Apakah Kita Sudah Menemukan Model Pembangunan Kebudayaan Kita?

Budaya Kamis, 10 September 2009
Apakah Kita Sudah Menemukan Model Pembangunan Kebudayaan Kita?

Ada sebuah ilustrasi menarik yang saya tonton di sebuah TV swasta Jakarta, tentang Siti Nurhaliza, ikon Melayu serantau itu, beberapa waktu lalu. Ketika Siti berada di Jakarta dalam rangka menyiapkan video klip album terbarunya, Siti telah membuat kalang kabut Rizal Mantovani, sang sutradara video klip tersebut. Kerepotan itu antara lain karena Siti minta, dan dengan harga mati, beberapa bagian dari ciri kemelayuannya agar tidak hilang atau sampai terganggu. Selain suasana, setting dan nuasa keberadaannya, yang terpenting adalah pakaiannya. Seluruhnya harus utuh, dan tertutup. Permintaan seperti ini di negeri Melayu, tentu saja wajar. Tetapi Siti sebenarnya dalam posisi sedang melawan pasar.

Albumnya itu sebagian berisi lagu-lagu yang dicipta oleh penulis lagu Indonesia, dan akan diedarkan sebagian besar di Indonesia. Padahal pasar lagu-lapu pop Indonesia, bukan saja menuntut suara dan lirik yang pas dengan selera pop Indonesia, tetapi juga tampilan sang penyanyi, termasuk busananya, yang sejauh ini sangat tergila-gila pada gairah panggung yang seksi, terbuka, dan sering membuat para penonton vcd mabuk. Kenapa Siti berani melawan pasar? Kenapa Siti begitu percaya bahwa bahagian dari roh kemelayuannya dapat diterima di pasar yang justru rasa kemalayuannya sudah sangat menipis, dan bahkan terkadang sudah sirna? Adakah dengan itu sang pa itu ingin menunjukkan bahwa sebenarnya, ada sisi kebudayaan Melayu dapat wujud, mempertahankan jatidirinya, dan tetap mampu memberi kontribusi terhadap perkembangan kehidupan kebudayaan suatu bangsa ?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jugalah yang sekarang akan selalu muncul di sini, di Riau, ketika kita semua sepakat menerima salah satu visi Riau 2020, yaitu menjadikan Riau sebagai salah satu pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Pertanyaan itu, mungkin saja berbunyi Budaya Melayu yang bagaimana yang ingin kita wujudkan dalam rentang 20 tahun itu? Bahagian dari jati diri Melayu yang mana yang akan tetap menjadi teras dan tetap memberi andilnya dalam bentuk tradisi serta membangun nurani kehidupan di tengah peroses perubahan yang demikian cepat? Apakah 20 tahun kemudian kita akan tetap berbaju kurung? Apakah kita akan tetap berpantun-pantun? Apakah kita justru akan tercerabut dari akar tradisi yang ketat dan lekat itu? Menjadi sosok Melayu baru, yang dinamis, handal, dan membangun komunitas dan wilayah budaya yang baru ?

Dengan harapan kita semua akan dapat ikut memberi warna bagi kehidupan kebudayaan di rantau ini, di mana Riau akan menjadi salah satu pusat perkembangan dan kebangkitan budaya Melayu ke depan, maka pertanyaan-pertanyaan demikian perlu segera dijawab. Perlu segera diberi formulasi. Kita tentu tidak dapat membiarkan hari demi hari berjalan, dan kita mengalir bersama perubahan itu, tanpa sedikitkan memberi respon dan membuat agenda yang kita yakin akan menentukan hari depan kita semua.

Dari rentang perjalanan waktu yang sudah dilalui, kita semua sepakat bahwa Kebudayaan Melayu adalah kebudayaan yang sangat terbuka, adaptif dan akomodatif. Kebudayaan Melayu diibaratkan sebuah lemari besar, di mana di dalam lemari itu berbagai budaya lain dapat disimpan dan berbaur dalam satu wilayah budaya, sementara budaya Melayu tetap utuh. Islam telah menjadi bagian terpenting untuk menjadi pateri dan bingkai, dan bahkan ruh dari kenyataan budaya ini. Tetapi kita juga menyadari, di seputar komunitas budaya Melayu itu, telah terjadi perubahan yang sangat cepat. Baik karena perubahan zaman yang memang menghendaki dan memaksa perubahan itu terjadi dari waktu ke waktu, tetapi juga perubahan yang direkayasa dan didisain untuk menciptakan satu kawasan baru, baik untuk kepentingan politik, ekonomi, maupun budaya itu sendiri. Perubahan-perubahan itu tentu saja sudah ikut memberi warna, dan menjejas akar-akar tradisi dan prilaku budaya yang ada. Apalagi, kawasan budaya Melayu adalah kawasan yang sangat dinamis, pusat terjadinya pertukaran informasi, dan benturan-benturan kepentingan. Dalam hal ini, kepentingan dan rekayasa ekonomi menjadi sangat berpengaruh, dan memberi warna dan dorongan yang kuat atas berbagai perubahan. Bahkan secara struktural. Demikian juga tekanan dan desakan perubahan akibat politis. Dalam masa 50 tahun ini, dapat dilihat betapa berbagai perubahan secara kultural telah terjadi. Bahasa, adat istiasat, prilaku sosial, dan juga pandangan-pandangan ekonomi, di kawasan yang paling dominan keberadaan budaya Melayu itu, seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia (Riau, Sumatera Timur dan kawasan budaya Melayu lainnya).

