Menulislah!

Budaya Kamis, 10 September 2009
Menulislah!

Saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih saya kepada Dewan Juri Anugrah Seni dan Dewan Kesenian Riau (DKR) yang telah memilih saya sebagai Seniman Perdana dan memberikan penghargaan yang sangat prestesius ini. Penghargaan ini sungguh sesuatu kehormatan dan penghargaan yang sangat berarti bagi perjalanan hidup dan keseniman saya. Meskipun saya merasa belumlah begitu total dan tunak sebagai seorang seniman. Belumlah menghasilkan karya-karya yang patut dibanggakan dan memberi warna bagi perkembangan kehidupan kesenian, khususnya sastra di daerah ini. Saya merasa, dengan bentuk penghargaan seperti ini kepada para seniman, budayawan dan pekerja seni lainnya, menandakan di Riau ini telah tumbuh dan berkembang lingkungan dan komunitas seni yang maju dan menjadi pendorong bagi bangkitnya kretivitas para seniman dan budayawan disini. Dengan demikian ke depan akan menghasilkan karya-karya yang cemerlang dan dan bermakna. Dalam mengembangkan komunitas seni ini, Dewan Kesenian Riau (DKR) telah memainkan perannya yang sangat sentral dan strategis. Terelebih jika ini dikaitkan dengan salah satu visi Riau 2020, yaitu menjadikan Riau sebagai salah satu pusat kebudayaan Melayu di rantau Asean ini.

Panitia penyelenggara acara pemberian Anugerah Seni ini, telah meminta saya sebagai penerima penghargaan Seniman Perdana, agar menyampaikan orasi budaya atau pidato budaya. Namun, setelah saya memikirkan berhari-hari tentang topik yang baik untuk dijadikan pidato budaya saya untuk malam ini, saya belum menemukan gagasan-gagasan baru yang cukup penting dan menarik, yang patut saya sampaikan sebagai sebuah orasi atau pidato budaya. Saya lagi kehilangan dan kehabisan ide yang relevan dengan malam yang sangat berharga ini. Karena itu, akhirnya saya memutuskan akan menyampaikan sambutan yang biasa-biasa saja, sebagai tanda saya sangat menghormati dan menghargai penghgargaan dan elu-eluan yang saya terima. Sambutan yang ala kadar ini, mungkin hanya sebuah esei budaya, yang tidak mengandung hal-hal baru. Tidak pula mengandung ide-ide cemerlang. Tetapi hanya sebuah refleksi tentang perjalanan hidup, renungan tentang eksistensi saya sebagai seniman, yang mungkin ada harganya untuk dijadikan bahan berbagi rasa dan penglaman. Sambutan bersahanja ini saya beri judul Menulislah!

Pertanyaan visioner tentang mau jadi apa kita ? Mau jadi siapa kita ? adalah pertanyaan purba yang sudah menerjang pendengaran semenjak pekik memecah hari pertama kehadiran kita dalam kehidupan ini. Di lengan ibunda yang cintanya bak samudera, sudah didendangkan berjuta harapan. "Semoga anakku ini akan jadi..., akan hebat seperti ..., akan jadi ini .., akan jadi itu!.dan seterusnya ". Dan demikianlah pertanyaan dan harapan itu terus menyertai, mengepung, dan bahkan memasung kita dalam perantauan di dunia ini (meminjam kata para ustad di mesjid-mesjid) sampai kita, meminjam kata sahabat saya Sutardji Calzoum Bachri (mungkin saya tidak pas menafsirkannya) berjalan pulang dari pengembaraan, dari perantauan. Pulang ke rumah, ke tempat dari mana kita mulai berjalan. Ketempat ke mana kita harus pulang.

Tetapi kesadaran visioner tentang hakekat ?Menjadi apa kita? menjadi siapa kita?? terkadang baru muncul ketika kita sudah menjadi rentah. Sudah berlumur dengan luka, berdarah dengan sesal, atau tertawa dengan wajah yang penuh rasa malu. Apa yang sudah saya lakukan dengan usia, dengan waktu, dengan rahmat yang sudah diberikan selama pengembaraan? Dengan apa aku menandai jejak perjalanan yang sudah dilalui ini? Dengan sajak? Dengan cerpen? Dengan novel? Dengan sepotong dua potong esei tentang rasa sakit dan luka hidup? Dengan berdemo? Dengan mengeluh dan mengumpat? atau dengan rasa sesal dan bersalah lalu setiap saat bersimpuh dan berdoa ? Atau sebuah perjalanan yang tak berbekas, tak berjejak , tak bermakna, tidak berharga untuk diingat?

