Nominator Rida Award 2010

Konflik Gajah dan Manusia di Bengkalis

Jurnalistik Jumat, 15 Oktober 2010
Konflik Gajah dan Manusia di Bengkalis

Mati pun Kehilangan Gading
Bagi warga di Kecamatan Mandau dan Pinggir, keberadaan gajah liar sudah seperti ‘saudara tiri’. Kedatangan hewan berbadan besar ini pun bukan lagi sebagai tamu asing. Meski tak pernah diundang, namun kedatangan ‘tuk belalai’ (begitu istilah warga) tetap saja merisaukan. Konflik gajah dan manusia di dua daerah itu, ibarat konflik di ‘Gaza’ yang tak berujung. Sudah puluhan ekor gajah mati diburu. Sebaliknya, korban jiwa dan materi juga tak sedikit jumlahnya.

Laporan, M SONDRA AL HAFIDZ, Dumai

JARUM jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB. Susana di pagi hari Senin (12/4) di Desa Perkebunan Petani Kecamatan Mandau, Kabupa¬ten Bengkalis itu memang masih terlihat lengang. Belum banyak terlihat aktivitas warga. Hanya sebagian saja yang sudah pergi ke perkebunan sawit. Tak terkecuali Sangkot Rambe (32). Bagi warga Jalan Lapangan Heli Kilometer 12 Pematang ini yang memulai ak¬tivitasnya dengan membersihkan perkebunan sawit.

Namun baru memulai aktivitasnya, pria paruh baya ini sudah dikejutkan dengan keberadaan tamu tak diundang. Seekor gajah liar setinggi atap rumah sudah tegak berdiri tepat di sampingnya. Sangkot hanya bisa termangu dan gugup. Jarak yang sangat dekat sekali dengan gajah, membuat Sangkot tidak bisa bergerak cepat menyelamatkan diri. Tubuhnya langsung ditendang seperti bola berulang-ulang kali.

Sangkot sempat meminta ampun kepada gajah, dengan memanggil sebutan datuk, karena dirinya sudah tidak tahan lagi digelinding terus menerus seperti bola tanpa henti. ‘’Ampun datuk...ampun datuk...ampun datuk, saya sudah tak kuat lagi, saya minta ampun datuk,’’ kata Sangkot mengulangi apa yang dikatakannya kepada gajah sebelum dia pingsan sambil memegangi kaki hewan tersebut, agar tidak menendang dirinya lagi.

Aksi penyerangan hewan liar terhadap Sangkot Senin (12/4) sudah yang kesekian kalinya. Sebelumnya, Suwanto (30) warga RT2/RW1 Desa Petani Kecamatan Mandau tewas seketika setelah diinjak gerombolan gajah, Rabu (2/6) sore sekitar pukul 16.30 WIB. Kondisi ayah dua anak ini cukup mengenaskan, tubuhnya hancur tak berbentuk.
Peristiwa naas itu juga dipicu keberadaan gajah yang dirasakan warga sudah cukup menggangu kehidupan mereka. Bahkan hampir seminggu warga harus melakukan ronda malam untuk mengusir gajah-gajah tersebut. Bermula saat Suwanto beserta warga lainnya sudah melihat datangnya segerombolan gajah sekitar 16 ekor masuk area perkebu¬nan dekat lokasi PT CPI area Bekasap 09 kilometer 09 Desa Petani. Takut gajah memasuki perkampungan, belasan warga Jalan Siak Ujung mengusir ‘sang datuk’ dengan petasan.

Mendengar suara petasan dibunyikan, gerombolan gajah tersebut sempat kabur. Melihat itu, warga semakin bersemangat mengejar untuk memastikan hewan bertubuh besar itu benar-benar meninggal¬kan lokasi. Ternyata, gajah berbalik arah dan balik menyerang warga. Melihat gajah mendekat ke arahnya,  belasan warga jadi berpen¬car untuk menyelamatkan diri. Malang bagi Suwanto. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjaga kebun ini tak sempat menghin¬dar. Alhasil, korban tewas, jadi sasaran injakan kaki ‘sang datuk’. Hingga, sekujur tubuhnya hancur dan isi perutnya keluar.

