris tak ada tempat yang kosong di setiap inci sudut bus tersebut.

Ruang gerak supir tak ada lagi. Karena siswa harus duduk di dekat  kaca depan mobil tersebut. Saking padatnya, ia harus menyusun  siswa dengan hati-hati. Karena tak ada lagi tempat, ruang kosong beberapa centi di sebelah kanannya harus diisi dua orang siswa  yang ukuran badannya kecil. Kedua siswa ini berdiri dan terlihat  sangat hati-hati agar tidak menyentuh tangan Wahyudi saat  mengemudikan bus plat merah itu.

Jika tidak, ceritanya bisa lain. Putaran stir bakal terganggu. Di samping terlihat juga sebagian kaum hawa bergantungan di pintu mobil. Dalam keadaan seperti ini, tak ada lagi perbedaan antara pria dan wanita. Padatnya bus tersebut membuat ruang gerak diam.

Udara di dalam bus langsung panas dan mengalahkan cuaca dingin dan kesejukan udara di daerah hutan itu. Mereka harus berdiri tanpa bergerak antara 30-40 menit sebelum diturunkan di sekolahnya masing-masing.  

Sejatinya, pemerintah harus menyediakan empat unit bus di sana. Minimalisasi transportasi tak bisa dilakukan karena mereka waktunya sangat sempit. Selama perjalanan, naik turun penumpang dan jemputan ke dalam, satu bus butuh waktu satu setengah jam. Jika mereka bergerak pukul 06.00 WIB, maka siswa akan tiba tepat waktu di sekolah.

‘’Jadi tak bisa dua kali menjemput. Sama saja siswanya terlambat  belajar," ujar para supir itu.

Masyarakat setempat menyambut baik upaya pemerintah yang menyediakan bus gratis tersebut. Namun, melihat kondisinya, mereka sungguh tidak layak mendapatkan keadaan seperti itu.

Mereka juga warga Batam yang tak bisa dibedakan dengan siswa di kota.



Aceng Berlomba dengan Lumba-lumba (2)

Aceng berharap lumba-lumba itu datang lagi. Menemani dia menuju SD Negeri 008 Sijantung, Pulau Galang, Kota Batam. Mendayung sampan ke sekolah diiringi lumba-lumba adalah pengalaman nan membahagiakan. Sekaligus membakar semangat dia untuk menuntut ilmu.

Dari rumahnya, di Dapur I, Aceng memerlukan waktu 30 menit untuk sampai ke Sijantung, yang berada di seberang pulau dia tinggal. Selama 30 menit itu, kadang ia ditemani lumba-lumba.  Di SDN 008 Sijantung, Aceng merupakan siswa paling rajin sekolah. Ia juga juara dan dikenal anak yang sangat baik. Anak suku Tionghoa ini merupakan satu-satunya yang bersekolah dari Dapur I. Setiap hari ia mendayung sampannya sendirian. Meski hujan deras, angin ribut dan laut mulai berombak, Aceng belum pernah absen ke sekolah.

‘’Kalau hujan saya pakai jas hujan saja. Bapak sudah membelinya.

Kalau ombaknya terlalu besar, saya mendayung dari pinggir-pinggir bakau itu. Kalau jatuh pun langsung ke bakau," ujarnya seraya mengaku belum pernah jatuh selama mendayung, Senin (17/11) di Sijantung.

Aceng sudah diajari membawa sampan sejak usia lima tahun. Sehingga, ketika ia masuk kelas I SD, Aceng harus mendayung sampan sendiri. Namun, mendayung di antara loncatan ikan lumba-lumba merupakan pengalaman paling berkesan sepanjang hidupnya. "Ikannya lebih besar dari sampanku. Meloncat-loncat dekat saya pak. Tapi tak mengganggu. Lumba-lumbanya baik. Saya sampai berhenti mendayung melihat lumba-lumba berlomba-lomba," katanya begitu semangat mengisahkan perjalanan hidupnya itu.

Suranto, Kepala Sekolah SDN 008 Sijantung mengatakan kalau Aceng selalu hadir lebih awal di sekolah itu. Pukul 07.00 WIB ia sudah hadir di sekolah dan langsung belajar. Terkadang Aceng membersihkan sekolah.  Kebahagiaan Aceng ditemani lumba-lumba teraman berbeda dengan pengalaman yang diterima Bela dan kawan-kawannya  ketika menuju SMPN 22 dari Simpang Monggak. Saban hari, Bela harus berpacu untuk menghindar dari anjing yang selalu mengganggu ketika dia pulang sekolah.

