Fikar W Eda, Jurnalis Pembela HAM di Aceh

Budaya Senin, 17 Oktober 2011
Fikar W Eda, Jurnalis Pembela HAM di Aceh

PEKANBARU (RP)-Fikar W Eda merupakan salah seorang sastrawan/penyair terkemuka di Aceh. Selain bergulat dalam dunia sastra, ia juga akrab dengan dunia tulis-menulis berita dan tercatat sebagai jurnalis di media cetak lokal, Serambi Indonesia yang peduli memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) di kampung halamannya.

Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh ini lahir di Aceh pada 1966. Selain menggeluti dunia sastra, ia juga bertungkus lumus dalam dunia akting/teater.

Kemahirannya menulis dan membaca puisi cukup terpercaya sehingga kerap diundang ke berbagai tempat seperti Kuala Lumpur, Jakarta, Jogjakarta, Solo, Surabaya, Bandung dan tentunya Banda Aceh sendiri.

Perjuangannya dalam mengampanyekan HAM bagi masyarakat Tanah Rencong sudah dimulai sejak lama. Itu sudah dipekikkannya dalam berbagai helat budaya seperti di Forum Puisi Indonesia 87 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Refleksi Peringatan (Refleksi Peringatan) 50 Tahun Indonesia Merdeka (50 Tahun Indonesia Independense) di Solo.

Dia juga tampil di Pertemuan Penyair Sumatera di Lampung, Medan, Batam dan bersama kelompok musikalisasi puisi dengan Sanggar Matahari tampil dalam agenda ‘’Tour Salam Damai’’ di sejumlah kota penting di Indonesia.

Puisi-puisinya terangkum dalam Antologi Forum Puisi Indonesia 1987 di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Antologi Sastra Aceh Seulawah (1995), Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung, 1996), Aceh Mendesah Dalam, Nafasku (Kasuha, 1999), Antologi Puisi Indonesia Jilid I (KSI, 1997). Selain itu di Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005), Syair Tsunami (PN Balai Pustaka, 2005), Lagu Kelu (Asa-JapanNet, 2005), Ziarah Ombak (Lembaga Kebudayaan dan Society, 2005). Sejak 1989, dia bekerja sebagai wartawan di Harian Serambi Indonesia Banda Aceh.

‘’Selain sastrawan, Fikar W Eda juga tercatat sebagai wartawan lokal yang senantiasa mengampanyekan HAM di kampung halamanya. Karya-karyanya juga sudah banyak dan untuk itulah kurator menilainya layak jadi peserta temu penyair Korea-ASEAN Poets Literature Festival (KAPLF) ke-2,’’ ulas Sekretaris KAPLF Sutrianto.

AKMR Garap Prosesi Anugerah Sagang    
Seluruh penyair yang tergabung di KAPLF ke-2 juga akan hadir pada malam puncak penyerahan Anugerah Sagang ke-16 di Hotel Pangeran, 28 Oktober mendatang. Mereka akan menyaksikan langsung prosesi dan rangkaian kegiatan yang tiap tahun ditaja Yayasan Sagang.

Di malam penyerahan kali ini, Panitia Pelaksana Anugerah Sagang mempercayakan prosesi dan persembahan seni ke pihak Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Apalagi, kampus seni kedua di Sumatera yang memiliki tiga jurusan seperti teater, tari dan musik ini memang layak untuk itu. 

‘’Tahun ini kita percayakan pada AKMR untuk menggarap prosesi Anugerah Sagang. Kita harap akan memberi warna dan keunikan tersendiri. Sebab selama ini kita juga sudah mempercayakan ke sanggar-sanggar di Pekanbaru,’’ ujar Ketua Panpel Anugerah Sagang Nazir Fahmi.(aal)


Related Post