MENGENALKAN SEJARAH MELAYU

Megat, Novel Rida K Liamsi Diluncurkan

Budaya Jumat, 11 November 2016
Megat, Novel Rida K Liamsi Diluncurkan
Rida K Liamsi memberkan kata sambutan dalam peluncuran bukunya berjudul Megat, di VIP Lounge, Perpustakaan Universitas Indonesia, Kamis (10/11/2016). KAZZAINI KS/RIAUPOS

JAKARTA (RP) - Sebuah novel dengan judul Megat, karya Sastrawan dan Budayawan, Rida K Liamsi, resmi diluncurkan bertepatan dengan Hari Pahlawan di VIP Lounge, Perpustakaan Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (10/11).

Acara launching dan diskusi yang dimoderatori Penyair Hasan Aspahani dihadiri pembicara Putu Fajar Arcana (redaktur budaya Harian Kompas), kritikus sekaligus dosen FIB UI Maman S Mahayana, serta Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Ketika itu, cuplikan novel Megat juga dibacakan dengan baik oleh panitia, Asrizal Nur.

Rida K Liamsi merupakan sastrawan kelahiran Dabo  Singkep, Kepulauan Riau pada 17 Juli 1943. Selain menulis puisi dan novel, ketua Yayasan Sagang ini juga dikenal sebagai jurnalis senior sekaligus Chairman Riau Pos Group (RPG), yang konsisten memajukan budaya Melayu melalui pemberian Anugerah Sagang pada penggiat seni dan budaya.

Dalam acara yang terselenggara berkat kerja sama Perpustakaan UI, Yayasan Sagang dan Yayasan Hari Puisi Indonesia. Fajar Arcana sebagai pembahas novel mengatakan, Megat tanpa sadar membawa pembaca belajar tentang sejarah Melayu, budaya yang mewarnai Indonesia.

Lewat novel ini, Rida menurutnya mampu mengenalkan sejarah Melayu yang besar, yang mungkin selama ini kurang begitu mengemuka. Apalagi sebagai wartawan senior, penulis mampu memanfaatkan kemahirannya menulis untuk mencari angle terbaik. “Pak Rida sebagai sastrawan yang juga wartawan, terlatih mencari angle bagus dimanfaatkan dengan baik dalam menulis novel. Sehingga ia selalu membuat intro awal setiap bab dengan begitu memancing orang untuk membaca bagian-bagian berikutnya,” ujar Arcana.

Sementara Maman, yang juga Ketua Yayasan Hari Puisi Indonesia, menilai penulis begitu cerdik dalam teknis penulisan. Itu menurutnya terlihat dari cara Rida, menggantung informasi pada hampir setiap bab yang ada. Seperti informasi pembukaan pada bab satu ternyata lanjutannya di bab XI. Hal ini membuat orang tertarik menuntaskan membaca karyanya.

Peluncuran novel Megat, mendapat apresiasi dari Ketua Yayasan Sagang Kazzaini Ks, yang turut hadir di acara tersebut. Karya ini merupakan yang kedua bekerjasama dengan yayasan setelah novel pertama yang ditulis Rida berjudul Pulang Cahaya.

“Selamat untuk Bang Rida. Kami dari Yayasan Sagang melihat novel ini sesuai misi Sagang, bisa mengangkat dan memperkenalkan peran Melayu dalam konteks kebhinekaan Indonesia. Melalui novel ini orang bisa lebih mengenal peran budaya Melayu dalam konteks ke-Indonesiaan,” tegasnya.(fat)




Related Post