Nominator Rida Award 2010

Dan, Sejarah Bintan pun Harus Ditulis Ulang

Jurnalistik Jumat, 15 Oktober 2010
Dan, Sejarah Bintan pun Harus Ditulis Ulang

Penemuan Situs Sejarah Bukit Kerang di Kawal

Jalan setapak itu begitu panjang dan berliku. Lepas dari kampong terakhir, hanya ada rerimbunan pepohonan sawit. Menelusuri jalan setapak membelah perkebunan sawit itu, ternyata mengantarkan kita menguak jejak sejarah manusia Bintan.

ROBBY PATRIA, Tanjungpinang

SEMUA bermula pada tahun 2005. Ketika itu, Aswandi Syahri, seorang penulis buku-buku sejarah di Kepri tengah melakukan penggalian data tentang cerita rakyat di Kepri. Satu di antara lokasi penelitiannya adalah di kawasan Kawal, sebuah desa di tepi Pantai Trikora, sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Tanjungpinang. Secara administratif, kawasan ini masuk wilayah Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan.

Kawal adalah kampung tua yang banyak menyimpan kisah masa lalu. Dalam pembicaraan singkat dengan Lurah Kawal, saat itu Aswandi mendapat informasi tentang adanya peninggalan sejarah yang berbentuk benteng. Orang kampung menamainya dengan sebutan Benteng Batak.

Naluri Aswandi pun cepat bergerak. Setelah mengumpulkan berbagai serpihan informasi awal, ia langsung melakukan pelacakan. Tidak mudah menemukan tempat yang dimaksud, sebab, kisah tentang Benteng Batak itu lebih mirip dongeng. Bisa saja memang ada tempat yang dimaksud pada zaman dahulu, namun apakah ia benar-bena berwujud seperti benteng, atau ada kisah lain yang melatarbelakanginya, sulit terlacak.

Tapi dari pencarian Benteng Batak itulah, Aswandi justru mendapatkan hal lain yang bisa jadi akan mengubah pandangan orang tentang sejarah Bintan. "Waktu itu jalannya kecil. Saya menggunakan mobil untuk menerobos lokasi," ujar Aswandi, kepada Tanjungpinang Pos, belum lama ini.

Ia saat itu memang tidak menemukan Benteng Batak, melainkan sebuah tumpukan kerang di perbatasan perkebunan sawit. Kerang adalah sejenis hewan laut yang memang digemari oleh masyarakat untuk dikonsumsi. Lokasi penemuan tumpukan kerang itu berada di Kawal Darat.

Sekilas, tidak ada yang menarik dari tumpukan sampah kerang itu. Memang ada yang mengundang tanya, yakni mengapa kulit kerang dalam jumlah besar ditumpuk di suatu tempat hingga membentuk sebuah gundukan tanah. Dan berdasarkan informasi yang berhasil digali Tanjungpinang Pos dari warga di kawasan Kawal, ada sisi lain yang menarik dari tumpukan kulit kerang itu. “Pernah juga beberapa orang datang ke sini. Mereka menginap dan seperti bersemadi. Entah apa yang mereka cari, kami tidak tahu,” ujar seorang warga.

Tapi bagi Aswandi yang sempat mendalami sejarah, tumpukan kerang itu bukan sekadar tempat yang memiliki aura mistis saja, melainkan juga sebuah jejak peninggalan sejarah yang nyaris terkubur seiring berjalannya waktu.

Tumpukan kerang itu dalam istilah sejarah dikenal dengan sebutan kjokkenmoddinger. Kjokkenmoddinger sendiri berasal dari bahasa Denmark, yang berarti bukit kerang, atau sampah dapur. Bukan sekadar sampah dapur biasa, tapi kjokkenmoddinger adalah jejak peninggalan manusia purba di zaman prasejarah.