Perseteruan warga dengan hewan dengan sebutan Elephant maximus sumateranus ini di Kecamatan Mandau dan Kecamatan Pinggir berlang¬sung lama. Entah siapa yang memulainya, apakah warga mulai mengu¬sik hutan sebagai habitatnya, atau sebaliknya gajah lah yang ingin mencari sumber makanan baru dengan cepat. Tapi, faktanya, perseteruan saling merusak itu sudah berlangsung lama dan memakan korban jiwa di kedua belah pihak.

Padahal  dari sejarah diketahui kalau manusia dan gajah sangat dekat dan menguntungkan. Keberadaan gajah bagi masyarakat untuk bertani, berkebun, dan yang paling handal, gajah yang sebelumnya telah dijinakkan biasanya digunakan sebagai transportasi angkut barang dan manusia.

Warga Mandau dan Pinggir sendiri pun sudah frustasi dan putus asa menghadapi serbuan hewan besar tersebut. Kepala Desa Petani, Rianto mengatakan, warga sempat menelusuri dan memantau pergerakan kelompok hewan berbadan besar tersebut. ‘’Daya jelajahnya luar biasa, diperkirakan gajah liar berkelom¬pok mulai 5-7 ekor keluar hutan menyusuri jalur tradisional yang biasa mereka lakukan untuk mencari makanan ke perkampungan dan ladang penduduk di sekitar Dusun Belading, Dusun Bulu Manis, Lapangan Heli, dan Pasar Pagi,’’ ujarnya.

Peristiwa yang baru-baru ini terjadi, saat rumah  Anas Nasution (52)  Jumat (18/6) malam lalu pukul 19.30 WIB di Jalan Pipa Air Bersih RT 11 RW 5 Desa Balaimakam Kecamatan  Mandau dirusak. Rumah berdinding papan  dan beratap seng berukuran 4x 8 meter tersebut ringsek setelah diserbu gajah yang kelaparan mencari makanan. Beruntung, Annas bersama seluruh anggota keluarga yang semula terperangkap di dalam rumah berhasil menyelamatkan diri. Hanya, rumah dan seluruh isi makanan di dapur yang dirusak. Tingginya konflik gajah itu juga terlihat dari catatan kepoli¬sian. Dari laporan Polisi Sektor Mandau, Bengkalis menyebut, sepanjang tahun 2008 hingga awal 2009 ini, setidaknya ada tujuh kali kawanan gajah menyerang perkampungan penduduk.

Mati, Tak Lagi Tinggalkan Gading

Meningkatnya konflik gajah dengan manusia juga berdampak pada keberlangsungan hidup hewan yang mungkin sebentar lagi akan langka ini. Tidak saja sumber mata pencarian yang mulai menipis, tapi juga ‘tuk belalai’ ini juga diburu oleh pihak tak bertanggung jawab.

Bangkai gajah ditemukan warga desa Petani Km 16, Kecamatan Mandau sejak Sabtu (20/3) lalu, sudah  membusuk dengan belalai terpisah dan tanpa gading. Bangkai gajah yang dipenuhi ulat belatung itu diketahui warga di daerah tersebut karena mencium bau bangkai yang sangat menyengat. Bangkai gajah sumatera (elephant maximus sumateraonsis) hanya berjarak 50 meter dari jalan utama, tepatnya pada satu kawasan hutan di PT CPI Km 17 Desa Petani  Kecamatan Mandau.

Memang belum diketahui penyebab matinya hewan berbadan besar tersebut. Namun, dari bukti dan kesaksian warga, diduga kuat gajah sebesar induk sapi itu sengaja dibunuh dengan cara ditem¬bak. Pembunuhan sengaja dilakukan oleh orang profesional, karena memang sebelumnya warga mendengarkan tiga kali tembakan. Kematian manusia akibat diinjak gajah jika dilihat data 2007, 2008 dan akhir 2009, berbanding lurus jumlahnya dengan kematian gajah. Berdasarkan data WWF Riau pada tahun 2007 terdapat 24 ekor gajah yang mati, kemudian 2008 sebanyak enam ekor yang mati, lalu pada 2009 sebanyak sembilan ekor dan hingga 24 Maret 2010 terca¬tat seekor gajah yang mati.

