Penerima Anugerah Sagang Kencana 2010 : Amrun Salmon

Teras Melayu dari Ornamen dan Dekorasi

Budaya Rabu, 03 November 2010
Teras Melayu dari Ornamen dan Dekorasi

Meretas dunia berkesenian dari menggambar, perupa Riau, Encik Amrun Salmon kini tunak menggeluti batik motif Melayu Riau. Pasang surut animo masyarakat untuk meminati kain-kain batik bermotif Melayu Riau tak menyurutkan azam Amrun. Ia tetap setia merancang motif-motif baru dan menerjemahkannya dalam bentuk kain di sanggar miliknya, Sanggar Semat Tembaga di Jalan Kuantan VII Pekanbaru.

Menjelang usianya yang ke-62 tahun, pada Ahad, 17 Oktober besok, Amrun tetap antusias untuk membicarakan dunia seni rupa khususnya ornamen dan dekorasi. Menurut Amrun, kini, memang cukup banyak yang bertanya mengapa ia tak melukis lagi. Padahal, di mata anak jati Siak Sri Indrapura ini, dunia seni rupa tak hanya sebatas lukisan dan patung. Itu hanyalah scope seni murni, sebagai salah satu bagian dari seni rupa.

‘’Saya sekarang lebih fokus di seni yang bisa untuk dipakai oleh orang banyak. Dan di antaranya bisa berbentuk ornamen, dekorasi, batik dan lain-lain. Tentu dengan tetap mempertimbangkan komposisi sesuai pakem dunia seni rupa dan fungsinya ketika ia digunakan di masyarakat. Tapi lukisan saya tetap ada,’’ ujar ayah tiga putri ini.

Menurut suami Sudaryati ini, seni murni seperti lukisan dan patung umumnya hanya memberikan kepuasan pada seniman yang membuatnya. Sementara di seni pakai, kepuasan itu tak hanya bisa dirasakan sang seniman namun juga oleh khalayak ramai yang menggunakannya. ‘’Dunia seni rupa di Riau masih kelam. Masih banyak hal-hal yang belum kita kerjakan. Dan itu akan senantiasa terpikirkan oleh saya hingga akhir hayat,’’ tutur penerima Anugerah Seni Seniman Pemangku Negeri dari Dewan Kesenian Riau tahun 2003 ini.

Amrun adalah ‘teras’ Melayu dari dunia ornamen dan dekorasi. Batik yang selama ini lebih cenderung dipandang sebagai representasi Tanah Jawa dan sesuatu yang sebenarnya agak diragukan bisa tumbuh di Tanah Melayu, namun di tangan Amrun Salmon ternyata bisa tetap bernyawa. ‘’Mengapa batik tidak diteruskan? Anak-anak (para pengrajin, red) menjawab itu rumit. Orang Riau mungkin lebih suka dengan motif yang sederhana, gampang dibuat, selesai cepat dan hasil fantastis. Akhirnya saya coret-coret motif sederhana dan dimodifikasi sehingga gampang dibuat,’’ kenang Amrun.

Kegelisahan Amrun melihat bahwa selama ini orang Riau kalau ke mana-mana selalu hanya memakai baju Melayu ternyata mampu menyentak Amrun untuk akhirnya kini memilih berkiprah di bidang batik. ‘’Selain baju Melayu, paling-paling kita hanya memodifikasinya dengan memakai baju tenun Siak. Apa kalau orang Riau ikut pertemuan ke Jakarta, misalnya, mereka juga cuma bisa pakai baju Melayu sebagai ciri khas? Karena itu saya pikir batik bisa jadi alternatif pilihan. Apalagi saya sudah pernah membuat kemeja dengan motif tenun Siak yang tidak menggunakan benang emas agar tetap nyaman dipakai,’’ ujarnya.

‘’Batik hanya sebuah cara, bukan motif. Hanya teknik yang sangat memungkinkan untuk menampilkan motif-motif Riau pada sebuah kain. Agar sentuhan Melayunya terasa, saya ambil motif tekat dengan pola tabir. Motif tenun tidak begitu banyak diambil karena tidak semuanya bisa dibuat dalam bentuk batik. Tenun punya motif, cara membuat dan media tersendiri yang belum tentu cocok jika dipindahkan pada batik,’’ lanjutnya.

Padu padan dan pilihan-pilihan warna yang dibuat Amrun memang cenderung ngejreng dan tak biasa. Seperti menabrakkan ungu dengan coklat atau merah, hijau dan hitam. Tapi justru itu pulalah yang membuatnya unik, tak pasaran dan memiliki peminat tersendiri. ‘’Ada tak ada orang yang membeli, kami tetap berbuat. Tapi memang biasanya, untuk souvenir-souvenir, atau orang-orang dari luar, mereka suka pada buatan kami,’’ kata Amrun.

Salah satu kendala kurang terangnya sinar batik Riau menurut Amrun adalah  karena ilmu kita tentang batik yang memang masih kurang. Di sisi lain, pelatihan-pelatihan yang diberikan cenderung monoton sementara para peserta belum tentu suka dengan teknik yang diberikan. Akhirnya Amrun mencari cara mendidik yang lebih sesuai dengan budaya tempatan. Tak pelak, sanggarnya pun kerap dijadikan tempat magang oleh para remaja.

Sebab bagaimanapun, menurut Amrun, hasil karya orang di Riau tentu akan berbeda dengan buatan tangan orang di Jawa. ‘’Dalam seni rupa, selain keluasan berpikir perlu ada ciri khas sehingga karya itu memiliki kekuatan. Ciri daerah itu nampak dari goresan garis yang dibuat sebab di sinilah kejeniusan lokal akan muncul. Goresan kita pasti beda dengan buatan orang yang di Jawa. Kalau kemudian dibuat pola lantas diminta orang di Jawa yang menyalin dan mengerjakan, itu bukan mengembangkan namanya. Tolong dibedakan antara seniman dengan tukang,’’ tuturnya.

Kini, salah satu obsesi Amrun adalah membuat buku tentang batik motif  Melayu Riau. Draft buku itu kini sedang disusunnya. ‘’Saya terkesan dengan buku-buku terbitan luar negeri yang lebih banyak memuat gambar-gambar daripada narasi. Saya ingin buku saya nanti juga seperti itu. Sebab tak semua yang digambar bisa dijelaskan dengan kata-kata,’’ ungkapnya.