*Juarai Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SLTA Se-Sumatera

Andalkan Puisi Jebat Karya Rida K Liamsi

Budaya Kamis, 15 Juli 2010
Andalkan Puisi Jebat Karya Rida K Liamsi
TERBAIK: Inilah penampilan SMA 1 Pekanbaru dalam Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Sumatera Ke-5 yang diadakan di Kantor Balai Bahasa Riau, Kampus Binawidiya, Unri, Senin (12/7/2010) lalu.


Telah kau hunus keris
    telah kau tusuk dendam
    telah kau bunuh dengki
    tetapi, siapakah yang telah mengalahkan mu?


Potongan larik puisi Rida K Liamsi berjudul Jebat itu  mengumandang lantang di antara alunan musik Melayu. Menggebu-gebu disela petikan gitar dan suara alat musik akordion, jimbe, dan marakas yang mengiringinya. Seperti hendak menegaskan kisah Hang Jebat yang tertutur di dalamnya.


Puisi itu menjadi andalan SMA 1 Pekanbaru, sebagai wakil Balai Bahasa Provinsi Riau, untuk mencuri perhatian dewan juri sebagai puisi pilihan mereka. Puisi yang tidak lagi sama dengan peserta lain yang sebelumnya sama-sama wajib menampilkan puisi berjudul Jembatan gubahan Sutardji Calozoum Bachri.

Pilihan tepat mereka atas pilihan puisi Jebat yang dipilihnya dan heroiknya penampilan mereka memaksa dewan juri yang terdiri dari Fredie Arsi, Marhalim Zaini dan B Trisman memilih mereka menjadi sang juara. Menempati urutan juara pertama di Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SLTA se-Sumatera itu. Sebuah gelar membanggakan yang baru pertama kali diraih oleh Bahasa Provinsi Riau setelah lima kali  iven tersebut dilaksanakan.

Selanjutnya juara II hingga harapan II berturut-turut diraih oleh Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Jambi. Sementara juara favorit diraih oleh Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
 
Puisi Jebat berkisah tentang sang pendurhaka di era Kerajaan Malaka. Ditulis oleh Rida K Liamsi tahun 2002 dan dialbumkan dalam Kumpulan Puisi Tempuling, kumpulan puisi pertama Rida K Liamsi. 

Sementara itu Melda Syafitri, guru pendamping dari SMA 1 Pekanbaru, menuturkan puisi Jebat jatuh menjadi pilihan mereka karena kisah itu kental dengan kisah Melayu. Tersebab itu pulalah mereka tampil dengan nuansa yang kental dengan kemelayuan. Bermusik pengiring Melayu dan berhias kain Batik Riau.

Kepala Balai Bahasa Riau, Drs Agus Sri Danardana M Hum juga bangga dengan keberhasilan SMA 1. “Ini untuk pertama kalinya wakil Riau bisa menjadi juara di iven ini. Semoga ini akan menjadi inspirasi bagi anak-anak muda, baik di sekolah, sanggar dan sebagainya untuk memasyarakatkan apresiasi puisi lewat musik ini,” jelas mantan Kepala Kantor Bahasa Lampung tersebut.

Kami hanya menyaksikan luluh rasa murka mu
        celup cuka cemburu mu
        kubur rasa cinta mu
        di bayang-bayang hari mu

    Kami hanya menyaksikan waktu menghapus jejak darah mu
        angin menerbangkan setanggi mimpimu
        ombak menelan jejak nisan mu
        di balik cadar mimpi-mimpi mu

    Kami semua telah mengasah keris
        telah menusuk dendam
        membunuh dengki
        meruntuhkan tirani

    Tapi siapa yang telah mengalahkan kami
        Menumbuhkan khianat
        melumatkan sesahabat
        mempusarakan sesaudara

    Kami hanya menyaksikan waktu yang berhenti bertanya
        sejarah yang berhenti ditulis
        dan kita hanya membangun sebuah arca

        [2002]