Setiap pagi, ketika matahari masih bersembunyi, Bela harus  bergegas mempersiapkan diri untuk bersekolah. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Muliana, Riska, Sulaiman, Riko, Robi, Diana dan Raina, juga tengah berkemas. Sebelum matahari keluar, mereka harus terlebih dahulu keluar dari rumah. Pukul 05.30 WIB, masing-masing mereka harus bertolak menuju sekolah, bertemu dan berjalan bersama sepanjang tujuh kilometer menuju jalan utama.

Dari desa mereka di pinggir laut, perlu satu jam untuk sampai di  sebuah jalan yang melintasi Batam-Rempang-Galang. Di atas jalan yang masih bertanah liat, kaki-kaki siswa SMPN 22 Galang ini melangkah. Tak ada mobil masuk. Bus sekolah gratis pun belum ‘’berani’’ masuk ke sana, karena jalannya tak beraspal. Berjalan 14 kilometer setiap hari hal yang biasa bagi mereka. Apapun cuacanya. Di ujung aspal yang bertemu jalan ke Monggak itu  mereka harus menunggu bus gratis yang disediakan Pemerintah Kota Batam.

Bus ini memang menjadi penyelamat Bela dan rekan-rekannya untuk sampai di sekolah tepat waktu. Dulu, ketika bus pelajar gratis belum ada, mereka sering terlambat masuk sekolah. Beberapa kali sama sekali tak pergi sekolah. Pulang sekolah pun kesulitan juga  menunggu transportasi. Sering pulang pukul 16.00 WIB.

‘’Dulu, kami sering juga sampai di rumah sebelum magrib," kisah Bela.

Meski kini sudah ada bus, kebiasaan seperti dulu tetap diteruskan Bela bersama rekan perempuannya. Selain menggunakan rok,  mereka juga memakai celana panjang. Rangkap pakaian ini untuk  memudahkan aktivitas mereka menuju sekolah. Sebelum ada bus,  tak peduli lelaki atau perempuan, ketika ada truk yang lewat, ilmu loncat meloncat harus diterapkan, agar segera sampai di sekolah. Rangkap pakaian ini pun punya fungsi lain. Selain persiapan naik truk, pakaian seperti ini memudahkan Bela untuk berlari  sekencang-kecangnya ketika dikejar anjing.     Sepulang sekolah,  mereka sering dikekar anjing milik sebuah usaha peternakan ayam  tak jauh dari jalan menuju perkampungan Monggak.

Meski kejadiannya sudah berulang kali, namun si pemilik anjing  belum pernah memberikan solusinya. Rasa trauma dan takut pun  selalu menyelimuti mereka ketika pulang sekolah. Sebelum melewati lokasi ‘’rawan’’ pengejaran anjing, mereka harus  mengamati situasi dulu. Salah seorang diantara mereka bergerak  dan mengintai secara perlahan untuk melihat apakah anjing-anjing tersebut sedang mengintai mereka juga.

Jika ia, mereka akan mengalah lalu duduk sambil menahan lapar.  Bagi yang tak kuat menahan lapar berusaha menerobos musuhnya itu. Ia akan jalan pelan-pelan. ‘’Kalau dikejar, kami diam aja atau langsung duduk. Kalau lari makin dikejar. Anjing itu lebih kencang dari kami,’’ ujar Bela.

Hal ini juga membuat gurunya di SMPN 22 Galang iba kepada  mereka. ‘’Kami sudah mengusulkan agar orangtua disana berembuk dan meminta si pemilik merantai anjingnya saat pulang sekolah. Kita sangat kasihan melihat mereka. Pulang sekolah sudah lapar, harus dikejar-kejar anjing juga. Bagaimana kalau digigit dan kena rabies’’ risau seorang guru di sekolah itu.

Tapi sang guru kini bersyukur. Sangat jarang ruang kelas dalam keadaan kosong seperti dahulu. Ruang belajar kosong sering terjadi saat hujan lebat atau angin ribut. Dulu, rata-rata siswa di sana selalu datang terlambat ke sekolah. Itu karena mereka harus menunggu tumpangan mobil atau motor apa saja yang mau berhenti ketika  distop di tepi jalan. Tak peduli apakah itu konteiner, taksi, lori, mercedes benz, BMW, avanza, sepeda motor bahkan mobil pejabat sekalipus distop.

Mobil Wakil Wali Kota, Ria Saptarika saja sudah pernah distop di  sana. Mereka tak peduli siapa didalamnya. Yang penting bisa pergi sekolah. Jika saja Presiden SBY lewat dari sana saat itu, mereka takkan takut menyetopnya demi mengejar ilmu pengetahuan itu.  

