Oleh Musa Ismail

"Perjalanan Kelekatu": Pengucapan Estetik-Simbolik Dunia Melayu

Budaya Rabu, 17 Februari 2010

’’Perjalanan Kelekatu’’ (Yayasan Sagang, 2008) merupakan kumpulan puisi ketiga Rida K. Liamsi setelah ’’Ode X’’ (stensilan, 1971), dan ’’Tempuling’’ (2003). Tahun 2007, novel perdananya ’’Bulang Cahaya’’ lahir pula dalam kesibukan, kreativitas, dan pengendapan batinnya. ’

 

’Bulang Cahaya’’ dan ’’Tempuling’’- nya mendapat tanggapan luas oleh para kritikus Indonesia sebagai salah satu khazanah corak dunia kesusastraan di tanah air, khususnya di negeri Melayu. Rida mencatat dalam ’’Perjalanan Kelekatu’’ bahwa judul ontologi ini merupakan gabungan sinergi dua judul puisi: Perjalanan dan Kelekatu.

Pemilihan judul ini, menurut CEO Riau Pos itu, karena hampir sebagian besar puisi-puisi dalam kumpulan ini adalah hasil renungan dan catatan-catatan perjalanan, baik perjalanan fisik maupun perjalanan batin. Katanya lagi, puisi-puisi perjalanannya ini lebih merupakan rekaman seorang jurnalis, rasa yang bangkit dari terkaman kenyataan, gelombang cemas, dan  kesertaan empati. ’’Mungkin bukan sebuah perenungan yang dalam, dan karenanya belum tentu menyisakan puisi-puisi yang kekal,’’ kata Rida. Terlepas dari apa yang telah diungkapkan mantan Wartawan Tempo ini, ’’Perjalanan Kelekatu’’ dengan 28 kepak puisi telah memulai suatu tradisi pergerakan dan gambaran estetika tersendiri pula jika dibandingkan dengan ’’Tempuling’’. 

Dalam memilih judul, sastrawan yang pernah bernama samaran Iskandar Leo ini, sangat ekspresif dalam pilihan kata (diksi) atau frase idiomatik. Judul kumpulan puisi ini merupakan salah satu bukti bahwa Rida punya kejeniusan lingkuistik yang halus, peka, atau sensitif. Sejumlah puisi yang terdapat dalam buku ini ditangkup sangat indah, lawa, dan menarik dalam judul ’’Perjalanan Kelekatu’’. Penggabungan dua judul puisi menjadi judul ontologi merupakan daya tarik khas Rida dalam menyuguhkan puisi-puisinya. Judul ini pulalah yang merupakan salah satu bukti nyata tentang pengucapan estetik-simbolik dalam dunia Melayu.

Saya katakan estetik-simbolik karena beberapa hal. Pertama, pemadanan kedua kata tersebut mengandung suatu persebatian yang selaras jika kita dekatkan dengan sifat kelekatu. Kedua, keindahan itu muncul juga karena (mungkin) baru inilah judul kumpulan puisi yang merupakan gabungan dari dua judul puisi. Ketiga, berkat gabungan itu, telah menumbuhkan sayap-sayap makna (polisemantis) baru sebagai frase idiomatik yang energik. Keempat, judul ini memberikan pengaruh asosiatif (daya ajuk) terhadap pembaca.

Jika kita kaji dengan model lingkar hermeneutik, judul ’’Perjalanan Kelekatu’’ menjadi sangat estetik sekaligus simbolik. Ricouer menjelaskan, ada dua fase lingkar hermeneutik, yaitu (1) pemahaman dan perenggutan makna yang bersifat tebakan atau teka-teki terhadap teks secara keseluruhan, dan (2) perluasan makna yang akan dijadikan sebuah model pemahaman yang sophisticated (mapan, canggih—pen.), didukung oleh prosedur ekplanatoris. Selanjutnya, Teew mengatakan, lingkar hermeneutik dapat bekerja dengan memulai interpretasi dari unsur atau bagian-bagian yang ada, kemudian mengarah pada keseluruhan. Proses tersebut dapat dibalik, dimulai dari keseluruhan, kemudian mengarah pada bagian-bagiannya. Lingkar hermeneutik bekerja secara timbal balik dan bertangga hingga diperoleh integrasi makna total dan makna bagian secara optimal (1984:123-124).

Mari kita kecai-beraikan dan kita telaah satu per satu. Kalau kita maknai secara harfiah, kata ’’perjalanan’’ bermakna ’’peristiwa berpindah dari suatu tempat (asal) ke tempat lain.’’ Kata ini mengusung jenis kata benda. Kata ’’kelekatu’’ bermakna ’’nama binatang terbang sejenis anai-anai yang menyenangi cahaya’’. Disebut juga laron atau dalu-dalu (bahasa Melayu Kepulauan Riau). Juga termasuk kata benda. Penggabungan kedua kata sehingga menjadi ’’Perjalanan Kelekatu’’ telah memberikan kesan keindahan, vitalitas, aktif, dan menunjukkan suatu sifat yang berkaitan dengan nama hewan bersayap rapuh tersebut. Kalau saya interpretasikan, ’’Perjalanan Kelekatu’’ melahirkan (1) makna suatu gebrakan, pengembaraan, berkelana untuk memaknai dan mencari kearifan dalam hidup. Tujuan akhirnya adalah menemukan cahaya Illahi Rabbi, (2) pelarian makhluk hidup untuk mencari kebahagiaan/kesenangan (eskapisme), dan (3) pencarian tempat berlindung (berteduh) setelah dihunjam berbagai permasalahan. (Bersambung)