19 Tahun Riau Pos

Penggerak Terdepan

Bisnis Minggu, 17 Januari 2010
Penggerak Terdepan
FORMASI 19 Tahun Riau Pos

 
Zaman bukan sedang berubah
Tapi telah berubah
Dan Riau Pos Dengan segala pembacanya
Jadi simbol datangnya zaman baru
(Sajak Dahlan Iskan, Chairman Jawa Pos)


Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Pekanbaru helfizon@riaupos.com


SUATU siang menjelang sore di awal tahun 1991. Dua orang lelaki sedang terlihat mencari-cari sesuatu di kawasan besi bekas milik PT Caltex di dekat Sungai Siak. Tidak mudah memang. Hari makin menjelang sore namun yang dicari tak kunjung dapat. Sudah puas mengaduk-aduk tempat besi bekas yang ada di sekitar itu yang dicari belum juga diketemukan.


Sampai akhirnya Soegiono, seorang dari mereka menemukan yang dicari. Dan astaga, besi bekas itu terendam dalam air yang penuh kotoran manusia. “Wes To, kita angkat saja. Biar nanti, pulangnya kita mandi,” ujarnya kepada rekannya bernama Suryanto. Soegiono adalah teknisi yang dikirim Dahlan Iskan (Chairman Jawa Pos) memasang mesin cetak pertama Riau Pos waktu itu.

Bos Jawa Pos itu mengirim dua unit mesin cetak Haris V, eks Tempo, tetapi sebagian peralatan pendukungnya harus dicari di Pekanbaru. Itulah sebabnya Soegiono (kini sudah alm) bersama karyawan awal Riau Pos Suryanto harus mencari peralatan pendukung itu di kawasan besi bekas dekat tepi Sungai Siak tersebut. Besi itu perlu membuat steiger untuk menggerek kertas ke mesin.

Hari hampir magrib ketika besi bekas yang berat itu diangkat keluar dari kubangan itu. Mereka berdua tak punya pilihan lain terpaksa memikulnya. Setelah berjalan lebih dari 100 meter dengan beban berat dan mandi keringat akhirnya barulah mereka menemukan truk sewa untuk membawa besi itu ke gedung tempat mesin cetak akan dipasang.

Itulah kenangan awal episode perjuangan Riau Pos di awal harian ini berdiri. Lebih dua tahun Rida K Liamsi bersama kru pertama berjuang keras membangun koran ini. Soal gajian yang molor hingga muncul istilah gajian tanggal 45 atau 60 sudah tak dihiraukan lagi. ”Pokoknya kami harus membuktikan bahwa Riau Pos adalah surat kabar pertama yang terbit di Riau tiap hari dan mampu menembus batas waktu dan tidak mati lagi,” ujar Chairman Riau Pos, Rida K Liamsi.

Tekad, kerja keras, pantang menyerah dari semua kru pertama koran ini mulai membuahkan hasil. Riau Pos kemudian tumbuh dan terus tumbuh. Mulai dari oplah hanya 2.500 eksemplar ketika terbit pertama 17 Januari 1991, terus merangkak menjadi 7.500 eksemplar tahun kedua, 12.500 eksemplar tahun ketiga dan 18.000 eksemplar pada tahun ke empat. Tahun ke lima sudah melewati 20.000 eksemplar. Memasuki tahun ke enam Riau Pos sudah menembus 25.000 eksemplar dan tahun ketujuh (1998) sempat menembus oplah 50.000 eksemplar sampai lebih dari 10 hari yaitu pada hari lengsernya Presiden Soeharto Mei 1998.

Ketika Riau Pos tetap berhasil eksis hingga tahun ke-10 maka Riau Pos sudah menembus mitos yang dulunya mengatakan bahwa di Riau tidak pernah ada koran yang bisa berumur panjang. Kini Riau Pos tidak hanya sebuah koran namun sudah berkembang menjadi kekuatan penggerak perubahan di Riau. Mulai dari bidang ekonomi, politik, pembangunan, kebudayaan hingga penggalang bantuan kemanusiaan bagi korban bencana alam mulai dari tragedi tsunami Aceh hingga gempa Sumbar.

Misi Mencerdaskan

Meski bermula dari sebuah koran kecil misi harian ini tetap konsisten untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa sebagaimana diamanatkan oleh cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dengan motto ”Bangun Negeri Bijakkan Bangsa” Riau Pos pun terus berkembang. Sejak 1998 harian ini terus berkembang menjadi sebuah group dengan 11 surat kabar dan empat percetakan dengan total oplah keseluruhan mencapai 150.000 eksemplar. Fakta ini menjadikan Riau Pos Group sebagai perusahaan media terbesar di Sumatera bagian Utara.

”Saya ingin Riau Pos tetap menjadi kekuatan penggerak kemajuan terdepan di Riau. Menjadi kekuatan penggerak semangat, inspirasi, intelektual dan pelopor bagi berbagai kegiatan positif di negeri ini,” ujar Rida K Liamsi. Oleh karena itulah Riau Pos Group tidak hanya terkonsentrasi pada media cetak saja. Sejalan dengan visi bisnis terkini Riau Pos juga terus berkembang menjadi perusahaan bisnis multimedia terkemuka di Sumatera. RPG juga telah men-setup bisnis televisi, internet service provider, media online dan lainnya.

Setelah memiliki tiga televisi yakni Riau Televisi, Batam Televisi dan Padang Televisi, Riau Pos group ke depan juga ekspansi untuk mendirikan Karimun Tv, Indrasakti Tv di Tanjungpinang Tv, Tv Lingga dan Tv Natuna. Di sebelah Barat juga didirikan Bukittinggi Tv, Pariaman Tv dan Solok Tv. Sedangkan di bagian utara juga sedang dirancang pembangunan Medan Tv.

