Engku Puteri (Part V)

Budaya Rabu, 09 September 2009
Engku Puteri  (Part V)

Perempuan yang Melawan dengan Seribu Kata

V. Perlawanan Kultur, adalah juga Kepahlawanan.

Apa yang dapat dipetik dari catatan-catatan singkat diatas tadi ?
Pertama, kepahlawanan itu bukan hanya ditandai dengan perjuangan melawan penjajahan dan penindasan dengan bedil dan meriam. Bukan hanya persimbahan darah dengan kematian yang mengerikan. Tetapi juga perlawanan dengan budaya, perjuangan dengan kata-kata, dengan ketegaran hati, dan sikap tidak menyerah dalam mempertahankan kedaulatan dan harkat negeri. Perlawanan yang dilakukan Engku Puteri dalam mempertahankan Regelia Kerajan Riau Lingga itu, adalah perlawanan terhadap penjajahan dan penindasan yang ingin merampas kedaulatan Riau Lingga melalui perampadan terhadap simbol kedaulatan kerajaan Riau Lingga. Perlawanan menentang sikap zalim dan kejam para penjajah dalam menindas dan merendahkan harkat dan martabat suatu negeri, sebuah bangsa yang bernama Melayu. Sebuah rumpun bangsa, sebuah negeri, sebuah tradisi yang ratusan tahun sudah tegak dan berperan membangun rantau di nusantara ini.

 

Kedua, Engku Puteri tidak menembakkan meriam, tidak mengangkat kelewang, tidak seperti ayahandanya Raja Haji Fisabilillah. Tapi dia melawan dengan keteguhan hati, kekuatan jiwa. Dia melakukan pemberontakan secara kultural terhadap kekuasaaan asing yang ingin menghancurkan kebudayaan sebuah negeri. Perlawanan budaya seperti ini juga yang kemudian terjadi tahun 1902 dan 1903, ketika Sultan Abdurrahman Muazzamsyah (1885-1911) memerintahkan agar bendera Belanda tidak dipasang di Kapal kebesarannya, dan tanggal 1 Januari1903, dia memerintahkan pembesarnya agar memasang bendera Kerajaan Riau Lingga diatas bendera Belanda di pulau Penyengat. Peristiwa ini telah menimbulkan kemarahan Residen Belanda, dan mereka menuduh Sultan Abdurrahman Muazamsyah telah membangkang dan memberontak. Sebuah pemberontakan kultural, yang jauh lebih tajam dan keras dampaknya dari pada perlawan bersenjata.

 

Perlawanan secara kultural di kerajaan melayu Riau Lingga, setelah perang Riau (1782-1784) dan Raja Haji tewas, menjadi penting, dan itulah bentuk perlawanan yang dilakukan para tokoh kerajaan Riau Lingga secara sungguh-sungguh, fokus dan terencana. Karena sejak kekalahan itu, Kerajaan Riau Lingga hampir tidak lagi mempunyai kekuatan bersenjata untuk melawan penindasan dan penjajahan. Kerajaan ini hampir lumpuh kekuatan angkatan perangnya, dan telah diawasi secara ketat oleh Belanda dan Inggeris. Karena itulah, wilayah budaya dan intelektual yang dipilih dan dimasuki, serta dijadikan medan untuk bertempur. Inilah medan yang dipilih oleh Mahmud Muzaffarsyah , Sultan Riau Lingga (1842-1857) untuk menentang Belanda melalui tindakan-tindakan kontroversialnya. Inilah cara berjuang yang dilakukan oleh Tengku Embung Fatimah, puteri Sultan Mahmud Muzaffarsyah dan isteri Yang Dipertuan Muda Yusuf Al Ahmadi dengan cara ingin menjadikan dirinya menjadi Sultanah, menggantikan ayahnya,untuk menegakkan dinastinya dan menyingkirkan penjajah. Inilah jalan perang yang dilakukan oleh Engku Puteri, inilah wilayah pertempuran yang dipilih oleh Sultan Abdurrahman Muazzamsyah sampai kerajaan Riau Lingga dilenyapkan. Wilayah budaya dan persuratanlah yang menjadi medan politik yang dipilih oleh Raja Ahmad, Raja Ali Haji, Raja Ali Kelana, Raja Khalid Hitam,dan tokoh lainnya melalui sastra dan publikasi lain. Perlawanan budaya jugalah yang melatar belakangi terbentuknya Rusdiyah Club (1885) yang fenomenal itu. Karena itu, sewajarnyalah kemudian seorang Raja Ali Haji diberi gelar Pahlawan Nasional dari bidang budaya. Namun sumber inspirasi dan moral perlawanan ini, adalah Raja Hamidah atau Engku Puteri, penerus dynasti pahlawan Riau-Lingga Raja Haji Fisabilillah.

 

Jadi, Engku Puteri, dengan perlawanannya , dengan semangatnya mempertahan kedaulatan Riau Lingga melalui Regelia Kerajaan, pahlawan apakah dia ? Berarti besarkah perlawanannya terhadap para penindas itu demi menyelamatkan Regelia yang menjadi simbol kedaulatan kerajaan Riau Lingga itu? Tak sebandingkah perjuangan dan ketegaran sikap perlawanannya itu, dengan seribu meriam, seribu kapal perang, dan beribu mayat yang terbaring tewas? Tidak cukup pentingkah perlawanan ?seribu kata ? sang perempuan perkasa itu terhadap perjalanan sejarah bangsa ini? Inilah yang tampaknya menantang kita untuk menjawabnya. ****