Rida K Liamsi, Penerima Anugerah Pemangku Pengabdian Seni Tradisional 2010

Hanya Rumpun Makmur yang Dapat Menamadunkan Melayu

Budaya Sabtu, 11 Desember 2010
Hanya Rumpun Makmur yang Dapat Menamadunkan Melayu

Laporan MARRIO KISAZ, Pekanbaru mario-kisaz@riaupos.com
Sebelas Budayawan Riau diberikan kepercayaan sebagai pemangku seni tradisional 2010. Apresiasi tersebut diberikan atas dedikasi, eksistensi, konsistensi, kreativitas, dan semangat yang tinggi dalam mengangkat seni budaya, sehingga dapat mengakar di hati masyarakat di Bumi Lancang Kuning.


Takkan Melayu hilang di bumi. Falsafah penuh pesan inspirasi itu menjadi salah satu motivator para budayawan dan pecinta seni untuk dapat berkarya di bidangnya. Kerja keras, peluh keringat dan buah pikiran yang dicurahkan dalam karya sastra dan budaya memiliki makna yang besar dalam berbagai aspek kehidupan.

Sebab selain berperan dalam memperkaya khasanah budaya dan tradisi, budaya Melayu memiliki esensi positif sebagai pilar kemajuan suatu bangsa. Kondisi ini bersinergi dengan Visi Riau yang berbunyi ‘’Terwujudnya Provinsi Riau Sebagai Pusat Perekonomian Dan Kebudayaan Melayu dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis, Sejahtera, Lahir dan Batin di Asia Tenggara Tahun 2020′’.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia,  Zailani Arif Syah, di dalam acara penganugerahan Pemangku Seni Tradisinonal 2010 di Hotel Arya Duta, Jumat (10/12) malam.

Penganugerahan Pemangku Seni Tradisional 2010 diberikan atas tiga kategori yakni Pemangku Pengabdian Seni, Pemangku Setia Seni, dan Pemangku Prestasi Seni. Untuk anugerah pemuncak, yakni Anugerah Pemangku Pengabdian Seni diberikan kepada H Rida K Liamsi yang dinilai peduli dan memiliki dedikasi yang tinggi pada perkembangan kebudayaan Melayu.

Adapun untuk kategori lainnya adalah Anugerah Pemangku Setia Seni diberikan kepada lima budayawan yang telah memberikan buah pemikirannya dalam pengembangan budaya di Riau. Budayawan tersebut antara lain Misran Rais untuk kategori musik, Sulung Natan (tari), Dharmawi KH (seni rupa), Salimi Yusuf (teater),  dan M Rasyid (sastra). Para penerima penghargaan tersebut memperoleh trofi, piagam dan tabungan senilai Rp15 Juta.

Sedangkan untuk kategori Anugerah Pemangku Prestasi Seni diberikan kepada Oesman (musik), Maulana Syahputra (tari), Yudi (seni rupa), Fedli Azis (teater), serta Taufik Ikram Jamil (sastra).

Zailani berharap ajang ini dapat menggali kreativitas dan memacu semangat para budayawan dan pecinta seni yang ada di Riau  sehingga dapat memberikan kontribusi positif dalam pengembangan budaya baik di tingkat lokal, nasional bahkan dunia internasional.

Dalam pengembangan budaya Melayu, para seniman diharapkan dapat menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. Hal ini memiliki hubungan yang erat dengan tradisi masyarakat Riau yang sangat lekat dengan budaya islami.

‘’Dengan budaya, masyarakat semakin bertamadun dengan didukung unsur agamis. Dengan budaya, kita dapat membendung akulturasi budaya asing dari luar yang kian gencar memberikan pengaruh terhadap budaya Melayu. Kecintaan akan budaya menjadi salah satu filter dalam mengantisipasi pengaruh yang ada,’’ ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau RM Yamin menjelaskan, Anugerah Seni Tradisional ini merupakan penganugerahan di tahun kelima. Apresiasi dari Pemprov Riau diberikan kepada seniman/budayawan yang telah menggeluti seni tradisional sehingga seni dan kebudayaan, terutama kebudayaan Melayu tetap eksis zaman ke zaman.

‘’Esensi dari kegiatan ini adalah untuk memotivasi dan berperan sebagai pelatuk picu para seniman untuk terus berkarya dengan tidak meninggalkan tradisi budaya Melayu,’’ imbuhnya.

Sementara itu Penerima Anugerah Pemangku Pengabdian Seni Tradisional 2010, Rida K Liamsi, dalam orasi budayanya mengangkat tema upaya meningkatkan pemartabatan tamadun Melayu. Menurut Ketua Dewan Pendiri Yayasan Sagang ini,  tamadun Melayu merupakan sebuah warisan sejarah yang harus dipupuk dan dibina, agar tidak usang ditelan masa.

Dengan konteks Visi Riau 2020, budaya Melayu tidak hanya bisa eksis di kalangan masyarakat Riau, tetapi juga dapat menjadi mesin penggerak kemajuan budaya yang gaungnya sudah sampai ke negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura bahkan Thailand.  ‘’Melayu baru adalah Melayu yang cerdas dan bermartabat. Ini dapat dimulai dengan memupuk rasa kecintaan akan budaya Melayu sejak di bangku sekolah. Hanya rumpun yang makmurlah yang dapat menamadunkam budaya Melayu,’’ ujarnya.

Rida juga mengatakan, Visi Riau 2020 bukanlah hal yang berat untuk diraih. Jika 10 tahun ke depan para budayawan, pecinta seni, pemerintah dan masyarakat memiliki kesepahaman untuk fokus dalam menyongsong Visi Riau 2020 mendatang, maka cita-cita itu akan dapat tercapai. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Budayawan Riau OK Nizami Jamil, anggota DPRD Provinsi Riau Iwa Sirwani Bibra serta puluhan seniman/budayawan yang telah berkiprah di dunia seni di Riau.

Suasana penuh dengan nuansa Melayu terlihat sangat kental dengan penampilan dari para penerima anugerah pemangku seni tradisional tahun 2010. Alunan musik, gerakan tari penuh pesan budaya Melayu, syair sastra dan penampilan teater Melayu semakin menghangatkan suasana.

Penampilan tersebut sempat memukau para tamu dan undangan yang hadir. Ini terlihat dari tepuk tangan dan decak kagum yang terpancar dari ekspresi para pecinta seni yang hadir di Ballroom Hotel Aryaduta tersebut. Kondisi ini semakin mendekatkan diri para tamu yang hadir akan suasana daerah yang masih sarat dengan tradisi dan adat-istiadat yang ada.***


Related Post