Catatan Sita Rohana : Tun Teja, Tun Irang dan Tukang Cerita

Budaya Minggu, 06 Februari 2022
Catatan Sita Rohana : Tun Teja, Tun Irang dan Tukang Cerita
Lukisan Junaidi Syam, 2019 (foto:Jk / https://lamriau.id

Kata Pengantar

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membakukan pengertian 'sejarah' sebagai: 
1 asal-usul (keturunan) silsilah; 2 kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau; riwayat; tambo: cerita 3 pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi dalam masa lampau; ilmu sejarah. 
Penekanannya adalah pada ''kejadian dan peristiwa'', "benar-benar terjadi", ''di masa lampau". Siapa yang 'membawa'-nya ke masa kini? Para sejarawan dan penulis kronik sejarah merangkai kejadian dan peristiwa yang terjadi di masa lampau dengan benang-benang tafsir menjadi naratif. 


Saya memaknai sejarah sebagai kumpulan kepingan realitas masa lalu yang dipilih-saring dengan berbagai pertimbangan, dikonfirmasi, diverifikasi (dengan data dan teks rujukan), ditafsir, disepakati bersama, diabadikan (direkam/ ditulis) sebagai sebuah naratif yang bermuatan atau mengandung pesan. Muatan atau pesannya antara lain persoalan ke-asal-an (asal-usul), identitas/ jatidiri suatu kelompok/ bangsa, kepahlawanan, dll. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai perekat sense of belonging(rasa kepemilikan), rasa kebersamaan, rasa senasib-sepenanggungan,''kita dari pedih yang sama". 


'Kepingan realitas' menjadikan 'sejarah' sering diklaim sebagai —atau dihubungkan dengan— hal-hal yang falctual, naratif atas apa yang benar-benar terjadi. Namun, 'masa lalu' memerlukan 'kendaraan' — subjek yang membawakan— dan perlakuan khusus untuk sampai ke masa kini. Dalam prosesnya, faktualitas sejarah melibatkan subjektivitas penulis sejarah ketika memilih tujuan, memilah bahan (data), dan memberi tafsir. Pembahasaan dan tekstualisasinya pun penuh pertimbangan; politis maupun kultural. Karenanya, sejarah menjadi sangat dinamis: terikat pada ruang dan waktu; teks yang konteksnya senantiasa berubah, seiring dengan perubahan politik dan temuan-temuan baru yang memungkinkan tafsir berubah atau bertambah. Satu peristiwa dapat menjadi penting di satu masa dan tak penting lagi di masa yang lain. Seorang tokoh dapat menjadi pahlawan di satu masa atau menjadi pengkhianat di masa lain. 

'Keterbatasan' atau pembatasan-pembatasan dalam penulisan sejarah dan historiografi ini menguatkan kesan ekskusivitasnya; sesuatu yang terpahami dan sangat dapat diterima. Ibarat kitab, maka sejarah adalah pondasi bagi eksistensi satu kaum atau bangsa. 'Keterbatasan' ini membuka ruang bagi tafsir-tafsir baru, sebagaimana yang dilakukan para penulis/ pengarang karya seni (termasuk sastra).

Naratif dan Narator

"Sejarah kami adalah dongeng nenek menjelang tidur"

Larik puisi Sejarah Kami (1981) karangan Ediruslan Pe Amanriza selalu menarik untuk dieksplorasi dalam usaha untuk membaca sejarah dan historiografi dari perspektif Barat dan Melayu. Klaim faktualitas teks sejarah sering dipertentangkan dengan fiksionalitas teks sastra (dan seni pada umumnya).