Kendati terlibat konflik, namun kematian hewan berbadan besar ini disesali warga. Seperti diungkapkan Kepala Desa Petani Riyan¬to Selasa (23/3) lalu, bahwa kematian gajah tersebut kemungkinan dilakukan pihak tak bertanggung jawab. ‘’Ini baru yang pertama kalinya di tahun 2010, ditemukan gajah tewas di daerah Desa Petani, kita juga inginkan kematian satwa yang dilindungi undang-undang ini terus dilakukan penyelidikan,’’ ulas Riyanto.

Habitat Baru

Kondisi hutan menipis, gundul dan beralih fungsi menjadi perkebunan sawit memaksa gajah mencari sumber makanan untuk bertahan hidup. Daerah yang paling sering didatangi kawanan gajah tentu saja perkampungan terdekat yang dulunya adalah merupakan garis daerah laluan mereka. Beberapa desa di Kecamatan Mandau dan Pinggir adalah menjadi kawasan tempat berlindung kawanan gajah paling banyak ditemukan. Di antara titik atau kawasan tempat berlindung gajah yakni Km 9 dan 15 Jalan Rangau, Jalan Siak Perbatasan antara desa Petani dan Kelurahan Airjamban, Hutan tipis kawasan pemakaman Tengku Cik Simpang Lima, Km 12 Kulim jalan lintas Duri-Dumai. Perkampungan di sekitar tempat berlindung gajah sering menjadi  sasaran untuk mencari makanan. Desa Pinggir menyusuri Balai Raja masuk ke Komplek PT Chevron Pasifik Indonesia lalu melintasi Kelurahan Pematang Pudu.

Kepala Desa Petani, Rianto kepada Dumai Pos, Jumat (25/6) menyebutkan desa dan kawasan tersebut merupakan lokasi yang dulunya memang adalah rute lintas gajah. Namun, seiring perkem¬bangan, lokasi itu sudah beralih fungsi dari dulunya hutan menja¬di perkebunan sawit. Seiring dengan gundulnya  hutan stok makanan gajah juga teran¬cam punah. Sehingga untuk bertahan hidup kawanan gajah liar masuk ke perkampungan warga dalam sebulan beberapa kali. ‘’Gajah liar Mandau tidak dapat direlokasikan. Sebab semakin mengganas seiring sumber makanan juga makin menipis dan hutan tidak ada lagi. Gajah dapat bertahan hidup dikawasan yang sejuk. Kawanan gajah tidak tahan dengan terik panas matahari di siang hari,’’ ulasnya.

Karena tempat berlindung gajah tidak jauh dari perkampungan warga, sambungnya, keselamatan jiwa manusia terus terancam. Konflik manusia dengan gajah, akibat dari pengerusakan alam. Hutan di Kecamatan Mandau dahulunya masih lebat dengan berbagai kayu berukuran besar kini menjadi gundul. Sebagian besar hutan yang juga tempat berlindung gajah sudah menjadi lahan perkebunan. ‘’Satu sisi manusia ingin bertahan  hidup. Demikian juga dengan gajah liar tersebut mencari sumber makanan ke perkampungan warga. Karena di sanalah banyak tersedia berbagai jenis maka¬nannya. Di antaranya batang sawit muda, pepaya, pisang, nangka, palawija dan jenis tanaman lainnya,’’ jelasnya.
Perkampungan warga yang dekat dengan tempat berlindung  gajah,  tambahnya, siaga satu dan dua setiap hari. Kedatangan tamu tidak diundang tersebut biasanya menjelang hari gelap hingga pagi hari. Sementara siang hari kembali tempat berlindung di sejumlah titik dan sering berpindah-pindah.

Kepala Balai Konversi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau Trisnu Danisworo memperkuat berkurangnya habitat gajah di Mandau. Ia mengatakan delapan dari sembilan kantong habitat gajah atau lahan konversi di Riau mengalami kerusakan berat. Hanya satu kantong kawasan yang masih bisa menjadi habitat gajah di hutan lepas. Satu kantong habitat gajah yang masih tergolong baik bagi binatang ini berada di Taman Nasional Tessonilo. Sementara hutan lainnya sudah rusak menjadi lahan kritis atau menjadi kawasan perkebunan sawit, permukiman warga, sekolah bahkan kantor kepala desa, seperti di Kecamatan Mandau dan Ping¬gir, Kabupaten Bengkalis.