"Tumpukan kerang itu merupakan sampah dapur pada masa prasejarah," kata Aswandi. Kemudian ia menginformasikan temuan itu ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bintan. Disparbud pun langsung meminta Pusat Penelitian Arkeologi Nasional untuk menyelidiki temuan tersebut. Selang beberapa waktu, temuan ini juga dipublikasikan di media massa.

Akhirnya Pusat Peneliti Kebudayaan Arkelogi Nasional melakukan penelitian. Dengan dilatarbelakangi rasa ingin tahu yang kuat, Aswandi juga sempat mengirimkan foto penemuan tersebut ke Arkeolog di National University Singapura (NUS) Professor Jhon Micsick. Jhon sendiri menyarankan kepada Aswandi agar menjaga lokasi penemuan, mengingat tingginya kandungan sejarahnya.

Bisa jadi Aswandi bukanlah orang yang pertama menemukan tumpukan kerang yang memiliki nilai sejarah yang kuat itu. Sebab sebelumnya, selain warga kampung yang sering lalu lalang untuk mencari rumput di kebun, juga ada sejumlah orang yang tertarik dengan persoalan mistis mengunjungi tempat tersebut. Namun apa yang dilakukan oleh Aswandi adalah merupakan bagian dari upaya menguak jejak sejarah Bintan.

Teka-Teki Sejarah

Pendulum waktu terus bergerak cepat. Sejak Aswandi mengunjungi tempat tersebut pada tahun 2005, informasi pun tersebar cepat. Sejumlah kalangan pun berdatangan ingin melihat dengan mata-kepala sendiri, seperti apa bentuk tumpukan kerang itu. Di penghujung tahun 2008, sejumlah arkeolog Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batu Sangkar, Sumatera Barat mengunjungi tempat tersebut. Kemudian Balai Arkeologi Medan juga melakukan penelitian di tempat yang sama.

Dari titik inilah, sejumlah pertanyaan muncul ke permukaan. Kalaulah benar tumpukan kerang yang ditemukan di Kawal Darat itu adalah peninggalan manusia prasejarah di Bintan, berarti ada sebuah kehidupan panjang yang telah berlangsung di tempat ini, bahkan sejak sebelum dimulainya penghitungan tahun masehi. Apalagi saat melakukan penggalian di sekitar lokasi bukit kerang itu, para arkeolog dari BP3 Batu Sangkar juga menemukan fosil kapak genggam (pabble), atau lebih spesifik lagi adalah kapak sumatera (sumateralith). Hasil penemuan itu sempat beberapa bulan dibawa ke laboratorium.

Penemuan fosil kapak genggam ini kemudian akan memperkuat bukti sejarah di kawasan Kawal tersebut. Setidaknya bagi buku sejarah di Tanah Melayu, dapat ditambah satu bab lagi, yang khusus mengupas tentang kehidupan di rentang waktu prasejarah. Sebab, sejarah Bintan yang sampai ke masyarakat pada saat ini baru terlacak pada pendulum waktu sekitar 900 masehi sampai 1100 masehi, di mana pernah berdiri sebuah kerajaan di kaki Gunung Bintan. Dalam sejumlah buku sejarah, termasuk di antaranya Hikayat Hang Tuah: Analisa Struktur dan Fungsi yang ditulis oleh Guru Besar UGM Sulastin Sutrisno memang menguatkan bahwa di kaki gunung itu pernah berdiri sebuah kerajaan.

Lantas bila menilik lagi satu buku Kota Kara dan Situs-Situs Sejarah Bintan Lama yang ditulis oleh Aswandi Syahri, pada sekitar tahun 1512-1513 masehi di kaki Gunung Bintan, atau di kawasan yang dikenal sebagai Kota Kara, juga pernah menjadi pusat pemerintahan Sultan Mahmud. Jatuhnya Kota Melaka ke tangan Portugis pada 1511 membuat Sultan Mahmud dan rombongan menyingkir ke selatan. Diperkirakan, ia dan rombongan sampai ke Bintan setahun setelah Melaka jatuh. Kemudian Sultan Mahmud pun membangun basis pertahanan di sekitar kaki Gunung Bintan. Keberadaan bukti sejarah di kaki gunung itu juga kemudian dikuatkan oleh adanya sejumlah makam tua.