Dalam catatannya yang bertajuk Sejarah atawa Dongeng, Al azhar (2018) mengatakan bahwa baik fakta maupun fiksitakluk pada dinamika pembacaan atau resepsi. Di depan teks, pembaca adalah subyek merdeka yang bebas menentukan tujuannya — menemukan hal-hal produktif bagi dirinya. Bagi Ediruslan Pe Amanriza, 'sejarah kami'sebagai 'dongeng menjelang tidur', dan itulah sisi produktif Isejarah kami' yang disimaknya. Bagi sejarawan, penyamaan itu meruntuhkan klaim faktualitas sejarah ke dalam fiksionalitas dongeng. Sebaliknya, bagi sastrawan (dan seniman) dengan pendekatan pembacaan dan resepsi ini, teks sejarah menemukan kesuburannya: sebagai dermaga inspirasi produksi teks-teks lain.

Berangkat dari larik puisi Ediruslan Pe Amanriza, alih-alih terpaku pada diskusi tentang objek 'sejarah' dan 'dongeng' seperti yang dikatakan Al azhar, saya lebih tertarik pada subjeknya, tokoh ''nenek", datam perannya sebagai ''pengarang" naratif, atau "tukang cerita", aktor yang kreatif di balik naratif.''Nenek" menjadi tokoh yang menyimpan dalam ingatannya —baik ingatannya sendiri atau ingatan yang diwariskan oleh orang-orang di masa lalu— kisahan peristiwa yang terjadi "dulu, di sana'', menjadikan dirinya instrumen yang mengolah kisahan tersebut untuk dibawa dan disampaikan pada khalayaknya "kini, di sini", sebagaimana tukang cerita menjalankan fungsinya dalam tradisi.

Gagasan mengenai tukang cerita ini terinspirasi oleh novel Mario Vargas Llosa, El Hablador(1987), yangditerjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai The Stotyteller(1989), dan ke dalam bahasa Indonesia/ Melayu sebagai Tukang Cerita (2017). Novel ini mengisahkan tentang peran kultural tokoh hablador(tukang cerita) dalamkomunitas Indian Machiguenga di Peru. Habladoradalah tokoh pengembara yang menjalin komunitas nomaden yang tersebar di ceruk lembah belantara Amazon, mengisahkan dongeng, legenda, dan gosip-gosip sehingga seluruh komunitas ini berbagi kisah —dan bahkan sejarah— yang sama. Ia menjembatani keberjarakan ruang dan waktu, yang di sana dan yang di sini, yang dulu dan yang kini. Gambaran ini membayangkan sosokTukang Koba di lingkungan komunitas di tepi dan pedalaman Sungai Rokan Riau yang membawakan kisah-kisah dari kampung ke kampung di masa lalu dan selalu ditunggu-tunggu khalayaknya. 


Tukang cerita juga menjadi tema penting dalam buku G. L. Koster, Mengembara di Taman-taman yang Menggoda(2011). Koster menyebutkan bahwa para tukang cerita ini adalah tokoh penting penyebaran kisah-kisah yang ditulis dalam naratif-naratif Melayu (manuskrip) ke khalayak pendengarnya. Dari kajiannya, Koster membedakan para tukang cerita ini sebagai 'dalang' dan 'dagang'. 'Dalang' adalah tukang cerita yang menyampaikan kisah-kisah pelipur lara yang digerakkan oleh semangat 'pelupaan', semata-mata untuk hiburan. Sebaliknya, 'dagang' adalah tukang cerita yang menyampaikan ingatan dan peringatan, ada fungsi pendidikan dan penanaman nilai di dalamnya. Dalam perspektif ini, maka tukang cerita yang membawakan kisah yang mengandung ingatan dan peringatan adalah 'dagang'. Maka, terlepas dari proses produksi dan reproduksi naratifnya, M. C. Ricklefs yang menulis Sejarah Indonesia Modern 1200-2008(1981) dan Pak Taslim (Tukang Koba di Rokan Hulu) sama-sama menjalankan fungsi tukang cerita dengan versi dan caranya masing-masing. 