Jika Riau akan membangkitkan diri sebagai salah satu teras budaya Melayu terpenting di rantau ini, 20 tahun ke depan, rekayasa apa yang akan dilakukan? strategi pembangunan kebudayaan yang bagaimana yang akan dirancang dan dilaksanakan? Apakah keberadaan sebuah Bandar serai, dan beberapa Dewan Kesenian, sudah akan cukup untuk menjadi penggerak semangat kemelayuan itu nanti? Apakah kita sudah menemukan sebuah model pembangunan kebudayaan yang tepat untuk menjawab visi ideal yang kita impikan? Apakah Islam yang menjadi ruh dari kebudayaan Melayu itu akan dapat kita kekalkan dan menjadi stimulan bagi budaya melayu untuk terus maju ke semua sisi dan posisi yang menanti di depan?

Setelah bertahun-tahun menggerakkan jentera perekonomiannya, yang hampir-hampir menjejas akan-akar budaya Melayu yang tersisa, akhirnya Singapura kini menjadi negeri yang sangat perduli pada pembangunan kebudayaan. Kabarnya banyak panggung teater dibangun. Dinding-dinding kereta bawah tanahnya ditulisi puisi-puisi. Dan pemerintahnya memberi angaran yang cukup besar untuk kebudayaan disana, termasuk kebudayaan Melayu. Adakah ini model yang pas untuk dirujuk oleh Riau? Apakah kita punya kondisi sosio budaya, ekonomi dan politik yang cukup untuk berangkat ke depan dengan model begini ini, yakni dengan membangun ekonomi yang tangguh, kita mengembangkan kehidupan kebudayaan yang cemerlang? Tetapi tidakkah model pembangunan kebudayaan seperti Singapura ini sangat kental warna westernisasi (kebarat-baratannya)-nya. Rasa barat yang sangat kapitalistik, yang selalu membuat budaya kaum yang relegius, terjejas, bahkan terancam?

Malaysia, mungkin model yang lain. Pembangunan ekonomi yang lebih berorientasi budaya, bergerak ke depan menghela masayarakat tradisional dan agraris mereka. Struktur ekonomi dan kebijakan pembangunan memberi tempat kepada budaya melayu untuk turut berperan dan memberi warna. Namun proses gerakan ekonomi menjadi agak lambat, dan banyak sandungan. Kalau Singapura dalam masa 50 tahun ini sudah berpendapatan USD 7.000.- per kapita, Malaysia baru USD 3500.- per kapita. Tetapi di Malaysia ruh budaya Melayu terjaga. Beribu-ribu judul buku terbit setiap tahun, berpuluh-puluh pertemuan budaya dilakukan. Di mana-mana ada pusat kebudayaan, dan pada saat-saat tertentu, sosok Melayu dengan pakaian tradisinya tampil dan mengambil tempat. Rumah-rumah ibadah dibangun dengan megah, dengan jemaah yang melimpah. Tetapi nun di pojok negeri, sebuah Genting Island tetap ada, dan toto kuda tetap hidup. Tampaknya, Malaysia mengambil Jepang sebagai model pembangunan negara dan kebudayaannya. Dan Jepanglah salah satu negera di dunia ini begitu tangguh dan kukuh memberi ruang pada tradisi dan budayanya untuk menjadi roh semua aspek kebijakan pembangunannya. Sebuah keputusan politik, atau kesepakatan ekonomi, masih selalu dilakukan di sebuah pondok geisa, sambil meneguk sake, dan menonton tarian tradisi mereka. Dapatkah kita menentukan model, ditengah sikap budaya dan pandangan masyararak yang sangat ambiguitas ?

Ketika kita memandang ke depan, dan berbicara tentang bagaimana mimpi menjadi salah satu pusat kebudayaan Melayu terkemuka akan diwujudkan, rasanya kita harus senantisa terus mengajukan banyak pertanyaan pada diri, pada komunitas, pada para pembuat dan pelaksana kebijakan pembangunan di daerah ini? Kita harus berani menggugat tentang harapan ke depan kita. Tetapi kita juga harus segera membuat keputusan, harus menentukan model, dan harus berani menanggung resiko apapun kelak yang kan terjadi. Tak ada bangsa yang bisa melintas badai, jika bangsa itu tidak membuat keputusan bagaimana mereka harus menghadapi badai itu sendiri. Jangan berharap kita akan menjadi pusat kebudayaan Melayu yang tangguh dan unggul ditahun 2020, jika pada hari ini kita masih bertengkar tentang model dan filosofi atap limas di negeri kita. Cuma sebegitukah kita ? ***

Tulisan ini berasal dari Pidato Kebudayaan menyambut Tahun Baru 2003 di Bandar Serai, Pekanbaru. Tulisan ini telah diedit dan diselaraskan dengan perkembangan waktu tanpa merusak esensi pikiran yang melatar belakanginya.


Related Post