Rida Award 2009

Jurnalisme "Rida", Ruh Rida Award

Jurnalistik Kamis, 10 Juni 2010
Jurnalisme

Oleh Muchid Albintani

’.. Jurnalis juga  berperan sebagai ‘guru’ yang dapat memberikan pencerdasan kepada para pembacanya ..’ (Tajuk Rencana Riau Pos, 27/7)
’.. Hanya karya jurnalistik berkualitaslah yang membuat surat kabar dapat bertahan ..’ (Rida K Liamsi, CEO Riau Pos Group)


MEMBUKA pengantar (catatan), sengaja memulainya dengan mengutip dua pernyataan sebagaimana diungkapkan di atas. Kedua pernyataan itu adalah bukti bahwa jurnalis (wartawan) adalah ‘guru’ yang dapat mencerdaskan pembacanya. Sementara, hasil atau kualitas karya menjadi garansi bagi eksis atau tidaknya sebuah usaha penerbitan (surat kabar).

Sebagaimana dijelaskan CEO Riau Pos Group, Rida K Liamsi dalam banyak kesempatan, teristimewa ketika penyerahan penghargaan Rida Award ke-3 di Bukittinggi, Minggu (26/7), bahwa  kualitas adalah indikator penting dalam upaya membangun keunggulan media cetak. Kualitas dapat diandalkan ketika bersaing dengan media elektronik, televisi dan internet misalnya. Untuk kecepatan, televisi dan internet jauh lebih unggul,  sementara kelengkapan informasi pun, media cetak ‘terlalu’ sering tertinggal. Berdasarkan realitas itu, maka satu-satunya yang masih sangat mungkin dipertahankan, dan akan tetap menjadi keunggulan  media cetak adalah kualitas peliputan dan kedalaman tulisan yang disajikan.

Dalam sebuah diskusi, Bang Rida (begitu saya memanggilnya), selalu menyebutkan hanya media yang mampu menyajikan liputan dan tulisan yang baik, lengkap, aktual, dan akomodatif sajalah yang akan bertahan, yang akan tetap dicari oleh para pembaca. Dan apabila tidak, cepat atau lambat, media tersebut akan tersisih atau disingkirkan. Liputan atau penyajian yang instans, tidak akurat, mengabaikan kepentingan pembacanya, apalagi menjemukan: menjadi jalan pintas bagi media cetak menuju lubang kuburnya!

Berbijak pada fundamen atas realitas objektif itulah sangat rasional apabila Riau Pos Group (RPG), memotivasi semangat jurnalisme yang pantang menyerah, profesional dan cerdas. Ini dimaksudkan, agar setiap waktu di media Riau Pos Group senantiasa tersedia liputan dan tulisan yang dapat memenuhi hajat dan kebutuhan para pembaca, meski tanpa atau pun  dengan diberikannya anugerah Rida Award.

Pengantar ini bukan untuk menjelaskan terkait evaluasi, kriteria penilaian Rida Award, ’mengadili’ hasil karya kreatif atau justru ’menggurui’ bagaimana cara menulis yang baik kepada kawan-kawan wartawan. Pengantar ini hanyalah sekedar ’catatan’ yang ’tersisa’ berdasarkan rangkuman hasil diskusi singkat bersama kawan-kawan wartawan di Riau Pos Group, sekaligus sebagai upaya memotivasi, menyemangati dan diharapkan menjadi kontribusi positif bagi perkembangan karya jurnalistik di masa mendatang.

Empat Catatan Tersisa
Berdasarkan bincang-bincang malam dengan kawan-kawan wartawan dan juga salah seorang pimpinan divisi regional (Divre) Riau Pos Group beberapa waktu lalu, hemat penulis ada empat catatan yang tersisa yang perlu diungkap-paparkan sebagai sumbang saran, khusus terkait upaya memotivasi dan menyemangati kawan-kawan untuk, pertama menghasilkan karya jurnalistik ’berkualitas’, dan kedua menjadi wartawan yang ’mencerdaskan’ para pembacanya.