Baik produknya tertulis atau lisan, naratif yang dihasilkan adalah tafsir atas kepingan realitas yang dipilih dan dikumpulkan berdasarkan tujuannya. Maka, titik persinggungan antara sejarah dan historiografi (dalam makna formal) dengan karya seni pada umumnya adalah pada tafsir, kesan, pendapat, atau pandangan terhadap sesuatu (seperti ditakrifkan KBBI); dan, tokoh-tokoh yang menjalankan fungsi tukang cerita, kendaraan pembawa naratif ke hadapan khalayak pembaca dan penikmat. 


Tun Teja, Tun Irang, dan Tukang Cerita 


Bagian berikut ini adalah hasil pembacaan saya atas karya libretto (teks opera) Tun Teja karya Marhalim Zaini (2007) dan novel Selak Bidai Lepak Subang Tun Irangkarya Rida K Liamsi (2018). Tun Teja adalah tokoh pusat dalam Opera Tun Teja, berlatar Kerajaan Melaka di masa Sultan Mahmud Syah pada abad ke-15. Sedangkan Tun Irang adalah tokoh pusat dalam novel Selak Bidai Lepak Subang Tun Irang, yang berlatar sejarah di masa Kesultanan johor diperintah oleh Sultan Abdul jalil pada abad ke-18. Meskipun berjarak waktu tiga abad, keduanya berkisah tentang perempuan dan kekuasaan. 

Melalui kedua karya ini, si tukang cerita —penulis/ pengarang— menyuarakan yang tidak tertulis dalam sejarah. Mengedepankan ijeritan lirih' kaum yang dalam kekuasaan semasa tidak menjadi focal point menampilkan yang berada di luar panggung 'sejarah', menambahkan tafsir pada naratifnya, dan menampilkan keping realitas dan/ atau imajinasi atas realitas yang terjadi di masa lalu, menenunnya dalam konteks kekinian. 


Ada hal menarik di sini. Dalam bahasa Inggris sejarah disebut histoty,yang dalam perspektif gender seringkali dipelesetkan sebagailhiststoiy, naratif ciptaan slaki-lakilyang menjadi simbol kekuasaan, dominan, pusat, focal point. Apabila disandingkan dengan larik puisi Ediruslan Pe Amanriza -Sejarah kami adalah dongeng nenek menjelang tidur''- maka akan terbayang adanya oposisi ganda: sejarahvs. dongeng; laki-lakivs. perempuan. Hubungan yang dapat bermakna relasi perbedaan yang setara atau relasi kekuasaan antara yang dominan dan subordinat, tergantung pada perspektif yang dipilih. Secara kultural, yang kedua masih disepakati hingga kini. 


Kedua penulis/ pengarang menyandarkan karyanya sebagai karya seni dengan mengambil kepingan-kepingan sejarah atas pilihan-pilihan subjektif. Maknanya, karya-karya itu mestinya dibaca sebagai naratif karya seni, bukan sebagai naratif sejarah; betapa pun yang dikisahkannya terkait dengan kejadian, peristiwa, dan tokoh-tokoh yang diyakini ada, nyata, dan benar-benar terjadi di masa lalu. 
Dalam menyajikan naratifnya, penulis/ pengarang berperan aktif tnengisi ruang kosong di antara kata, baris, dan alinea yang ada dalam sejarah dengan tafsir. Dalam Opera Tun Teja, jalinan konflik pribadi dan kepentingan tokoh-tokohnya didedahkan; tafsir atas alasan-alasan para tokoh bertindak di dalam naratif sejarah. Bagaimana hubungan-hubungan Tun Teja-Hang Tuah, Tun Teja-Hang Jebat, dan Tun Teja-Sultan Mahmud mempengaruhi peristiwa yang tertuang dalam naratif sejarah. 