Bila melihat dari dua data di atas, artinya titik sejarah Bintan terjauh yang bisa ditarik adalah pada pendulum waktu sekitar 900 masehi. Sementara sebelum itu, semua masih merupakan sebuah teka-teki sejarah yang gelap. Nah, dengan penemuan bukit kerang di Kawal tersebut, maka bisa sedikit menguak jejak masa lalu manusia Bintan.

Bukit Kerang

Makna keberadaan tumpukan kerang di Kawal itulah yang telah menjadi magnet para pencinta sejarah untuk melakukan kajian lebih dalam. Dahsyat Gafnesia, seorang peminat masalah sejarah Melayu yang sebelumnya pernah bekerja sebagai peneliti sejarah di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Tanjungpinang mengatakan bahwa kjokkenmoddinger bukanlah barang baru di pesisir timur Pantai Sumatera. Di Aceh dan Medan, para peneliti juga sudah pernah menemukannya.

Namun satu misteri besar yang belum terpecahkan adalah, bila di Aceh bukit kerang itu ditemukan dengan jarak 130 kilometer dari bibir pantai, maka di Kampung Hulu Kawal, Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, bukit kerang itu hanya berjarak 700 meter dari bibir pantai. Lantas apakah bukit kerang itu?

Dahsyat menjelaskan bahwa bukit kerang bisa jadi adalah tumpukan sampah dapur. Waktu itu, bisa jadi manusia purba memakan kerang sebagai santapan keseharian, mengingat sampai saat ini saja, kerang masih banyak ditemukan di bibir Pantai Trikora. Saat itu, menurut Dahsyat, bisa jadi ada semacam kepercayaan mereka bahwa setelah memakan isinya, maka kulit kerang tak boleh dibuang sembarangan, melainkan harus ditumpuk di satu tempat. Selain itu, juga mungkin waktu itu ada konsepsi manusia prasejarah yang memandang kerang sebagai hewan suci, yang akan kualat bila membuang sembarangan.

Bukit kerang yang ditemukan di kawasan Kawal itu sendiri memang tidak terlalu tinggi. Bentuknya tidak sampai menjadi bukit, melainkan hanya sebatas tumpukan kerang saja. Tingginya saat ini dari permukaan tanah sekitar empat meter, atau 12 meter di atas permukan laut. Lebar gundukan bukit kerang mencapai 18 kali 24 meter.

Bisa jadi pada masa lalu, tinggi tumpukan kerang itu di atas empat meter. Namun karena berjalannya waktu, tinggi tumpukan kerang semakin berkurang. Apalagi di bagian tengah tumpukan kerang itu kini sudah ada lubang.

Kemunculan lubang itu jauh terjadi sebelum para arkeolog melakukan penelitian. Diperkirakan warga setempat, ada orang yang menggalinya untuk keperluan mengambil benda tertentu. Warga kampung sekitar tempat tersebut sendiri sudah menemukan keberadaan bukit kerang sekitar tahun 1960-an, seiring pembukaan hutan menjadi kebun-kebun warga. Sebelumnya ada dua tumpukan kerang, namun yang satu kini sudah nyaris rata dengan tanah.

Dalam penelitiannya, tim arkeolog dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batu Sangkar, selain menemukan gundukan kerang setinggi empat meter, juga masih ada batu yang diduga sebagai kapak genggam manusia purba, dan satu lagi, serpihan tulang kepala manusia purba.