Meskipun kemudian kita berkata, ?Tidak, secuil apapun waktu yang kita miliki, se khalis apapun bekas pengembaraan tersisa, maka kita pastilah sudah meninggalkan jejak. Hidup adalah sebuah perjalanan. Apapun jejaknya, tetaplah telah memberi makna?. Tetapi, kesadaran itu sering datang terlambat. Sering bersama rasa sesal.

Dua puluh delapan tahun lalu, ketika saya diundang untuk membacakan sajak-sajak saya oleh Yayasan Puisi Nusantara yang dipimpin sdr Ibrahimm Sattah (alm) di aula Universitas Islam Riau, di belakang Pasar Kodim, Pekanbaru, saya mengatakan kepada undangan yang hadir, bahwa saya telah gagal menjadi penyair. Meskipun saya sudah menulis puisi sejak dibangku sekolah menengah dan sudah menulis beratus-ratus sajak, tetapi yang saya anggap sebagai karya-karya yang bagus (untuk ukuran saya) dan akan saya ketengahkan dalam forum baca sajak itu, tak lebih dari 13 buah sajak, dengan hanya dua buah sajak saja yang berhasil menerobos majalah sastra Horison (meskipun cukup banyak yang dimuat koran dan majalah non sastra lain di Jakarta, seperti Zaman, dll).

Saya iri pada Sutardji, saya iri pada Ibrahim Sattah dengan sajak-sajak mereka yang bagus dan menjadi bintang sastra nasional, meskipun saya waktu itu siang malam ikut bergelandang dengan mereka, ?nyeniman?. Minum bir dan mabuk. Saya juga gagal jadi pembaca sajak yang baik. Tidak bisa sebagus Tarji atau Ibrahim. Tidak mampu mengembangkan bakat teater saya untuk menghidangkan sebuah pembacaan sajak yang menyihir para hadirin. Tidak bisa seperti Idrus Tintin. Karena itu, sehabis pembacaaan sajak tunggal itu, meskipun UU Hamidy mengulas sajak saya dengan pujian, dan di aula acara nyaris tak ada undangan yang jumlahnya sekitar 200 orang itu yang keluar, saya tetap saja berjalan dengan semangat yang redup seakan kehilangan harapan untuk menjadi seorang penyair, seorang seniman, dan seakan terus menyesal. Mengapa saya mau datang membacakan sajak-sajak buruk saya itu di situ? Diiringi pula musik intrumental yang kata alm Idrus Tintin seperti musik Club malam. Mungkin saya lebih cocok jadi wartawan saja, dan bukan seniman . Mungkin lebih baik tetap menjadi guru SD.

Tetapi ternyata, setelah hari itu, saya masih terus menulis puisi. Terus membaca sajak. Terus berjuang untuk menjadi seniman. Ternyata ada sesuatu dalam diri saya yang tidak bisa dipadamkan oleh perasaan pesimisme itu. Tak bisa dibunuh dan dibungkam oleh rasa kalah, rasa tak berdaya saya, karena merasa sudah gagal untuk menjadi seorang penyair, seorang seniman. Ternyata saya tetap menulis puisi, meskipun kerja saya sebagai wartawan hampir merampas semua waktu (apalagi di majalah TEMPO yang sangat menguras energi ). Saya tetap masih terus menjadikan puisi sebagai bahagian dari gerak dan nadi hidup saya. Saya masih terus bercita-cita ingin punya sebuah kumpulan puisi. Saya masih terus ingin berdiri di pentas dan membaca sajak-sajak, dan mungkin suatu hari nanti di Taman Ismail Marzuki ( TIM ). Saya masih terus mencari koran-koran yang memuat sajak-sajak bagus karya para penyair hebat Indonesia . Masih memburu kumpulan-kumpulan puisi saat dalam perjalanan jurnalistik. Masih mengkliping beratus-ratus artikel sastra dan puisi, dan membawanya sebagai harta karun, saat saya harus pindah tugas dari satu tempat ke tempat lain (yang kadang-kadang membuat isteri saya menangis).

