Korea-ASEAN (Korea-Malay) Poets Literature Festival (KAPLF)

Menyuarakan Asia di Mata Dunia

Budaya Selasa, 14 Juni 2011
Menyuarakan Asia di Mata Dunia
Rapat Persiapan Korea-ASEAN (Korea-Malay) Poets Literature Festival (KAPLF)

PEKANBARU (RP)- Panitia persiapan temu penyair Korea-ASEAN (Korea-Malay) Poets Literature Festival (KAPLF), Senin (13/6) malam di Hotel The Premiere Pekanbaru melakukan rapat koordinasi membahas rumusan persiapan pelaksanaan yang dijadwalkan Oktober mendatang.

Kegiatan ini disiapkan Steering Committee (SC). Dalam rumusan itu, jadwal pertemuan dilaksanakan empat hari dengan mengambil lokasi di
Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Kampar.


Rapat yang dipimpin Chairman Riau Pos Group Rida K Liamsi mempersilakan Ketua SC Prof Dr Yusmar Yusuf MSi menyampaikan hasil rumusan. Dalam pemaparan Yusmar menjelaskan, tema KAPLF adalah Sound of Asia, artinya menyuarakan Asia.

Sebab orang-orang Asia memiliki tradisi dan kebudayaan yang bisa diangkat ke dunia. Sub tema yang diangkat adalah ‘’Peradaban Melayu Sebagai Akar Kebudayaan Dunia (Malay As World Heritage).

‘’KAPLF ini tanpa starting point melainkan ending point yakni sampai pada acara penyerahan Anugerah Sagang 2011,’’ kata Yusmar.

Selama empat hari kegiatan, sebut guru besar FISIP Unri ini, serangkaian acara sudah disiapkan panitia.

Ada beberapa tempat yang disediakan. Hari pertama di Pekanbaru, kedua di Istana Siak dan ketiga ke Candi Muara Takus Kampar. ‘’Kami mengambil tapak-tapak dalam memberi suasana batin,’’ katanya.

Sementara itu Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unilak Dr Junaidi MHum menambahkan, peserta yang ikut festival ini berjumlah 50. Mereka harus menulis puisi paling banyak lima judul atau enam halaman kuarto. Peserta diminta menulis esai 1.500-2.000 karakter tentang pandangan penyair dalam proses penciptaan puisi.  ‘’Esai ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa ibu, sementara puisi ditulis dalam bahasa ibu dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,’’ katanya.

Mendengar pemaparan dari SC, Rida menyebut gambaran festival sudah terlihat. Hanya masih ada beberapa hal yang harus ditegaskan. Di antaranya bahasa pengantar penyair dalam membaca puisi, karya yang dikirim sampai ke panitia kapan waktunya. ‘’Untuk itu perlu dibuat tahapan-tahapan persiapan,’’ katanya.

Fakhrunnas MA Jabbar mengatakan, festival ini hendaknya dilihat dan diterapkan tahap demi tahap. Informasi pariwisata dan kebudayaan hendaknya diperkaya dalam buku direktori, sehingga peserta tahu lebih detil.

Rapat juga dihadiri budayawan Riau Taufik Ikram Jamil, Kepala Taman Budaya Disbudpar Riau Pulsia Mitra, Ketua Yasasan Sagang Kazziani Ks, COO Riau Pos Sutrianto, Wapemred Riau Pos Hary B Kori’un, Murparsaulian, Ketua Dewan Kesenian Pekanbaru (DKP) Taufik Hidayat dan Armawi KH.(aal/fed)


Related Post