Jejak Pengembaraan Manusia Prasejarah Bintan

Dan di awal 2009, hasil penelitian yang ditunggu itu pun dipublikasikan. Dan kemudian sejarah Pulau Bintan, tampaknya harus ditulis ulang menyusul hasil penggalian (ekskavasi) tim arkeologi dari Balai Arkeologi (Balar) Medan. Dan lokasi penemuan bukit kerang itu pun kemudian diberi nama situs Bukit Kerang Kawal Darat (BKKD). Para arkeolog menemukan bukti adanya kehidupan manusia prasejarah atau purba di situs tersebut. Manusia prasejarah di Bukit Kerang Kawal Darat ini diperkirakan hidup di zaman Mesolithikum (zaman Batu Pertengahan) atau sekitar 1500-1900 tahun sebelum masehi.

Tim arkeolog dari Balai Arkeologi Medan tersebut turun langsung ke lapangan, dipimpin oleh Kepala Balai Arkeolog Medan Lukas Partanda Koestoro. Ia ditemani oleh Ketut Wiradnyana yang selama ini dikenal cukup ahli mendalami masalah situs bukit kerang di Indonesia. Dan hasil penelitian tersebut, seperti yang diduga sejak awal, membuktikan bahwa di situs BKKD itu, tumpukan kerang yang ditemukan adalah murni kjoekkenmoddinger, yang antara lain berupa kulit-kulit kerang, gerabah prasejarah dan serpihan alat pukul. Selain itu ditemukan juga perkakas dari tulang hewan, yang biasanya digunakan untuk mencungkil.

Lucas Partanda Koestoro menjelaskan, terkait dengan persoalan penemuan bukit kerang itu, sebenarnya di Kawal bukanlah yang pertama. Peninggalan manusia prasejarah berbentuk bukit kerang ditemukan pertama kali di sekitar Pantai Timur Sumatera tahun 1925 oleh peneliti Dr PV Van Stein Callenfels. Di tempat itu dia juga menemukan kapak genggam, yang disebut dengan pebble atau kapak sumatera (sumatralith).

Selain di Bintan, masih ada empat tempat lainnya ditemukan situs prasejarah seperti ini. Selain di kawasan pesisir Sumatera, seperti Aceh dan Sumatera Utara, di Sulawesi juga pernah ditemukan situs serupa. Karena itu, perlu ada penjagaan terhadap lokasi sekitar situs. Sebab bercermin pada Deli Serdang, lokasi situs saat ini sudah hilang. Di Deli Serdang, situs tersebut ditemukan tahun 1970. Namun untuk situs bukit kerang yang di Aceh dan di Sumatera Utara, diperkirakan
usianya lebih tua, yakni sekitar tujuh ribu tahun sebelum masehi. Para manusia prasejarah ini memiliki ciri hidup berkelompok.

Umumnya mereka tinggal di sekitar muara sungai, tepi sungai dan di pinggir laut. Hal ini terbukti dengan penemuan bukit kerang di Kawal, yang jaraknya dari bibir pantai sekitar 4,7 kilometer. Dari lima situs bukit kerang yang ditemukan di Indonesia, semuanya berada di bibir
pantai.

Di Kawal sendiri, sebenarnya bukan hanya satu situs kjokkenmoddinger, melainkan tiga. Dan masing-masing digunakan tiga kelompok yang berbeda. Setiap kelompok beranggotakan sekitar 25 – 30 orang yang tinggal di rumah berbentuk panggung. Koondisi rumah berbentuk panggung ini juga mirip seperti yang ditemukan di Aceh. Namun seiring berlalunya waktu, bekas-bekas rumah sudah tidak bisa ditemukan lagi jejaknya di Kawal.

Para manusia prasejarah yang pernah hidup di Kawal ini umumnya mencari makan dengan berburu. Kegiatan ini dilakukan oleh pria dewasa. Sedangkan, yang anak-anak, wanita dan orangtua mencari atau mengumpulkan makanan seperti kerang-kerangan serta umbi-umbian di sekitar tempat tinggal mereka.

