Penyair 4 Negara Serumpun Menggema di Idrus Tintin

Budaya Senin, 19 November 2012
Penyair 4 Negara Serumpun Menggema di Idrus Tintin

PEKANBARU (RP) - Sekitar 16 orang penyair dari Negara Serumpun, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam, Jumat (16/11)  malam tadi menggemakan Gedung Anjung Seni Idrus Tintin, komplek Bandar Serai Pekanbaru. Mereka menggemakannya dengan membacakan puisi-puisi hasil karya mereka.

Helat yang mengangkat tema, “Serumpun Kita Berhimpun” ini dilaksanakan dua hari, 16-17 November 2012.  hanya disaksi¬kan kalangan seniman, tapi juga masyarakat Kota Pekanbaru.

Beberapa penyair Negara Serumpun yang ikut menyemarakan perhelatan ini adalah; Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, Rida K Liamsi, Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Syaukani Al Karim, Hafney Maulana, Yoserizal Zen, Hang Kafrawi, Sobirin Zaini, Riki Utonomi, Fedli Aziz dan Kunni Masro¬hanti.

Sedangkan beberapa penyair luar negeri antara lain, Zefri Arief dari Brunai Darussalam, Hanafi dari Malaysia, Suratman Markasan dari Singapura.

Perhelatan ini disemarakan dengan karya lisan, Tradisi Mala¬lak dari Kabupaten Kampar. Namun tidak semuanya tampil. Penampi¬lan SMPN 13 Pekanbaru asuhan Teater Selembayung dengan tema “Kalau Roboh Kota Malaka” yang diangkat dari puisi Taufik Ikram Jamil. Penampilan drama Kereta Kuda dari Sanggar Selembayung pimpinan Rina NE yang mengundang decak tawa pengunjung yang hadir.

Di sesion pertama, penyair-penyair yang menggelegarkan gedung seni Idrus Tintin itu, adalah seniman Drs Al azhar yang menyampaikan pidato puisinya dengan penuh makna yang dalam ten¬tang sosok Sutardji Calzoum Bachri.

Al azhar membacakan puisi dengan topik tentang hubungan antara penyair dengan khalayak sastra, yang di tengahnya ada sebuah istilah yakni konvensi. Lebih 40 tahun lalu, Syahdan penerbitan sajak Sutardji Calzoum Bachri, yang menghentak, apakah puisi yang dilansir majalan Horizon.

Tidak jarang, orang meraih gelar atau ditasbihkan sebagai penyair, kalau sajaknya dimuat Horizon yang menyentak penyair modern, apakah ini puisi. Maka dunia sastra modern pun, riuh rendah dengan puisi-puisi. Banyak khalayak yang mencela puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri ketika itu. Kemudian dia menge¬luarkan koredo tentang kepenyairannya.

Yoserizal Zen penyair berikutnya, tampil dengan berapi-api membawakan puisinya “Almarhum RM” dan “ Menjarahi Kuburnya Sendiri”.

Selanjutnya, Fakhrunnas MA Jabar yang menyampaikan sebuah puisi yang ditulis sudah lama ketika gagasan jembatan Selamat Malaka digaungkan tahun 1996. Tapi hingga sekarang belum terwujud “Jembatan Selat Malaka” dan “ Riau Extravaganza”.

Riko Utonomi penyair muda yang berprofesi sebagai guru di Selat Panjang Kabupaten Kepulauan Meranti, membacakan tiga pui¬sinya. “Songket” dan “Membuka Dunia” yang diperuntukkan pada Almarhum Hasan Junus serta “Merangkai Karang”.

Taufik Ikram Jamil membawakan dua buah puisi, yakni “Kapal London 1928” dan “Pergi Menjauh”. H Rida K Liamsi yang ikut tampil dalam perhelatan Penyair Serumpun di Idrus Tintin membawakan dua puisi karyanya. Yakni ‘Ombak Sekana’ dan ‘Bulang Cahaya’. Rida diiringi dengan musik gambus hingga akhir syair-syair puisinya.

Selanjutnya, penyair dari Zefri Arief dari Brunai Darussalam dengan empat puisi, di antaranya ‘Ketika Air Mengalir’ dan ‘Dind¬ing Kenangan’ sekaligus penyair terakhir dalam season pertema pertemuan penyair serumpun.

Wakil Gubernur Riau, Drs HR Mambang Mit MM yang membuka perhelatan pernyairan ini mengatakan, pertemuan kalangan penyair dari Negara Serumpun, bisa meningkatkan silaturrahmi dan tali di Negara Serumpun.

Puisi bisa menerangkan yang gelap, meluruskan yang bengkok-bengkok. Mambang Mit sambil bergurau mengatakan, puisi mengandung makna yang dalam dari laut yang dalam. Lebih lebar dari lebarnya dunia. Seorang puitis dan penyair, memiliki pikiran yang tidak kerdil.

Puisi ini diharapkan memberikan ruang yang lapang. Mambang menilai apresiatif dengan kegiatan yang temu penyair serumpun yang dilaksanakan Dinas Budpar Riau. Dengan kegiatan ini, pun bisa menggesa percepatan Visi Riau 2020, sebagai Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara tahun 2020. Karena seni adalah bagian dari upaya pencapaian Visi Riau 2020.

Kepala Bidang Nilai Budaya Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau, Drs Yoserizal Zen, pembacaan diiku¬ti 16 perserta. Peserta Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam dan Thailand. Namun perwakilan dari Thailand berhalan¬gan hadir. Helatan ini, bagian dari kegiatan Dinas Budpar Riau Bidang Nilai Budaya, Bahasa, dan Seni. Tujuannya, tak lain ingin memajukan seni puisi yang ada di Riau. Memperhelat silaturrahmi antar kalangan seniman Negara Serumpun.

Penutupan perhelatan pembacaan puisi negara serumpun malam pertama diakhiri dengan penampilan dari Belacan Aromatik dari Matrock yang gegap gempita.(dac)


Related Post