Chairman Riau Pos Group itu lebih lanjut mengatakan bahwa fokus Riau Pos ke depan ada dua poin penting. Pertama, komitmen untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan lewat rubrikasi save the eart dengan target pengurangan kadar emisi karbon. ”Bumi kita dalam bahaya karena proses pemanasan global (global warming) akibat emisi karbon terus terjadi,” ujarnya. Bila kondisi ini tidak dibendung dengan berbagai upaya maka tingkat kehancuran bumi akan menjadi lebih cepat dan bencana besar mengancam masa depan bumi.

Menurutnya kesadaran pentingnya menyelamatkan bumi dari kerusakan berawal dari kesadaran berbagai lapisan akan pentingnya penghijauan. Untuk hal ini Riau Pos tidak sekadar bersuara di media namun juga melakukan aksi nyata lewat Go Green di PLTA Kotopanjang Kabupaten Kampar. ”Kita ingin generasi muda semua menyadari tanpa lingkungan yang sehat semua pencapaian manusia hari ini akan musnah,” ujarnya lagi. Menurutnya upaya penyelamatan bumi ini di Riau Pos jadi agenda prioritas dan merupakan kontribusi bagi dunia masa datang yang lebih baik. ”Ini sebentuk jihad kita lah bagi kebaikan generasi mendatang,” ujarnya lagi.

Poin kedua yang jadi fokus adalah perang melawan kemiskinan energi. ”Kita prihatin ya Riau sebagai penghasil energi nasional, hari ini baru 42 persen yang menikmati energi listrik. 58 persen lainnya masih belum dapat. Beda dengan di Pulau Jawa yang sudah 100 persen menikmati listrik,” ujarnya lagi.

Menurutnya kemiskinan energi ini harus dientaskan agar geliat pembangunan di Riau tidak terkendala di masa yang akan datang. ”Inti perjuangan kita adalah bagaimana tersedia energi yang cukup di daerah ini untuk tumbuh dan berkembang,” ujarnya lagi. Saat ditanyakan apa bentuknya, Rida mengatakan liputan Riau Pos harus memberi tempat bagi pentingnya penambahan pasokan energi lewat pembangunan pembangkit listrik yang baru, sadar energi dengan prilaku hemat energi dan mendorong bagi munculnya teknologi yang memungkinkan berkembangnya energi terbarukan.

Misalnya, lanjutnya, energi dari biofuel, potensi cangkang sawit dan sebagainya. Begitu juga selain menyajikan liputan soal padamnya lampu ke depan media ini juga harus memberitakan berbagai kemajuan yang dicapai dalam hal penambahan pasokan energi. Hal ini penting, lanjutnya, karena untuk mencapai kemajuan dalam bisnis apapun energi adalah ’napas’-nya. Menurutnya bila energi yang merupakan daya gerak bagi semua gerak pembangunan tidak mendapat perhatian maka ekonomi akan stagnan.

Rida juga menegaskan bahwa jajaran awak redaksi terus ditempa untuk mampu berkembang lebih baik dan profesional. Bagi perusahaan jasa informasi, lanjutnya, seperti media pers ini, prestasi adalah kehormatan. Prestasi adalah tanda pengakuan akan kemampuan, kredibilitas dan kualitas sumber daya Riau Pos. Kualitas itu, lanjutnya, tidak semata karena faktor latar belakang pendidikan semata, tetapi lebih karena ketekunan, kegigihan dan kesediaan untuk terus-menerus belajar.

Sejumlah prestasi jurnalistik juga berhasil diukir awak redaksi Riau Pos sepanjang 2009. Semua prestasi itu telah menambah deretan prestasi yang telah diraih awak redaksi ini di tahun-tahun sebelumnya. Catatan panjang prestasi jurnalistik ini, lanjut Rida, merupakan motivasi untuk terus menjadikan Riau Pos dapat memberikan yang terbaik bagi para pembacanya.


Jaringan Toko Buku

Lebih lanjut Chairman RPG tersebut menegaskan bahwa sesuai dengan misi mencerdaskan bangsa maka Jawa Pos dan RPG bekerja sama mengembangkan jaringan toko buku. Saat ini selain di Pekanbaru toko buku 171 juga telah berdiri di Dumai. Menurut Rida, jaringan toko buku ini terinsiprasi dari gerakan hibah sejuta buku dan upaya menyediakan buku sekolah dengan harga murah dan terjangkau bagi masyarakat.

”Niat kami bukan profit semata karena harga buku itu hanya 1/3 dari harga buku sejenis di tempat lain,” ujarnya. Menurutnya lagi hal ini untuk membantu masyarakat mendapatkan buku pendidikan dengan harga terjangkau. ”Sebagian besar masyarakat kita masih berada di bawah garis kemiskinan dan perlu solusi konkrit untuk mereka,” ujarnya lagi.

Rida juga menegaskan bahwa targetnya dalam lima tahun ke depan di Riau sudah berdiri 50 toko buku di setiap ibu kota kabupaten Riau. ”Jadi harus ada di 11 kabupaten/kota yang ada di Riau,” ujarnya lagi. Sedangkan lebihnya akan dikembangkan di wilayah Riau lainnya seperti Batam, Lingga, Natuna, Karimun dan Tanjungpinang. Selain itu juga akan terus dikembangkan di Padang dan Sumatera Utara. Menurut Rida ke depan jaringan toko buku ini diharapkan dapat menjadi solusi konkrit bagi masyarakat untuk mendapatkan buku-buku pendidikan yang berkualitas dengan harga murah. ”Bagi kami kemajuan bangsa adalah kemajuan kami juga,” ujarnya lagi.(fiz)


Related Post