Oleh Moeslim Roesli

19 Tahun Riau Pos: Menjadi Tonggak Sejarah Pers Riau (2).

Bisnis Senin, 18 Januari 2010
19 Tahun Riau Pos: Menjadi Tonggak Sejarah Pers Riau (2).

Pembaca yang budiman, bersempena dengan HUT Riau Pos ke-19 kemarin kami menurunkan tulisan bersambung dari insan pers Riau yang juga wartawan senior H Moeslim Roesli yang sudah disunting redaksi, terutama untuk menyesuaikan dengan data terakhir perkembangan Riau Pos Group.


Ia ‘’memotret’’ sejak awal perjalanan harian ini dan lika-liku mereka yang berjasa membangun koran daerah yang tangguh.

Tujuh tahun setelah nekat berhenti dari Tempo (1983), Rida berusaha bangkit kembali. Dia ‘’dibangunkan’’ oleh Dahlan Iskan, koleganya sama-sama di Tempo dulu. Pada suatu malam di bulan Maret 1990, mereka bertemu di percetakan Jawa Pos, Karah Agung, Surabaya. Sebetulnya misi utama Rida ke Surabaya adalah untuk suatu wawancara khusus dengan Dahlan Iskan selaku Manajer Persebaya Surabaya, atas penugasan harian Suara Karya.

Para simpatisan fanatik Persebaya yang dikenal sebagai ‘’bonek’’ (bondo nekat), baru saja mengharu-biru di stasiun-stasiun kereta api sepanjang perjalanan Jakarta-Surabaya, gara-gara Persebaya kalah bertarung melawan Persib Bandung dalam suatu pertandingan sepakbola di Jakarta.

Tapi begitu Rida dan Dahlan bertemu, pembicaraan mereka langsung beralih dari sepakbola ke rencana penerbitan koran di Riau. Dahlan menantang Rida, apakah dia berani mengelola koran. Tantangan mengagetkan ini merupakan surprise bagi Rida. Obsesi dan kenekatan Rida yang seolah-olah padam dan terkubur beberapa tahun, mendadak tergugah dan langsung bersemi kembali bak bangun dari mimpi yang panjang. Bagai kilat menyambar, dengan spontan dia jawab: ‘’Berani.’’

Namun dia mengajukan syarat, asal dibekali seperangkat mesin cetak koran. Sejak dulu itulah yang selalu jadi alasan mengapa koran tidak bisa bertahan hidup di Riau. Mesin cetak hasil perjuangan PWI Riau tahun 1964 sudah dianggap besi tua dan tidak mampu lagi mencetak koran harian. Tanggapan Dahlan, itu soal kecil, karena dia mempunyai banyak stok mesin. Asal Rida dapat mencarikan mitra usaha yang mau bekerja sama. Kalau dapat, kontak dia lagi, ujar Dahlan.

Rida menyadari bahwa menerbitkan harian di Riau sangat berat. Tapi dia dimotivasi terus oleh Dahlan yang sudah membuktikan keberhasilannya dalam membangun Jawa Pos dari suatu koran kecil beroplah 3.500 di tahun 1983 menjadi sebuah surat kabar besar dan disegani dengan oplah di atas 300 ribu dalam tempo tujuh tahun.

Jawa Pos juga telah memiliki sebuah percetakan moderen dan sebuah gedung kantor yang megah bernama Graha Pena, menggantikan kantor di Kembang Jepun yang tua dan sempit. Menurut Dahlan Iskan, membuat koran itu gampang, yang susah justru menjual koran. ‘’Yang penting adalah manajemen yang baik untuk mengelola usaha tersebut,’’ katanya.

Tonggak Sejarah
Ringkas cerita, begitu pulang ke Pekanbaru Rida langsung menjajaki pihak pengelola mingguan Riau Pos, milik Pemda Riau melalui Kepala Biro Humas Asparaini Rasyad. Setelah mereka bernegosiasi dan berargumentasi, tercapai kesepahaman untuk menindaklanjuti tawaran tersebut. Kemudian Rida pun mengontak Dahlan kembali.

Dua bulan kemudian, pada suatu hari di bulan Juni 1990, mereka bertemu dalam suatu acara di Hotel Kartika Chandra, Jakarta. Rida memperkenalkan bos Jawa Pos Media Group dari Surabaya, Dahlan Iskan, kepada Asparaini.

Acara perkenalan itu juga dihadiri Markum Singodimejo, Kepala Kantor Wilayah Departemen Penerangan (Kakanwil Deppen) Provinsi Riau. Asparaini menanyakan tanggapan Dahlan Iskan tentang kemungkinan kerjasama dalam mengembangkan SKM Riau Pos.

Pada prinsipnya Dahlan menyetujui, dengan syarat Rida K Liamsi menjadi pemimpin redaksinya. Sebelumnya Markum juga pernah memberikan rekomendasi kepada SKM GeNTA untuk bekerja sama dengan Tempo yang juga satu grup dengan Jawa Pos, namun tak pernah ada tindak lanjutnya.