Herlen, siswa asal Pulau Nguan mengisahkan bagaimana belasan siswa dari tempat itu berusaha mengejar-ngejar lori yang kebetulan lewat. Laki-laki maupun perempuan harus sigap menaiki lori tersebut.

Ketika lori penuh muatan, mereka harus rela duduk menyamping. Jika muatannya kayu, mereka harus duduk di atas gelondongan itu. Parahnya, jika muatannya pasir, mereka tetap naik meski pakaian dan sepatunya akhirnya penuh dengan pasir.

Bagi yang tak mau naik, mereka akan pulang kembali ke rumahnya. Atau harus rela masuk pukul 10.00 WIB di sekolah menunggu transport lainnya. Jika tak ada sama sekali, tak ada jalan terakhir kecuali pulang ke rumah. Namun hal ini jarang terjadi. Tak ada Istilah pilih bulu di sana.

Dari rumahnya ke tepi jalan, mereka naik pompong sekitar 20  menit. Perjalanan bisa dihentikan jika badai datang dan dan ombak  besar menghadang. Mereka takut pompongnya bisa terbalik di tengah lautan. Hal serupa juga dialami pelajar dari Air Lingka. Mereka harus jalan kaki lagi sekitar dua kilometer ke tepi jalan. Di sanalah mereka menunggu mobil yang lewat. Jika kebetulan ada taksi yang lewat, ongkosnya Rp5.000 ke sekolah.

Begitu juga dengan pelajar dari Rempangcate. Jika hujan turun, jalan sekitar 3-5 kilometer itu akan licin sehingga mobil jemputan mereka tak bisa lewat. Jika keadaannya sudah separah itu, pastilah semua siswa dari sana tak sekolah lagi hari itu. Para guru di
sekolahpun sudah memakluminya.

Terkadang ada juga siswa yang memaksakan diri harus pergi sekolah meski semua pakaiannya basah kuyup dan sepatunya sudah berubah warna merah. Yang penting buat mereka, buku harus diselamatkan. Masalah pakaian basah akan kering sendiri di badan.

Saat zaman Nyat Kadir sebagai Wali Kota Batam, ia menyumbangkan sebuah mobil jemputan. Sampai saat ini, mobil tersebut masih dipakai untuk antar jemput pelajar. Mobil jenis spacewagon itu selalu membawa 15-20 orang siswa SDN 024 dan SMPN 22 Galang. Kursi di dalam mobil tak ada lagi.

Mereka menggelar tikar didalamnya lalu para siswa duduk bersempit-sempitan. Idealnya, mobil tersebut bisa membawa 8-10 orang penumpang. Kali ini, kapasitasnya dua kali lipat. Senin (17/11) pagi lalu, Batam News mencoba mengabadikan kondisi mobil tersebut.    Ketika berhenti di depan SMPN 22 Galang, pintu belakang langsung dibuka. Satu persatu siswa berpakaian putih-biru itu keluar. Ketika dijepret 10 kali, penumpangnya tak habis-habis juga.  Ternyata, penumpang mobil berplat merah itu overload.


Yang SD Menahan Lapar, Berharap Bus Ditambah (3)

Iksan tampak begitu geram dengan rayap. Binatang ini terlebih dahulu ‘’mempelajari’’ buku-buku yang ada di lemari sekolahnya di MTS Daarurrahman. Karena rayap yang ‘’belajar’’ langsung menghabiskan buku-buku itu.

Kepada Batam News, Senin (17/11), Kepala Sekolah MTS Daarurrahman ini mengeluh kondisi sekolah tempat dia mengajar. Terutama belum adanya perpustakaan dan ruang komputer serta laboratorium. Selama empat bulan terakhir ini, semua rumah warga dan sekolah di sana tak menikmati cahaya listrik lagi. Genset yang selama ini melayani mereka tutup total.

Hingga saat ini, jumlah total siswanya 70 orang dan diajari enam orang guru. Kelas I 31 orang, kelas II 18 orang dan kelas III 21 orang. Siswanya rata-rata dari pulau. Saat badai datang, ruangan kelas langsung kosong karena siswa tak masuk. Ini sedikit kegalauan sekolah-sekolah yang ada di luar Pulau Batam.

Di antara kegalauan itu, mereka begitu bahagia dengan bus grastis yang kini disediakan Pemko Batam. Meski cuma dua.Bahrudin SAg, Wakil Kepala Sekolah SMUN 10 Sijantung mengatakan, kehadiran bus tersebut sangat membantu kelancaran proses belajar mengajar di sekolahnya. Karena siswanya sudah tepat waktu masuk sekolah. Bahkan, jumlah siswanya sudah bertambah.