Pertama, kepemimpinan pimpinan redaksi (Pimred). Merujuk hasil bincang-bincang itu, kepemimpinan Pimred menjadi hal utama sebagai upaya motivator dan penyemangat penghasil karya jurnalistik berkualitas. Dalam konteks ini, ada cerita menarik sebagai contoh yang perlu penulis kemukakan. Boleh jadi, banyak yang tidak tahu apabila kemenangan Muhammad Nur (salah seorang wartawan di harian pagi Batam Pos)  atas anugerah Adinegoro 2008 lalu itu, adalah tindakan yang sengaja diciptakan (direkayasa, tidak kebetulan). Betapa tidak, jika tulisan tersebut sebelum dikirim ke panitia Adinegoro, sudah terlebih dahulu direncanakan, dan khusus diedit langsung oleh sang Pimred. Sebelum dikirim, ternyata sang  Pimred sudah optimis bahwa tulisan tersebut akan menang.

Poin penting bagi penulis berdasarkan cerita itu, bukanlah hasil kemenangannya,  tatapi bagaimana optimisme itu dibangun menjadi satu rangkaian penting antara Pimred (sebagai pimpinan) dan wartawan (penulis). Dari sisi kepentingan dan keuntungan, sebenarnya, pimpinan juga merasakan dampak positifnya (hikmahnya). Sebab, anugerah yang diterima itu, ketika penyerahannya kepada pemenang juga didampingi oleh sang Pimred. Oleh karenanya, sesungguhnya bukan besarnya hadiah Rp50 juta saja yang menjadi penting.  Rasa tanggungjawab antara Pimred dan wartawan dalam kebersamaan membangun kualitas produk (karya jurnalistik) yang menjadi penting untuk diperhatikan.

Kedua, kewartawanan. Penulis meyakini jika penghargaan atau award dapat mengembalikan, menumbuhkan dan mengembangkan semangat untuk menjadi wartawan yang handal, berkualitas, dan mampu bersaing dalam menyongsong masa depan yang lebih baik bagi kehidupan media cetak itu. Untuk selanjutnya, sang wartawan akan menghasilkan karya yang mampu memberi kepuasan kepada para pembacanya. Oleh karena itu pula, maka bagaimana mengukur kualitas perlu ada mediasi sebagai filtrasi terhadap kualitas individu seorang wartawan.

Secara institusional, sesungguhnya hal ini menjadi penting dan banyak terlupakan. Sebab, kualitas kewartawanan tidak hanya diukur dari satu arena kompetisi saja. Rekrutmen dan sistem kaderasasi (pengkaderan) dalam institusi pers adalah bagian penting untuk menciptakan wartawan yang berkualitas. Secara teori, LPDS Dr. Sutomo akan menghasilkan wartawan dan berkualitas plus idealis. Pertanyaannya, apakah semua institusi pers yang lebih berorientasi bisnis, akan tetap dapat mempertahakan wartawan yang ’idealis’? Kemudian, apakah idealisme dapat dijadikan alat ukur atau prasyarat mutlak untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas?

Menjawab kedua pertanyaan itu, akan menghasilkan perdebatan panjang dan relatif. Meski begitu, penulis meyakini apabila institusi pers, tetap memiliki tanggung jawab untuk menciptakan dan mengarahkan wartawannya menuju antara kualitas dan idealisme karya jurnalistik. Paling tidak, jumlah hadiah dalam sebuah anugerah dapat menjadi perekat antara bekerjanya idealisme wartawan dan bisnis institusi pers.

Ketiga, produk media. Dalam kerangka menciptakan dan mempertahankan daya tahan media, tidak ada cara lain, kecuali bagaimana meningkatkan kualitas produk liputan. Secara rill dan objektif, tentu saja hasil liputan senantiasa mematuhi kaidah-kaidah jurnalistik yang mencerdaskan para pembacanya. Dalam konteks ini, objektif menunjukkan bahwa hanya produk media yang berkualitas yang akan memberi tempat dan peluang bagi media cetak untuk tetap hidup dan berkembang. Produk media cetak itu tidak hanya liputan dan tulisan, foto-foto, perwajahan, karya grafis, kualitas cetak dan yang lainnya yang menarik adalah juga bagian dari produk pers. Persoalannya yang menjadi kunci penting adalah, bukan pada perwajahan, melainkan karya jurnalistik itu sendiri. Artinya, produk media adalah integrasi antara beberapa sub sistem yang saling melengkapi, tetapi akurasi liputan tatap menjadi primadona daya tahannya.