Hasil pertemuan itu langsung dilaporkan Asparaini kepada Gubernur Soeripto yang waktu itu sedang berada di Kantor Perwakilan Pemda Riau di Jakarta. Selaku Ketua Yayasan Riau Makmur, Soeripto menyambut gembira dan menyetujui kesepakatan awal tersebut dan memerintahkan agar segera didudukkan secara formal.

Asparaini meminta Dahlan untuk mengukuhkan kesepakatan itu dalam bentuk perjanjian. Untuk itu dia minta agar Dahlan atau Kuasa Hukum PT Jawa Pos datang ke Pekanbaru dalam waktu dua minggu untuk memproses kesepakatan itu secara yuridis.

Sementara menunggu kedatangan kuasa PT Jawa Pos itu, Gubernur Soeripto selaku Ketua Yayasan Riau Makmur, pada 16 Juli 1990 mengundang dan memimpin langsung Rapat Pleno Pengurus Yayasan di kediamannya, Jalan Sisingamangaraja 69 Pekanbaru, yang dihadiri 19 anggota.

Rapat menyetujui Yayasan Riau Makmur bekerjasama dengan Jawa Pos, dan menjadi pemegang saham pada Perseroan Terbatas (PT) Riau Pos Intermedia Pers, dan yang akan menjadi badan penerbit baru koran Riau Pos dan mengubah frekuensi terbit dari mingguan menjadi harian. Kemudian juga disetujui perubahan susunan pengasuh. H Zuhdi disepakati menjadi pemimpin umum, Rida K Liamsi sebagai pemimpin redaksi, dan Raznizal Syukur sebagai pemimpin perusahaan.

Kuasa PT Jawa Pos, Indra Slamet Santoso tiba di Pekanbaru 23 Juli 1990. Hari itu juga langsung diadakan perundingan dihadiri H Zuhdi, H Abd Kadir Mz dan Asparaini Rasyad dari Yayasan Riau Makmur, sedang PT Jawa Pos diwakili oleh Rida K Liamsi dan Indra Slamet Santoso. Rapat maraton yang melelahkan itu akhirnya menyetujui poin-poin penting. Mengenai perbandingan komposisi saham PT Riau Pos Intermedia Pers yang akan didirikan, disepakati mula-mula Yayasan Riau Makmur 65 persen dan PT Jawa Pos 35 persen.

Tapi dalam perjalanan selanjutnya (sesudah beroperasi), komposisi saham ini berangsur-angsur berubah. Pada tahun 1994 komposisi saham sudah menjadi: Riau Mamur 25 persen, Jawa Pos 55 persen, dan karyawan Riau Pos 20 persen, dan sekarang Yayasan Riau Makmur 25 persen, Jawa Pos 55 persen, Yayasan karyawan 14 persen dan Dorothea Samola (nyonya Eric Samola ) 6 persen.

Di bidang personalia pengelolaan Riau Pos disepakati pula, bahwa Jawa Pos memperoleh empat posisi, yakni komisaris utama, satu komisaris, direktur utama dan satu direktur. Sementara Yayasan Riau Makmur mendapat tiga posisi, yaitu dua komisasris dan satu direktur. Di samping itu jabatan pemimpin umum dan pemimpin perusahaan dipercayakan kepada yayasan sedang pemimpin redaksi dipegang oleh Jawa Pos. Perlengkapan mesin cetak dan biaya operasional merupakan tanggung jawab Jawa Pos.

Kesepakatan kerja sama itu ditandatangani dan dikukuhkan di depan Notaris Sjawal Sutan Diatas di kantornya, pada tengah malam 23 Juli 1990 itu juga. Ini merupakan tonggak sejarah baru bagi sebuah perjalanan pers di Bumi Lancang Kuning. Berpedoman kepada perjanjian kerjasama tersebut, maka disusunlah personalia pengurus PT Riau Pos selengkapnya, terdiri dari almarhum Eric Samola (Jawa Pos) sebagai komisaris utama, dengan komisaris-komisaris Trianto (Jawa Pos), H Abdul Kadir Mz (Yayasan) dan Asparaini Rasyad (Yayasan).

Direktur Utama: Dahlan Iskan (Jawa Pos), Direktur: Rida K Liamsi (Jawa Pos) dan Umar Umaiyah (Yayasan). Kemudian diajukanlah permohonan perubahan SIUPP ke Menteri Penerangan berkenaan dengan perubahan status badan hukum dari Yayasan ke PT, peningkatan frekuensi terbit dari mingguan ke harian, dan penetapan susunan pengasuh baru, yang terdiri dari Pemimpin Umum H Zuhdi, Pemimpin Redaksi Rida K Liamsi, dan Pemimpin Perusahaan Raznizal Syukur. Namun keputusan Menpen menetapkan lain. Zuhdi ditetapkan sebagai Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi.

(bersambung)