“Itu sebabnya, tulang manusia yang biasanya ditemukan di dalam tumpukan kjokkenmoddinger berasal dari anak-anak atau wanita,” lanjut Lucas. Namun dalam survei awal yang dilakukan arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, di kjokkenmoddinger Kawal ini belum ditemukan adanya tulang manusia. Namun bisa jadi kalau dilakukan penelitian lanjutan, tulang belulang manusia purba itu bukan tidak mungkin dapat ditemukan.

Jejak pengembaraan manusia prasejarah Bintan sendiri terbilang panjang. Berdasarkan analisa dan kajian mendalam, Lucas sampai pada kesimpulan bahwa jejak pengembaraan manusia prasejarah di Bintan itu dimulai dari daratan kawasan Asia Tenggara, tepatnya di Thailand. Mereka terus menuju arah selatan, hingga sampai di Bintan. Dari Thailand, mereka menuju arah Pantai Timur Sumatera sebelum sampai di Pulau Bintan.

Sebenarnya, jejak manusia prasejarah yang ada di kawasan Asia Tenggara ini tidak semuanya berasal dari Thailand. Ada juga yang berasal dari Filipina. Mereka diperkirakan menjadi bagian dari Kebudayaan Hoabinh yang bermula dari Vietnam Utara. Namun untuk kajian lanjutan serta pendalaman, Lucas mengatakan masih perlu dilakukan penelitian secara menyeluruh.

Satu hal lagi yang bisa ditarik dari penemuan situs bukit kerang di Kawal itu adalah pembuktian bahwa laut telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan orang-orang Bintan sejak sekitar empat ribu tahun yang lalu. “Bahwa kehidupan sebelum masehi sudah
menggunakan kekayaan laut untuk kehidupan,” kata Lucas. “Sayangnya, zaman sekarang, kita belum memanfaatkan sumber daya laut untuk kehidupan.”

Peninggalan bukit kerang di Kawal ini adalah bukti sejarah yang tak terbantahkan untuk diambil pelajaran bahwa laut sudah digunakan untuk kehidupan sejak zaman prasejarah. Harusnya kita bisa mulai mengoptimalkan menggunakan sumber daya laut untuk meningkatkan kehidupan. Temuan bukit kerang ini akan menjadi lokasi objek penelitian lanjutan para arkeolog Indonesia. “Kita harus melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui lebih jauh sisi lainnya dari peninggalan tersebut,” paparnya.

Balai Arkeolog Medan sendiri sedang mengusulkan ke pemerintah pusat dana untuk penelitian lanjutan situs BKKD ini. “Kalau kita bisa bekerja sama dengan Pemda, itu lebih baik. Karena anggaran yang tersedia di pusat, masih kecil untuk penelitian,” kata Lucas. “Di zaman otonomi daerah, Pemda lebih banyak memiliki peran. Tentunya kalau ada kerja sama Pemda dengan Balai Arkeologi, tentu lebih baik untuk mengetahui hasil penelitian lanjutan. Kalau mengandalkan Balai Arkeologi saja, saya kira kita memiliki dana yang terbatas.”

Selain untuk objek penelitian arkeolog Indonesia, kawasan BKKD juga bisa dijadikan objek wisata yang memungkikan untuk menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemda. Di sejumlah negara Eropa, kata Lucas, penemuan situs purbakala ini sendiri kemudian dikelola sebagai objek wisata.

Sulap Jadi Kawasan Wisata


Penemuan situs purbakala di Kawal tampaknya akan menjadi berkah tersendiri bagi warga Bintan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pemkab Bintan sudah merencanakan untuk menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata baru di Bintan, melengkapi sejumlah objek lain yang sudah ada.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bintan Raja Akib Rachim menjelaskan saat ini Pemkab Bintan sudah berencana membebaskan lahan warga di sekitar lokasi penemuan situs purbakala tersebut. “Kita akan menjadikan sebagai objek pariwisata budaya di Bintan. Tahun 2010 akan dilakukan pembebasan lahan seluas dua hektare. Tahun ini belum bisa dilakukan pembebasan terhadap lahan karena tidak dianggarkan di APBD,” kata Raja Akib.