Saya masih terus mencintai sastra dan saya masih terus menulis! Meskipun kemudian menjadi pengusaha koran. Karena itulah mungkin, karena sesuatu yang tidak bisa saya padamkan, sesuatu yang tidak bisa saya bunuh , meskipun memerlukan waktu 25 tahun, dan dengan segala kelemahan dan kekurangan. Akhinya saya tetap bisa menghasilkan sejumlah puisi. Akhirnya mempunyai juga sebuah kumpulan puisi, menerbitkan sebuah novel, dan membacakan sajak-sajak jelek saya di TIM dan tetap rindu membacakan sajak-sajak. Tetap memendam obsesi untuk menjadi seorang seniman.

Kesadaran visioner itu memang sering datang terlambat, karena kita sering terlambat melakukan refleksi terhadap perjalanan pengembaraan kita. Kesadaran bahwa kita ini sebenarnya tidak untuk menjadi ?apa-apa ? . Tidak untuk menjadi ?siapa-siapa?. Bahwa sebenarnya sejak awal, kita seharusnya menjadi seseorang , yang menyadari apa yang sebenarnya kita genggam, kita miliki, kita punya. Menyadari, bahwa dengan apa yang ada pada kita, maka kita menjadi sesorang, menjadi sesuatu, menjadi Mu, Ku, Kita . Menjadi pengembara yang dengan teguh hati terus mencari arah dan jalan pulang. Kita seharusnya seperti seekor kedidi, sih mungil yang berkaki ranjau, dengan mata yang ligat, berlari menyusur pantai. Menjejak pasir, menjejak ombak, menjejak angin, mencari tanda-tanda musim, mencari isyarat jalan untuk pulang.

Kemampuan menulis, meskipun hanya bisa menulis sebuah puisi yang jelek, esei yang berantakan, novel kacangan, akhirnya saya sadari, adalah sebuah kesadaran visioner , bahwa itulah antara lain sesuatu yang saya punya, sesuatu yang kita genggam. Dengan kesadaran visioner demikian itu, saya menjadi tahu makna hidup dan makna keberadaan saya. Kesadaran untuk memahami bahwa apapun yang saya punya, yang kita genggam, hakekatnya adalah sebuah anugerah, sebuah Rahmat!. Dan dengan kesadaran itu, tidak ada pilihan lain yang lebih penting untuk diputuskan , kecuali bahwa saya haruslah melakukan sesuatu dengan rahmat itu. Berbuat! Sedaya saya, sebisa saya! Berbuat sesuatu itu adalah refleksi lain dari tanda rasa syukur atas anugerah itu. Karena sezarah apapun yang saya miliki , itulah Rahmat, yang saya tidak tahu apakah orang lain juga memilikinya.

Kesadaran visioner bahwa menulis itu adalah sebuah kerja yang sangat bermakna, juga memberikan demensi lain, yaitu menulis itu juga menjadi sebuah kewajiban. Sebuah tugas . Menulis itu menjadi ritual yang dilakukan dan dimulai dengan niat yang baik. Mudah-mudahan akan memberikan sesuatu yang berharga kepada orang lain. Menyenangkan orang lain. Maka menulis itu akhirnya menjadi sebuah ibadah! Dan esensi dari sebuah ibadah itu adalah rasa syukur atas apa yang sudah kita terima. Dan karena itupula, saya pikir, tugas terpenting dari seorang penulis, dan karya yang dihasilkannya, adalah untuk membangkitkan harapan bagi orang lain yang bersentuhan dengan karyanya. Membangkitkan optimisme, bahwa selalu ada jalan menuju mimpi-mimpi dan obsesi mereka. Selalau ada sesuatu yang dapat dipakai untuk membalur luka dan kepedihan mereka. Memberi mereka mukjizat cinta dan harapan.