Keempat, pembaca. Dalam hubungan ini, pembaca juga merupakan bagian integral (tak terpisahkan) dari produk media. Sebab, pembaca adalah objek produk atau pasar. Adalah mustahil media sebagai produk yang tanpa pembaca (pasar). Dalam konteks ini yang perlu mendapat catatan adalah kepedulian media kepada para pembacanya.

Banyaknya komplain atau bahkan somasi atas pemberitaan adalah bagian dari dinamika interaksi antara media (wartawan) dan pembacanya. Dalam interaksi itu terkadang menimbulkan delik. Ini misalnya ada somasi akibat dari reaksi pemberitaan. Dalam konteks ini, jangan dianggap pembacanya yang kristis, melainkan yang lebih penting adalah kepedulian dari media yang diperlukan. Kemudian bagaimana menanganinya, keberadaan ombudsman menjadi perangkat penting media dalam mengakomodir somasi tersebut.

Trademark: ’Jurnalisme Berpeluh’
Berbagai penjelasan berhubungan anugerah Rida Award ke-3 terhadap empat catatan yang tersisa itu, sesungguhnya hanya dalam konteks sumbang saran. Bagaimana saran itu diwujudkan adalah dalam upaya menafsirkan dan menjelaskan gagasan yang dimaksud dengan ’Jurnalisme Berpeluh’. Apa itu ’Jurnalisme Berpeluh’? Menurut penulis,  Jurnalisme Berpeluh adalah tafsir sebagai mainstream dalam merujuk penghargaan agung jurnalistik berdasarkan sudut pandang media tertentu.

Perkembangan media, baik cetak atau elektronik melahirkan beragam istilah terkait dengan jurnalisme. Ada istilahnya jurnalisme investigatif, naratif (sastra), intelijen dan yang lainnya. Perkembangan jurnalisme ini beserta pelbagai istilah yang mengiringinya berdasarkan sudut pandang (perspektif) pendekatannya. Dalam konteks Rida Award, istilah ’Jurnalisme Berpeluh’, menurut penulis dapat juga dilihat berdasarkan perspektif yang berbeda. ’Jurnalisme Berpeluh’ dapat ditafsirkan sebagai upaya membangun paradigma baru dalam wacana menciptakan kualitas karya jurnalistik, minimal ’khusus’ di lingkungan Riau Pos Group.

Oleh karennya, ’Jurnalisme Berpeluh’ adalah trademark Riau Pos Group dengan pelbagai karakter khusus beserta kedinamikaannya bersandar pada keempat catatan yang tersisa. Pada tahap selanjutnya, Jurnalisme Berpeluh boleh menjadi ’ideologi’ yang menghasilkan ’isme’ tersendiri dalam membangun kreativitas dan kualitas jurnalistik pada jajaran redaksi Riau Pos Group. Dan inilah yang penulis maksudkan dengan ”Jurnalisme Rida” atau ’Jurnalisme Berpeluh’.

Selanjutnya pada tahap implementasi adalah  benar apabila jurnalis dapat berperan sebagai ‘guru’ yang dapat mencerdaskan para pembacanya. Karena perannya sebagai guru, maka produknya akan memberi tempat dan peluang bagi media cetak untuk tetap hidup dan berkembang. Dalam perkembangannya, maka yang mengedepan adalah optimisme. Oleh karena itu, tidak salah, apabila Pimpinan Umum Harian Pagi Batam Pos, Socrates bercita-cita untuk mendapatkan Pulitzer. Kalau boleh penulis menyarankan, sebelum Pulitzer, ada baiknya Muchtar Lubis Award terlebih dahulu.

Dengan semangat ’Jurnalisme Berpeluh’ atau ”Jurnalisme Rida” yang menjadi ruhnya Rida Award , bukan mustahil  pelbagai award lainnya akan menyusul, tinggal menunggu waktu.  Semoga!!!  ***


Muchid Abintani,
  Dosen Fisip Universitas Riau dan  anggota Tim Juri Rida Award III


Related Post