Eddy Ahmad RM, Seniman Terbaik Pilihan Anugerah Sagang 2010

Elegi Seni dan Mencari Misteri Tuhan

Budaya Rabu, 03 November 2010
 Elegi Seni dan Mencari Misteri Tuhan
Eddy Ahmad RM

Laporan FIRMAN AGUS, Pekanbaru  firmanagus@riaupos.com

Alam semesta beserta isinya dianugerahkan Tuhan kepada hamba-Nya, dalam realitanya, masih banyak memiliki misteri-misteri yang belum terpecahkan oleh manusia. Sampai hari ini tabir misteri itu menjadi petanda dan mendorong kita untuk mememcahkan. Melalui proses pencarian  dan juga pemahaman terhadap rahasia Tuhan, seniman pilihan Sagang Eddy Ahmad RM mengkolaborasikan elegi seni dan misteri Tuhan dalam kehidupan.

NUN jauh di sana, para seniman, budayawan dan sastarwan dunia mengungkap tabir rahasia Tuhan, melalui hasil karya-karya indah yang dihasilkannya mampu mengubah wajah dunia, sekaligus menjawab tuntutan zaman yang melahirkan revolusi di berbagai bidang. ‘’Apa yang tidak dilakukan para seniman dalam menghadapi perubahan zaman ini? Justru dari hasil karya seniman inilah perkembangan zaman bisa berubah,’’ kata penyair Riau Eddy RM.

Berkiblat dari hal itu menurut dia, seniman bukan menjadi pilihan itu melainkan adalah tuntutan hidup. Dengan seni hidup menjadi indah. Tidak ada kekayaan lain yang ternilai selain dari seni itu, karena ia berkaitan dengan hubungan dengan manusia dan  manusia, alam dan pemahaman terhadap rahasia Tuhan.

‘’Bukan lagi darah segar yang mengantarkan seseorang meraih misteri hidup, melainkan membaca dan menulislah. Hal itulah yang menjadi misteri Tuhan yang sudah terjawab sama manusia melalui Iqra’, yang diturunkan dalam bentuk wahyu, agar kita membaca dan  memahami,’’ sebut Ketua Dewan Kesenian Riau ini.
Menjadi seorang seniman lahir lewat karya, tidak ada julukan apalagi kriteria untuk menjadi seorang seniman. ‘’Seniman itu diukur dari hasil karyanya, seberapa banyak karya yang dihasilkannya, apakah karyanya itu memiliki inovasi dan manfaat bagi orang banyak,” tegas mantan anggota DPRD Riau.

Oleh karena itu, sebut dia, seperti yang diungkapkan Raja Ali Haji, barang siapa yang mengenal dirinya berarti mengenal Tuhan, dan Tuhan itu ada dibenak kita semua. Melalui seni ini banyak makna yang terkandung di dalamya, antara lain; kejujuran, ketulusan, keihlasan, kemerdekaan dan lainnya. Dan itu pula yang membedakan seni dengan profesi lainnya.

‘’Pencarian rahasia Tuhan ini lahir dalam proses realisasi sosial dalam kehidupan. Apa yang terjadi dalam kehidupan sekarang ini adalah kita semua korban politik dan ekonomi,’’ katanya.

Hasil karya yang dihasilkan oleh seorang seniman itu, melalui proses kreativitas, pantang menyerah dan juga usaha yang gigih. Jangan pernah beranggapan, jika karya seniman itu bisa diukur dengan materi, karena buah karya yang dihasilkan itu tidak ternilai harganya. Selain itu juga, seorang seniman tidak terpengaruh sedikitpun terhadap predikat atau pernghargaan yang diberikan kepadanya. Adapun tidak penghargaan yang diberikan pada  dirinya, dia tetap berkarya.

‘’Saat ini banyak sekali orang yang mengaku seniman, dan itu wajar-wajar saja karena tidak ada aturan baku yang melarangnya. Hanya saja yang perlu digarisbawahi dalam seni ini adalah proses kejujuran yang diutamakan. Apa jadinya jika seorang seniman itu tidak  jujur?’’ Tanya Eddy.

Dalam menempuh gelombang kehidupan seorang seniman, Eddy tidak tahu kapan memulainya. Dianya mengalir begitu saja seperti air. Begitu juga pencapaian penghargaan yang diraihnya, semua itu karena buah karnyanya yang dihasilkan, dan orang menilai hal itu. Jika tidak berkarya, siapa yang akan menilai, hanya pengakuan teori saja sementara hasil karya dan temuannya tidak ada. Dan ini sama sekali tidak relevan dengan  kehidupan seniman.

‘’Setiap karya yang dihasilkan oleh seorang seniman, harus memiliki unsur pembaruan dan peroses pembentukan jati diri, dan ini merupakan kosekuensi logis yang ada dalam diri seorang seniman,’’ ucapnya.

Sebagai penerima Anugerah Seniman pilihan Sagang, menurut Eddy dirinya tidak bangga, apalagi terbebani dengan penerimaan penghargaan itu. Menurutnya, hal itu biasa-biasa saja, karena yang seharusnya memberikan penghargaan itu adalah pemerintah karena sudah merupakan tugasnya. Namun dengan adanya Sagang ini merupakan sentilan bagi pemerintah yang kurang peduli terhadap para seniman, budayawan, dan juga sastarawan di Riau. Padahal sudah banyak yang mereka hasilkan untuk negeri ini, sementara hasil dan perhatiannya tidak sebanding yang  diterima.

‘’Maka dari itu anugerah ini harus menjadi pembeda dengan anugerah lainnya, terutama dalam melakukan penilaian yang dilakukan dengan objektif, yang mengedepankan unsur-unsur yang berhubungan dengan karya, tidak ada unsur politis di dalamnnya, sehingga dianya menjadi anugerah yang benar-benar menjadi panutan bagi penerimanya,’’ kata Eddy mengakhiri.(*3)