Lantas apakah akan menarik untuk dijadikan objek wisata? “Terus terang tidak banyak peninggalan sejarah itu di Indonesia,” paparnya. “Kita beruntung masih menjadi tempat persinggahan sejarah dan ini menambah objek wisata di Bintan.

” Wisata budaya ini nantinya akan disejalankan dengan wisata hutan bakau di Bintan. Apalagi di jarak tak sampai sepuluh kilometer dari lokasi, Pemkab Bintan sudah merencanakan untuk membangun dermaga feri internasional di Tanjungberakit. Nantinya turis asing bisa masuk ke kawasan bukit kerang melalui dermaga feri yang akan membuka rute ke Singapura itu. Sementara waktu, sebelum pembebasan lahan dilakukan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bintan sudah bekerja sama dengan warga setempat untuk menjaga keamanan situs.

Terlepas dari potensi wisata yang tengah mengintai itu, masih ada satu lagi tugas besar yang harus diselesaikan oleh Bintan. Penemuan situs bukit kerang di Kawal ini sekaligus menjadi sebuah pintu masuk untuk kajian sejarah lebih mendalam. Setidaknya, dari penemuan ini, diperkirakan sudah ada penghuni Pulau Bintan pada kurun empat ribu tahun yang lampau.
 
Penulis buku-buku sejarah Kepri, Aswandi Syahri punya pandangan yang sama. Menurut Asswandi, dengan hasil temuan tersebut, sejarah Pulau Bintan harus ditulis ulang. Semula sejarah Bintan berasal dari Kerajaan Bentan. Sekarang ada penemuan terbaru menghapus penemuan bermula dari Kerajaan Bentan.

“Harus dilakukan penulisan sejarah kembali dimulai babakan baru sejarah. Bukit Kerang penemuan besar dalam sejarah di Indonesia dan Kepri," katanya. Dan dalam penulisan sejarah ulang tersebut, sejarah Kepri tidak lagi dimulai dari Kerajaan Bentan, melainkan bukit kerang di Kawal. Dan dari sebuah hasil laporan di Belanda, Aswandi mengetahui bahwa bukit kerang tidak saja ditemukan di Kawal, tetapi diperkirakan juga ada di Tanjunguban dan Pulau Galang, Batam. “Tetapi kita belum bisa membuktikan kebenaran laporan tersebut. Perlu ada penelitian lanjutan,” paparnya. Pada titik inilah, sejarah Bintan kemudian harus dipikirkan kembali.

Apa kemudian makna dari penemuan situs prasejarah di Kawal itu. Satu di antaranya, tidak lain membuktikan bahwa kehidupan sudah bermula di Bintan pada sekitar 1900 tahun sebelum masehi. Bila ditambah dengan penanggalan masehi yang saat ini sudah memasuki angka tahun 2009, maka berarti kehidupan sudah bermula di Bintan pada hampir empat ribu tahun yang lampau. Angka ini bisa menjadi lebih panjang lagi, bila suatu saat kembali ditemukan situs prasejarah lagi di Bintan, yang usianya lebih tua dari bukit kerang di Kawal tersebut.

Nah, dalam rentang waktu hampir empat ribu tahun itulah, tentu banyak kisah yang sempat berlangsung. Dan itu semua menjadi bagian dari sejarah orang-orang Bintan. Dan seperti kata pepatah, tidak boleh kita melupakan sejarah, sebab sejarah itu adalah kunci untuk mengetahui jati diri kita.

Bagi orang-orang Bintan, penelusuran terhadap sejarah yang mungkin masih banyak tercecer itu akan membuka sebuah kotak pandora, bahwa ada banyak sisi kehidupan yang telah luput dari catatan pena dan kertas. Membuka masa lalu orang-orang Bintan, berarti juga adalah proses untuk menemukan jati diri orang-orang Bintan itu sendiri.***

Bobby Patria, jurnalis Tanjungpinang Pos