Penulis/ pengarang juga memasukkan rasa, emosi, kesan, pendapat, pandangan, dan harapannya. Dalam Opera Tun Teja, Marhalim mengisi rasa dan emosi tokoh-tokoh sejarah, pergulatan batin masing-masing tokoh berhadapan dengan nilai-nilai (adat) yang berlaku: mempertembungkan setiavs. derhaka, kekuasaan (raja)vs. rakyat kepatuhanvs. perlawanan, sehingga membuka ruang tafsir dalam pembacaan yang dilakukan oleh khalayaknya. Dalam Selak Bidai Lepak Subang Tun Irang Rida K Liamsi menuangkan tafsir atas situasi yang dialami Tun Irang, mengundang empati dan simpati khalayaknya. Dan, pada saat yang sama menggiring khalayak pada pesan yang dititipkannya: bahwa Tun Irang bukanlah sosok pasif yang menjalani perannya sebagai perempuan 'anak rajas.'pengikat' aliansi kekuasaan Melayu-Bugis untuk menghadapi Siak. Sejarah memberikan gambaran bahwa perempuan anak raja adalah aset yang sangat penting dalam terjalinnya aliansi antar kuasa. Salah satu kisah legendaris tema ini terjadi satu abad sesudahnya, yaitu pernikahan antara Raja Hamidah (Engku Puteri) dengan Sultan Mahmud III yang mengeratkan kembali aliansi Melayu-Bugis di Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. 

Penulis/ pengarang pun menciptakan ingatan baru terhadap episode sejarah. Tafsir yang diberikan oleh keduanya merangsang tafsir pembaca dan resepsi khalayak, yang berasal dari 'kebaruan' ketika disandingkan dengan naratif sejarah. Resepsi ini beragam; ada yang menerima, ada yang menolak. Kedua-duanya melibatkan proses berpikir kritis untuk dapat membangun argumen-argumennya. Dengan itu pula mereka menitipkan pesan-pesan baru dalam konteks kekinian. Baik Tun Teja maupun Tun Irang adalah cerminan dari perlawanan sepanjang peradaban. Situasi dominasi dan subordinasi selalu berulang, sebagaimana sejarah berulang. Tidak sesederhana yang ditampilkan, bahwa ini adalah tentang perlawanan perempuan terhadap laki-laki semata-mata; melainkan juga cerminan dari perlawanan kaum tertindas terhadap kekuasaan serta upaya-upaya yang dilakukan dalam menanggapinya. Tun Teja dan Tun Irang mengambil langkah untuk berafiliasi dengan kekuatan tandingan (Tun Teja pada Hang Jebat, Tun Irang pada Daeng Celak); Hang Tuah memilih kesetiaan -right or wrong my counhy (kingy hingga akhir; Hang Jebat memilih mati dalam perlawanan yang tak mungkin dimenangkan sejak awal. 


Tafsir-tafsir seperti itu mestinya mertarik mirtat generasi muda pada sejarah. Sejarah seringkali menjadi subjek yang kurang diminati karena banyak hal. Salah satunya adalah karena rendahnya minat baca. Hasil survei UNESCO 2011 menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001%; artinya, hanya satu dari 1.000 orang yang mau membaca (m.republika.com, 2016). Meminati sejarah menuntut ketekunan untuk membaca teks. Karya seni menjadi media yang dapat memperkenalkan sejarah dan menarik minat awal. Baik Marhalim Zaini maupun Rida K Liamsi mengawali proses kreatifnya antara lain karena dorongan untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda. Dalam hal ini keduanya dikatakan berhasil jika khalayak pembaca dan penikmatnya menanggapinya sebagai dermaga menuju pemahaman sejarah yang lebih luas dan mendalam, bukan menganggap kedua karya sebagai rujukan sejarah. 