Ia mengatakan, untuk kantong gajah di Kawasan Balai Raja, dari 16 ribu hektare kawasan yang masuk dalam Suaka Margasatwa Balai Raja, setelah dilakukan pengukuran ulang, hanya tersisa 300 hektare. ‘’Setelah dilakukan klarifikasi, ternyata selebihnya sudah menjadi kawasan perkebunan, permukiman warga, sekolah, bahkan kantor pemerintah desa,’’ katanya.

Dengan kondisi seperti itu, menurut dia sulit bagi BKSDA untuk menjaga kawasan habitat gajah di Balai Raja, bahkan untuk mence¬gah terjadinya konflik antara gajah dengan manusia, seperti yang terjadi di Desa Petani, Bengkalis, yang sebelumnya merupakan lintasan gajah. Akibat lahan di Mandau dan Bengkalis yang menipis, konflik gajah dan manusia sama-sama mati di tempat ini untuk mempertahan¬kan arealnya masing-masing bagi kelangsungan hidupnya masing-masing pula.Tewasnya manusia akibat diinjak gajah, akan dibalas juga dengan kematian untuk gajah.

Dari data yang dihimpun diketahui, hilangnya kawasan konservasi gajah bernama Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja seluas 18 ribu hektare yang diubah jadi sebuah kota kecil juga diduga menjadi pemicu eksodusnya kawanan gajah. Tempat berdirinya Kantor Camat Pinggir, pabrik kelapa sawit, dan pemukiman penduduk yang saat ini sudah menjadi sebuah pedesaan bernama Desa Petani. Di kawasan yang ditetapkan menjadi kawasan konservasi gajah sejak tahun 1986 hingga saat ini tersebut telah berubah menjadi kawasan kantor camat, perkebunan dan pabrik kelapa sawit serta permukiman penduduk.

Untuk mengantisipasi kerawanan itu, pada tahun 1993 dilakukan penataan batas kawasan sepanjang 51 Km. Pada tahun 1993 itu berhasil dituntaskan tata batas sepanjang 33,72 Km. Dalam penataan batas itulah diketahuilah bahwa di dalam kawasan telah berdiri sejumlah kebun karet dan sawit. Bahkan naasnya pada tahun 1995, pos jaga untuk kawasan SM Balai Raja itu dibakar oleh pihak tertentu, tidak diketahui motif dan tujuan pastinya.

Namun, karena telah ditunjuk sebagai kawasan konservasi maka kawasan tersebut tetap harus dipertahankan. Untuk itulah tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan patroli dan operasi gabungan di kawasan itu, walau tidak secara rutin. Dari sekitar 18 ribu hektare kawasan konservasi SM Balai Raja yang tersisa hanya sekitar 500 hektare. Itu pun adalah Hutan Lindung Talang yang terletak di tepi Kompeks Perumahan Talang Chevron. Selebihnya kawasan konservasi yang membentang dari Kantor Camat Pinggir hingga ke Hutan Lindung Talang telah berubah menjadi sebuah kota kecil yang dilengkapi berbagai fasilitas umum termasuk pabrik kelapa sawit, kebun kelapa sawit dan perumahan penduduk yang terus meluas.

Tidak itu saja, kawasan konservasi gajah lainnya yang letaknya tak jauh dari SM Balai Raja yakni Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga, Duri, seluas 5.873 hektare juga ikut digarap. Tempat sekolah gajah itu sempat dibakar dan dirambah secara besar-besar¬an hingga akhirnya tidak bisa dipertahankan. Kawanan gajah itu akhirnya ditumpang-titipkan di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Kasim (SSK) yang kemudian dikenal dengan nama PLG Minas.