Di sekolah itu, ada beberapa siswa yang sudah berusia 19 tahun duduk di kelas I. Selama ini, siswa tersebut tak mau sekolah karena kendala transportasi. Tamat SMP, ia pergi melaut. Setelah bus gratis masuk Galang, ia melajutkan pendidikannya.

"Pokoknya sangat membantulah bus itu. Siswa kami pun bertambah. Guru-guru yang tinggal di Batam tak perlu lagi menyewa taksi tiap hari. Suasana pendidikan terlihat makin semarak," ujarnya.

Apalagi pemerintah sudah menyediakan asrama siswa dan sudah mulai dioperasikan sejak Agustus lalu. Siswa yang berasal dari pulau-pulau paling jauh masuk asrama. Mereka diberi jatah hidup Rp220 ribu perbulan. Rata-rata yang tinggal disana berasal dari
Pulau Nguan, Pulau Abang, Pulau Panjang, Dapur II, Pulau Mubut dan lainnya.

Hal serupa juga diakui Jonni, Wakil Kepala Sekolah SMPN 22 Tanjungkertang. Sejak bus itu ada, jumlah siswa mereka yang mendaftar bulan Juni lalu untuk tahun ajaran 2008-2009 menjadi 90 orang. Tahun sebelumnya hanya 60 orang. Saat ini, total siswa disana 204 orang. Tahun 2007 lalu 165 orang.

‘’Bus itu memang sangat berpengaruh. Anak-anak yang malas sekolah bersemangat lagi. Makin banyak orangtua siswa yang datang ke sekolah dan menitipkan anaknya pada kami," ujarnya.

Muliana, pelajar kelas III di sekolah itu mengatakan, masih banyak anak-anak di kampung Monggak (tanah kelahirannya) yang tak sekolah karena keterbatasan biaya dan transportasi yang sangat terbatas.

‘’Kalau kita ajak sekolah mereka mau ikut. Tapi karena orangtuanya tak sanggup jadinya putus sekolah. Lagian, belum ada mobil ke kampung kami," ujarnya. Salim, seorang warga berharap agar pemerintah menambah bus pelajar. Semangat masyarakat Galang kembali bangkit untuk  menyekolahkan anak-anaknya. Selama ini, mereka kesulitan mencari biaya transportasi sehingga anak sering terlambat.

Jika anak-anak mereka naik taksi atau mobil angkutan umum, maka untuk ongkos saja Rp10 ribu setiap hari diluar belanja. Tentu ini memberatkan mereka karena hasil tangkapan ikan menurun ditambah lagi adanya larangan menebang pohon bakau.

Meski para orangtuanya sudah capek-capek mendayung sampan dari pulau dan mengantar anaknya ke pinggir jalan, namun tetap tak bisa sekolah karena tak ada angkutan. Itulah yang membuat patah semangat mereka.

Hal ini juga diakui Mitra Sukita, Kepala Perum Damri Batam yang mengoperasikan bus tersebut. Ia sering didatangi guru dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Mereka mengira Mitra Sukitalah yang bermurah hati menyediakan bus tersebut.

"Saya bilang berterimakasihlah kepada Pemko Batam. Saya hanya mengoperasikan saja," katanya menjawab.

Sejak didatangi warga, Mitra Sukita turun ke lapangan dan melihat situasi yang sebenarnya. Ia melihat bagaimana siswa disusun sepadat-padatnya di dalam bus tersebut.

"Saya sangat terharu melihatnya. Sampai merinding rasanya. Semangat mereka sangat  tinggi untuk belajar. Padahal, banyak diantara anak-anak itu yang  jalan kaki dulu baru naik bus. Hal seperti ini belum pernah saya lihat kecuali di Batam," katanya mengisahkan kondisi anak-anak miskin itu.

Herman, supir bus pelajar gratis sering mendapat bungkusan dari siswa. Kadang dapat ikan teri, sotong, cumi-cumi, udang, buah naga hingga jengkol. Pemberian itu merupakan luapan kegembiraan serta bentuk ucapan terimakasih masyarakat di hinterland sana buat pak supir.

"Anak-anak yang memberikannya sama saya. Katanya titipan dari orangtuanya. Kasi sama supir yaa. Bilang terimakasih," katanya menirukan ucapan sianak itu.

Ketika bus memasuki Air Lingka, wajah orangtua di sana terlihat sumringah. Pria kurus yang duduk diatas sampannya langsung bergerak dan mengantar anaknya ke bus. Oangtua lainnya juga bergegas keluar dari pintu sambil menatap kepergian anaknya ke sekolah. Di wajah mereka tersimpan beribu harapan. Kelak  anaknya tak melaut lagi.

