Pidato Rida K Liamsi pada Korean-Asean Leterature Poets Festival, Desember 2010

Satu Harapan : Persahabatan

Budaya Kamis, 09 Desember 2010
 Satu Harapan : Persahabatan

Saudara-saudara,
Kami datang dari negeri-negeri yang berbeda di kawasan Asean . Datang ke Korea Selatan, ke acara Korean-Asean Poets Leterature Festival,  dengan satu harapan : Persahabatan.

Saat ini, di dunia yang berubah begitu cepat, terutama disebabkan oleh perkembangan Teknologi Informasi, kita masih menyaksikan berbagai konflik dan ketidak adilan. Suka tidak suka, di berbagai negeri kita masih menyaksikan perang, konflik politik, ekonomi, penindasan, pelanggaran hak-hak asasi manusia,  dan kemiskinan.


Ditengah-tengah situasi dunia yang demikian itu,  kita merasakan dengan kesadaran jernih, bahwa hanya persahabatanlah yang menjadi salah satu bahagian hidup kita yang paling berharga , yang patut kita  pertahankan, karena dengan persahabatan itu kita masih bisa berharap hubungan antar negara, antar bangsa, antar personal, masih memiliki nilai-nilai  yang mengandung harapan masa depan. Hanya dengan persahabatanlah kini  kita masih bisa berharap harkat dan martabat kemanusiaan masih layak diperjuangkan. Hanya persahabatanlah yang masih jadi harapan kita untuk saling berkomunikasi, saling berbagi informasi tentang hidup, harapan bahwa masih ada cinta, solidaritas, dan persaudaraan dalam suasana kebersamaan dan kesetaraan.

Karena itulah, forum ini, Forum Pertemuan para Penyair Korea-Asean melalui agenda  Korean-Asean Poets Leterature Festival ini, menurut saya, menjadi penting dan bermakna, karena membawa tema : Persahabatan. Tema yang dirindukan ingin dimiliki oleh seluruh dunia. Untuk itu kita patut berterimakasih kepada The Poet Society of Asia ( TPSA) yang bekerjasama dengan Ministry of Frogein Affair & Trade  of South Korea, yang menyelenggrakan forum ini, yang telah dengan cermat melihat, inilah bahagian hidup kita yang perlu kita jaga dan pelihara agar tetap hidup dan menjadi inspirasi dunia sastra dan kepenyairan kita.

Saudara-saudara sekalian,
Apakah dengan puisi kita dapat membangun Persahabatan dan kersamaan ? Apakah dengan puisi kita dapat membangun solidaritas kemanusiaan ? Apakah dengan puisi kita dapat membantu mewujudkan dunia yang damai ?
Pada hakekatnya, kehidupan kita ini sejak awal dimulai dengan sebuah puisi. Negeri-negeri kita yang merdeka ini, juga  pada awalnya dibangun dengan landasan sebuah puisi. Karena puisi itu sesungguh adalah  sebuah upaya kemanusiaan melalui akal budi nya untuk membangun harapan dan masa depannya.Menulis puisi adalah menulis harapan, menghapus kemalangan , dan membangun kebersamaan. Puisi adalah inspirasi yang menjadi roh yang menggerakkan semangat kehidupan kita untuk meraih hidup yang lebih damai. Puisi  adalah wujud tindakan kebudayaan yang memahami makna persahabatan dan kebersamaan.

Di negeri saya, Republik Indonesia, kami membangun negeri kami dengan landasan sebuah puisi besar, yang kami namakan “ Sumpah Pemuda “. Dengan puisi itu , 82 tahun lalu, kami bersumpah untuk  Berbangsa satu, Bertanah air satu, dan Berbahasa satu : Indonesia. Dan, sampai saat ini, puisi besar itulah yang menyatukan kami. Puisi besar itulah yang mempertahankan semangat kami untuk terus memelihara persaudaran di tengah pluralitas bangsa, bahasa, dan etnis.

Dan saya percaya di negeri-negri yang lainpun, ada sebuah puisi besar yang menjadi landasan  untuk membangun bangsa, negara demi  meraih hidup yang lebih baik. Hanya puisi, yang dapat menembus batas perbedaan bahasa, ideologi, dan adat istidat. Hanya puisi lah yang dapat menyamakan persepsi kita tentang makna hidup, makna persahabatan, makna persaudaraan dan solidaritas. Persahabatan itu hanya dapat tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kita, apabila kita mempunyai harapan yang sama, tujuan masa depan yang sama.

Saudara-saudara
Sejak dulu,  “Kata “ sebagai jantung puisi, “ Bahasa “ sebagai urat nadi kesusastraan,  telah menjadi kekuatan pemersatu dan pendamai yang luar biasa dalam upaya kita membangun harapan hidup, perdamaian dan persahabatan antar manusia . Saya ingin mengutip sebuah catatan Pujangga Besar Indonesia Raja Ali Haji dalam bukunya “ Bustanul Katibin “ : “ Kata pena akulah Raja di ini Dunia. Banyak pekerjaan pedang dapat dilakukan dengan kata, tetapi tidak semua pekerjaan kata yang dapat dilakukan dengan pedang. Beratus-ratus pedang yang telah terhunus, dengan sepatah kata dapat tersarung “

Dan sekarang ini, untuk memberi makna bagi pertemuan para penyair Korea-Asean yang bertema Persahabatan ini,  marilah kita belajar dari Face Book dengan Facebookernya. Twiiter dengan Twiit nya. Berjuta-juta orang dan kata-kata sekarang bersahabat, di alam maya, berinteraksi, bertukar pengalaman, berbagi harapan, berbagi luka dan duka, diseluruh dunia, tanpa mengenal batas negara, perbedaan ideologi politik, perbedaan bahasa dan latar belakang ekonomi. Untuk sejenak mereka melupakan derita, perang, dan kemalangan hidup.

Para Facebooker dan twitter itu, sedang menulis puisi, sedang membuat sejarah, sedang memberi makna pada persahabatan kemanusiaan. Dapatkah  kita pada hari ini, melalui puisi dan pertemuan para penyair ini, membangun tradisi baru hubungan kepenyairan , menjadi bahagian dari perjuangan dunia membangun perdamaian dengan mengepankan persahabatan ? Terpulanglah pada kita !

Saudara-saudara,
Atas nama para penyair Asean yang datang pada forum ini, sekali lagi, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih  kepada The Poet Society of Asia dan Steering Comitee Korea-Asean Poets Letrature Festival atas  undangan dan kesempatan untuk bersama-sama dengan penyair lain dari Asia dan Korea menyemarakkan festival ini. Datang dan menikmati negeri Korea Selatan yang indah dan memosona ini.

Terimakasih


Related Post