KOLOM TAUFIK IKRAM JAMIL

Membayar Hutang Adat

Budaya Minggu, 31 Januari 2016
Membayar Hutang Adat

SETELAH pejabat Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (MKA-LAMR) OK Nizami Jamil menyerahkan tepak sirih kepada Rida K. Liamsi, berkatalah Al azhar kepada orang serupa, “Jadi, LAMR pada hakikatnya berhutang kepada Tuan Rida. Hutang itu sudah lama pula dan kini memang harus dibayar. Caranya memang memberikan gelar adat tertinggi kepada Tuan,” kata Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR itu lagi.

Melalui pesan pendek telepon genggam (SMS) kepada Abdul Wahab, saya gambarkan suasana malam itu. Saya sebutkan, duduk hampir beradu lutut dengan Rida, Nizami seperti juga pengurus LAMR yang lain seperti Zulkifli ZA, Isharudin, M.Nasir Api-api, dan Yoserizal Zen, dengan senyum khasnya, menunggu jawaban Rida alias Ismail Kadir, dalam debar yang lain. Meski sudah dirisik sebelumnya, jawaban Rida malam itu cukuplah penting bagi acara tersebut.

Lalu dengan suara bergetar pula, Rida menyatakan menerima gelar adat LAMR itu sebagai suatu penghargaan luar biasa. Ini sekaligus melecut keinginannya untuk berbuat lebih baik lagi sebagai tanda terima kasih dan cinta kepada daerah ini, khususnya kepada kebudayaan Melayu. Tak pelak lagi, yang hadir tampak lega. Nizami menarik nafas dengan senyum yang tiada berbatas.

Dalam ketentuan LAMR, gelar kehormatan adat memang diberikan kepada orang yang berjasa atau karena jabatannya sebagai gubernur. Khusus untuk orang yang berjasa luar biasa, gelar tertingginya disebut Datuk Seri, disusul Datuk Wira, dan Datuk. Sejak LAMR berdiri tahun 1970-an, sebelum Rida K.Liamsi, hanya beberapa orang yang pernah diberikan gelar adat tertinggi itu antara lain Susilo Bambang Yudhoyono, Syarwan Hamid, dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Rida memperoleh gelar adat LAMR dengan sebutan Datuk Seri Lela Budaya. Secara sederhana gelar itu merujuk pada pengertian jasa seseorang yang berseri keikhlasannya dalam pandangan kebudayaan secara luar biasa. Ini juga berkaitan dengan pengertian seseorang yang memperoleh seri keikhlasan budaya. Ada timbal balik di sini yakni antara budaya dan pendukungnya karena sesuatu di muka bumi ini memang tidak pernah muncul secara tiba-tiba, berbagai proses mewarnai krativitas seseorang yang disebut lingkup budaya.

Jasa Rida K.Liamsi dianggap luar biasa antara lain menggerakkan dunia tulis-menulis melalui media yang dipimpinnya, Riau Pos Grup. Media tersebut telah beranak di atas angka 20-an, diiring sejumlah televisi, portal, dan percetakan. Belum lagi hadiah budaya yang digarapnya dengan label Yayasan Sagang, penebitan buku, dan majalah budaya, dengan nama Sagang pula. Selain itu adalah Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR).

Apa yang dibuat Rida tersebut merupakan jantung kebudayaan yang bahkan mampu mengubah perilaku kebudayaan, sedangkan kebudayaan bukan sesuatu yang statis, tetapi bergerak tanpa terlepas dari akarnya. Dengan sendirinya, Rida penyokong terdepan dari aktivitas adat yang sebenarnya adalah jejaring gagasan manusia  untuk mencapai kemajuan manusia dengan kemampuannya sendiri. Oleh karenanya pula, banyak orang berpaham bahwa adat adalah kristalisasi norma kebudayaan di tengah masyarakatnya.

 

Adat bukan sesuatu yang terpaku, sesuai dengan rumusan adat itu sendiri. Secara umum dikenal empat model adat dalam kebudayaan Melayu, tetapi hanya adat sebenar adat yang tidak bisa berubah karena bersumber dari peraturan Allah SWT melalui petunjuk dari Rasulullah SAW. Sedangkan tiga adat lagi yakni adat yang adat diadatkan, adat yang teradatkan, dan adat-istiadat, memang amat tergantung pada kreativitas dan dinamika pendukungnya untuk tetap berpijak di bumi.

LAMR dinilai sempat berhutang kepada Rida karena aktivitas Rida dilakukan justru pada saat jantung kebudayaan Melayu sedang dipertanyakan. Misalnya, sejak lama Riau yang merupakan pusat kebudayaan Melayu, tidak memiliki koran harian. Padahal daerah ini sumber bahasa Indonesia dengan kejayaan-kejayaan perdagangannya seperti diperlihatkan Sriwijaya Muaratakus, Siak, dan Inderagiri. Dengan Riau Pos Grup, sikap mempertanyakan itu diterabas dengan pencapaian khusus, misalnya bagaimana usaha ini tidak saja eksis di Riau, tetapi juga meliputi Sumatera tengah dan Sumatera bagian utara.

Belum lagi berkaitan dengan keinginan LAMR memberi gelar adat tertinggi kepada Rida tersebut sudah lama teragak-agak, sampai 15 tahun, saat Riau Pos masih berumur 10 tahun. “Jadi, LAMR mengamati Rida sudah lama, paling tidak 15 tahun. Waktu itu saja, geliat Riau Pos sudah amat terlihat dan dapat dibayangkan seperti sekarang, Alhamdulillah, tahun ini, keinginan tersebut sudah tercapai, tinggal menunggu penabalan gelar adat dalam waktu yang tidak lama lagi,” kata Nizami. “Hanya satu kalimat dariku: Tabik untuk Rida, semoga tetap bercahaya seperti gelar yang diberikan kepadanya, Datuk Seri Lela Budaya,” balas SMS Wahab kepada saya. Tabik....***