Memang, akan selalu muncul rasa galau, tentang apa yang kita sudah dihasilkan, tentang karya-karya yang sudah kita hasilkan dengan peluh dan letih. Bahwa segala kerja itu belumlah seperti kehendak kita, belum sebesar harapkan orang lain. Tapi, itu pun akhirnya disadari, sebenarnya adalah bahagian dari proses memahami seberapa besar yang kita genggam, seberapa berharga yang kita punya. Kemampuan menulis pada mulanya memang adalah bakat, dan bakat itulah, seperti bakat-bakat yang lain, yang sebenarnya anugerah itu! Rahmat itu! Bakat itu menjadi cemerlang, kalau kemudian kita belajar mengembangkan bakat itu dengan berlatih dan terus berlatih. Mengasahnya bak mengasah parang bagi seorang penebang pohon. Mempertajam wawasan dan meningkatkan apresiasi tentang apa dan bagaimana kerja menulis itu agar menjadi cemerlang.

Kerja mengasah bakat, memoles kemampuan, menajamkan wawasan, adalah bahagian dari perjalanan kita menuju ke satu kehendak. Menghasilkan sesuatu yang berguna, sesuatu yang bermakna , yang kita kerjakan sebisa kita, sedaya kita! Bahwa setelah kerja keras, setelah daya upaya itu, ternyata belumlah menghasilkan sesuatu yang seperti dikehendaki oleh sebuah norma, sebuah sistim, sebuah nilai yang ditawarkan oleh berbagai persepsi, oleh komunitas dimana karya-karya itu berinteraksi dan menunjukkan eksistensinya, maka janganlah menyerah!

Dalam perjalanan pengembaraan, kita tidak boleh dikalahkan oleh nilai, oleh persepsi, oleh hukum komunitas, oleh sebuah kesepakatan normatif tetang ?bagus, tidak bagus, hebat tidak hebat, menggemparkan atau tidak menggemparkan ?, karena nilai dan persepsi itu, adalah realitas yang akan selalu berubah. Ada saat yang ?baik menjadi buruk ?, atau sebaliknya, atau yang dan yang lainnya. Kita, hanya akan dikalahkan oleh waktu. Kita hanya akan menyerah karena waktu. Dan, ternyata selama berabad-abad, kita senantiasa tidak tahu, atau tidak akan tahu, bila waktunya habis. Berapa banyak lagi waktu tersisa . Kita hanya bisa bilang dengan tegap hati: Teruslah berbuat! Teruslah Menulis! Karena betapapun, waktu yang tersisa dalam pengembaraan itu adalah juga sebuah anugerah yang perlu disyukuri. Harus kita nikmati dengan ketegapan hati.

Demikianlah, dan dengan kesadaran visioner itu jugalah, pada malam ini, saya merasa bahwa penghargaan yang diberikan keapada saya, sebagai Seniman Perdana (apalagi katanya saya boleh memasang gelar SP itu di depan nama saya) adalah bahagian dari proses saya bersyukur tentang apa yang saya punya, apa yang saya genggam. Tentang rahmat yang saya peroleh, tentang waktu yang masih memberi tugas pada saya untuk terus berjalan, mengembara dan terus menulis.

Akhirnya, sebagai bagian akhir dari esei budaya saya ini, saya ingin mendidikasikan penghargaan yang saya terima malam ini kepada Isteri saya, Asmini Syukur, yang selama ini telah menjadi kekuatan yang terus melapangkan saya untuk terus menulis, dan juga kepada anak, cucu, dan keluarga saya yang lain yang juga senantiasa menjadi samudera cinta dan inspirasi bagi kerja-kerja sastra saya. Saya ingat sosok Frans Honomoun Hotasoit, Asisten Wedana (sekarang istilahnya Camat) di Pulau Singkep, orang yang pertama memaksa saya untuk mengarang. Menulis, ketika baru dikelas 5 SD. Saya ingat sosok Yose Rizal, guru bahasa dan sastra saya ketika saya dikelas satu di SGB Tanjung Pinang yang pertama mengiringi saya membaca sajak-sajak dengan gesekan biolanya. Saya ingat sosok sosok lain yang menjadi guru, menjadi sahabat, menjadi teman berdiskusi, dan membuat wawasan keseniman dan kesusasteraan saya menjadi luas. Terima kasih.

 

Esai Budaya saat menerima Anugerah Seniman Perdana. Dipaparkan pada Malam Penganugerahan Seniman Perdana yang dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Riau, di Pekanbaru. (Pekanbaru, 17 Februari 2008).