Dewi, seorang siswa mengatakan, orangtuanya sangat berharap ia bisa tamat sekolah. Selama ini, ia selalu ditemani kedua orangtuanya saat belajar. Namun ia harus belajar sendiri. Jika tak mengerti tentang tugas yang sedang dikerjakannya di rumah, ia harus menunggu keesokan harinya dan bertanya pada teman-temannya atau kepada guru.

Orangtuanya tak bisa membantu karena tak sekolah. "Bapak sama mak itu tak sekolah. Taunya cuman berhitung. Itupun hitungan yang gampang-gampang aja. Tak bisa baca," katanya, datar.

Kondisi ini membuat mereka tetap tertinggal dari masyarakat di kota. Semua kebutuhan yang diperlukan sangat terbatas. Di sekolah, mereka tak dilengkapi perpustakaan dan laboratorium.

Transport ke sekolah juga susah. Rumah sangat sederhana dan serba kurang. Lampu genset yang dipakai tak seterang listrik yang dihasilkan PLN. Tak ada yang bisa mengajari mereka kecuali gurunya di sekolah.

Memberantas buta huruf di hinterland sudah dilakukan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sagulung. Sejumlah orangtua siswa diajari baca tulis. Bagi yang lulus, mereka akan diberi surat keterangan melek aksara (SUKMA). Namun, karena keterbatasan dana, hanya beberapa tempat saja yang bisa mereka kunjungi.

Harapan warga hinterland agar bus pelajar ditambah makin kandas. Para pemegang kebijakan di daerah ini sepertinya kurang peduli dengan kondisi mereka. Perwakilannya di DPRD pun jarang mengunjungi warga tertinggal ini. Bagaimana bisa mengerti situasi mereka?

Kondisi para guru yang harus bersempit-sempitan dengan siswa di dalam bus pelajar ini membuat Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Batam turun bicara. Rustam Efendi, Ketua PGRI Batam berharap agar disediakan bus khusus untuk guru-guru hinterland.

"Kalaupun tak ada, setidaknya bus pelajar yang ditambah agar guru-guru di hinterland bisa duduk lebih tenang," ujarnya.

Harapan warga pun kandas. Mobil yang diharapkan bisa bertambah tahun 2009 ini bakal tak tercapai. Dua dinas di lingkungan Pemko Batam yang seharusnya berkordinasi untuk penyediaan bus itu malah saling lempar tanggungjawab.

Ketika keluhan warga ini disampaikan ke M Yazid, kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam, ia mengaku tak mengurusi bus pelajar tersebut. "Langsung tanyakan ke dinas pendidikan saja.

Mereka yang tau kebutuhan di sana, bukan kita (Dishub, red),"  ujarnya kepada Batam News saat ditemui dalam pelepasan Jamaah Calon Haji (JCH) di Asrama Haji Batamcentre.

Batam News lalu mencoba mencari jawabannya ke pihak dinas pendidikan. Drs Muslim Bidin MM, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam sedang naik haji. Tinggal Zarefriadi, Sekretaris Dinas Pendikan Batam yang bisa memberi jawaban. Jawabannya pun jauh dari harapan warga miskin disana.

Zarefriadi mengatakan dinas pendidikan mengurusi bagian pendidikan, bukan mengurusi bagian transportasi atau perhubungan. "Tepatnya ditanya ke dinas perhubungan saja. Kalau busnya ada, kita operasikan. Masa kita yang mengurusi pendidikan harus mengurusi transportasi juga? ujarnya saat ditemui disela-sela lomba tari Kreasi dan Langgam Melayu dalam rangka HUT PGRI ke-63 di Mega Mall Batamcentre.

Sekadar mengingatkan kembali, dua unit bus pelajar gratis ini mulai dioperasikan tahun 2007 lalu. Bus ini disediakan Pemko Batam dan dioperasikan Perum Damri. Awalnya, bus ini hendak dioperasikan Dana Sosial Nurul Islam (DSNI), sebuah lembaga sosial di kawasan industri Batamindo Mukakuning.

Dari perencanaan awal, kursi yang tersedia hanya 27 saja. Jika harys berdiri, bus ini dinyatakan bisa menampung hingga 37 orang. Kenyataan di lapangan, satu bus bisa membawa pelajar diatas 100 orang. Bahkan mencapai 150-an orang. Jika saja tak ada penambahan bus disana, maka anak-anak bangsa tersebut harus menahan derita satu atau lebih setahun lagi. ***

Martunas adalah wartawan Batam News. Tulisan ini masuk nominator Rida Award III 2009 yang dimuat di Batam News, 17,18, 19 November 2008