Tak pelak lagi, melalui karya-karya itu, mereka mengajak kita berpikir kritis dan merangsang hasrat untuk berkaryapula. Mereka memilih sejarah sebagai inspirasi karena melihat masih luasnya ruang untuk melakukan tafsir, mengeksplorasi berbagai sumber untuk memperkayanya, dan menjadikannya sebagai karya yang menarik khalayak pembaca dan penikmat. Menyajikan tafsir baru menjadi tantangan dalam proses kreatif tersebut. Semakin tafsir itu tidak terduga, akan semakin menarik untuk ditanggapi dan dikritisi oleh khalayak pembaca dan penikmatnya. 

Maka, para penulis/ pengarang sebagai 'tukang cerita' dan 'dagang' (dengan media teater maupun novel) tidak hanya mempersembahkan dirinya sebagai pengantar kisah —mendekatkan sejarah kepada khalayak melalui kisah-kisah yang dikarangnya— tetapi juga pesan dan pengetahuan, 'kandil akal di pelantar budi'.

Pembacaan dan Resepsi

Naratif sejarah dianggap baku, dan karenanya kaku dan mungkin saja beku. Namun ia adalah naratif yang disepakati bersama dan menjadi rujukan penting dalam eksistensi kebudayaan dan peradaban. Memasukkan naratif baru dengan tafsir yang berbeda tidak selalu mudah untuk diterima. Tokoh sejarah —yang dalam perjalanan waktu— berkembang menjadi tokoh mitos, teladan, dan tempat berpaling dan menengadah. Keberadaannya di dalam naratif telah dilucuti kemanusiaannya. Hasrat, kehendak, dan emosi pribadi disingkirkan ke ceruk-ceruk tersembunyi. Akibatnya, banyak karya seni yang berlatar sejarah dikritisi, ditolak, bahkan dihujat karena 'menggoyang' imajinasi yang sudah mapan. Novel berlatar sejarah Gone with the Windmisalnya, ketika pertama kali diterbitkan pada tahun 1936 ditentang keras karena kental dengan gambaran perbudakan. Kini, baik novel maupun film yang terlahir darinya menjadi novel dan film legendaris sepanjang masa. Tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer juga sempat menjadi novel terlarang di era Orde Baru.

 

Pembacaan dan resepsi karya seni yang berlatar sejarah bukanlah seperti membaca koran yang menyajikan teks sebagai informasi belaka. Tantangan terbesar penulis/ pengarang karya seni (termasuk sastra) ketika meluncurkan karya-karyanya di tengah khalayak adalah tingkat literasi. 'Membaca' karya seni melibatkan intelektualitas, kemampuan intertekstualitas —yang dipengaruhi oleh kekayaan rujukan dan bacaan— serta keterbukaan dalam menanggapi tafsir tanpa prasangka, kerelaan untuk berayun di antara dua tiang, etis dan estetis, akal dan rasa. Mengutip Tun Teja dalam libretto Marhalim Zaini: Bebaskan rakyat dari beban sejarah - Bebaskan negeri dari rasa bersalah - Bebaskan perempuan dari penjajah - Bebaskan hidup dari segala perintah. Bebaskan tafsir dari belenggu kisah!

Penutup 


Bagaimanapun, karya seni yang terinspirasi oleh sejarah dan mengeksplorasi peristiwa sejarah, bukanlah naratif sejarah. Kehadirannya di hadapan khalayak adalah sebagai dirinya, karya seni untuk dinikmati selayaknya menikmati karya seni. Kepingan sejarah di dalamnya adalah dermaga yang mengantarkan penulis/ pengarang menuju lautan luas tafsir yang diarunginya dengan kreativitas. Bahwa adanya unsur sejarah dapat lebih mendekatkan sejarah pada khalayak bukanlah tujuan utama naratifnya. Perspektif penulis/ pengarang dalam tafsirnya atas peristiwa atau tokoh sejarah merupakan upaya untuk mendekatkan peristiwa sejarah di masa lalu pada pengalaman khalayak hari ini. Pelibatan rasa dan akal pada eksplorasi tafsir yang dilakukan oleh penulis/ pengarang. 

 

Sumber : https://lamriau.id/