WWF Riau juga menyebut konflik gajah lebih pada yang disebut jalur jelajah gajah. Secara periodek dalam kuran waktu tertentu, kawanan gajah tetap melewati kawasan yang sama. Tapi yang jelas kerusakan hutan  menjadi faktor utama  menajamnya konflik gajah dan manusia. Koordinator Jaringan Kerja Penyelamatan Hutan Riau (Jikalahari), Susanto Kurniawan mengatakan, degradasi hutan dan peralihan fungsi hutan membuat konflik gajah menajam. Menurut catatan Jikala¬hari, laju kerusakan hutan Riau dalam 5 tahun terakhir mening¬kat. Tercatat dari 8 juta hektare kawasan Riau, saat ini hanya tinggal 1,2 juta hektare hutan. Dari jumlah yang tersisa itu, malah 15 persennya sudah gundul dan menjadi semak belukar. Illegal logging dan amburadulnya penataan hutan merupakan  faktor penyebab terjadinya berkurangnya habitat gajah.

Masih bisakah kawanan gajah liar dilindungi dari perambahan hutan? Meski dinilai lamban dan berat, namun implementasi Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) tentang Penetapan Riau sebagai Pusat Konservasi Gajah Sumatera dapat segera dilaksanakan secara terpadu. Dalam hal ini termasuk segera diadopsinya protokol mitigasi konflik antara gajah dan manusia dan dilaksanakannya upaya penegakan hukum terhadap pelaku pembunuhan gajah. Permenhut Nomor P.54/Menhut-11/2006 yang dikeluarkan di Jakar¬ta 19 Juli 2006 lalu memuat kebijakan yang dapat mengatasi akar permasalahan konflik gajah dan manusia.

Butir-butir penting di dalamnya antara lain mencakup penyusu¬nan rencana aksi konservasi gajah Sumatera; penghentian konversi hutan alam untuk tujuan apapun; evaluasi pemanfaatan hutan untuk kepentingan non kehutanan; pertahanan kantong-kantong habitat gajah yang tersisa; pembangunan koridor antar kantong-kantong habitat gajah antara Taman Nasional Tesso Nilo dan Suaka Rimbang Baling dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh; serta penetapan dan pelaksaanaan protokol penanganan konflik gajah dan manusia. WWF akan membantu teknis pelaksanaan butir-butir peraturan tersebut di lapangan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

‘’WWF menyambut baik dikeluarkannya peraturan ini, mengingat pengendalian dan penanggulangan konflik gajah dan manusia sangat terkait dengan kebijakan tata ruang dan tata guna lahan,’’ kata Nazir Foead, Direktur Program Kebijakan WWF-Indonesia. ‘’Kebijakan pemerintah untuk menghentikan konversi hutan alam yang tersisa, agar tidak memperparah konflik satwa dengan manusia adalah kepu¬tusan yang sangat relevan untuk kondisi hutan Riau saat ini.’’

WWF mencatat dalam 23 tahun terakhir tutupan hutan Riau telah berkurang hingga 57 persen dari 6,4 juta hektare menjadi 2,7 juta hektare akibat aktivitas konversi. Hilangnya tutupan hutan habitat gajah sumatera itu berdampak pada semakin meningkatnya konflik antara gajah dan manusia. ‘’Konflik gajah dan manusia di Riau khususnya di Bengkalis akan terus terjadi, dan dipastikan korban akan terus bertambah selagi tidak ada lokasi khusus yang disiapkan untuk menampungan kawanan gajah-gajah itu,’’ jelas Syamsidar.

Kepala BKSDA Riau, Trisnu Danisworo, mengaku pihaknya cukup kesulitan untuk menghalau kawanan gajah di Bengkalis dan hanya mengandalkan tim gajah jinak guna mengusir gajah dari perkampun¬gan warga dan menghindari jatuhnya korban kedua belah pihak. ‘’Satu-satunya cara adalah mengembalikan kawasan Suaka Margasat¬wa Balai Raja, karena jika merelokasi gajah liar itu akan menim¬bulkan masalah baru sebab mereka butuh waktu beradaptasi di habitat yang baru dan membutuhkan biaya yang besar,’’ ujarnya.

Namun yang pasti populasi kawanan gajah liar di Bengkalis itu kian terus berkurang akibat konflik dan kini jumlahnya diperkira¬kan hanya tinggal sekitar 45 ekor. Jika kondisi hutan sebagai habitat gajah terus dibiarkan diram¬bah dan disulap menjadi perkebunan, kejadian ‘saling bunuh’ antara manusia di dua kecamatan yakni Mandau dan Pinggir tetap akan terjadi.***

M Sondra Al Hafidz, jurnalis Dumai Pos


Related Post