*Tahun Buku 2009 Naik 45 Persen

RIC Bukukan Pendapatan Rp33,976 Miliar

Bisnis Selasa, 09 Maret 2010
RIC Bukukan Pendapatan Rp33,976 Miliar
KETERANGAN FOTO: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) RIC dihadiri perwakilan pemegang saham 90 persen Pemprov Riau dan 10 persen Pemkab Rokan Hilir, serta jajaran komisaris dan direksi anak perusahaan RIC (istimewa)

PEKANBARU (RP)-Baru enam tahun beroperasi, PT Pengembangan Investasi Riau (PIR) atau Riau Investment Corp (RIC) terus menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Ini dibuktikan dengan pendapatan di tahun 2009 yang mencapai Rp33,976 miliar lebih atau mengalami kenaikan sebesar 45 persen dan laba sebelum pajak Rp 2,679 miliar lebih atau naik 43 persen dibanding tahun lalu.

Gambaran ini dipaparkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) RIC tahun buku 2009 yang digelar Senin (8/3) di Kantor RIC, Gedung Surya Dumai Lantai 9, Jalan Jenderal Sudirman No. 395, Pekanbaru. RUPS ini dihadiri oleh pemegang saham 90 persen Pemprov Riau dan 10 persen Pemkab Rokan Hilir.

‘’Sebagai sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pertumbuhan RIC sangat baik, bahkan RIC sudah berkembang sebagai sebuah grup, dimana RIC berperan sebagai holding company. Karena sejak tahun 2008, laporan perkembangan perusahaan dilakukan dalam bentuk laporan konsolidasi,’’ papar Direktur RIC, Rida K Liamsi.

Anak-anak perusahaan yang dikonsolidasikan saat ini ada empat anak perusahaan utama, yaitu PT Riau Power dengan kepemilikan saham 51 persen, PT Riau Multi Trade dengan kepemilikan saham 100 persen, PT Riau Consultant Global dengan kepemilikan saham 100 persen dan PT Tanara Gagas Kreasi dengan kepemilikan saham 51 persen.

Sementara PT Asia Rim Reliance dengan kepemilikan saham 82,5 persen, belum dikonsolidasikan karena belum beroperasi penuh setelah diakuisisi. Karena itu sama seperti lima anak perusahaan lainnya, yaitu PT Sarana Penjaminan Kredit Riau dengan kepemilikan saham 4,25 persen, PT Permodalan Ekonomi Rakyat dengan kepemilikan saham 0,07 persen, PT Sumatera Promotion Centre dengan kepemilikan saham 11 persen, PT Sumatera Shipping Line dengan kepemilikan saham 11 persen dan PT BPR Duta Perdana dengan kepemilikan saham 15 persen, masih dicatat sebagai penyertaan saham.

‘’Total penyertaan RIC pada anak-anak perusahaan mencapai Rp 38,551 miliar lebih. Total aset RIC tercatat Rp 74,217 miliar atau naik 4,23 persen dari tahun lalu Rp 71,204 miliar, dan total ekuitasnya Rp 52,719 miliar atau naik 3,29 persen dibanding tahun lalu Rp 51,040 miliar. Tapi secara grup, total aset RIC Grup mencapai Rp 138,983 miliar lebih, dengan total ekuitas Rp 111,664 miliar lebih,’’ ulas Rida lebih lanjut.

Rida menjelaskan secara umum, setelah beroperasi selama enam tahun, total pendapatan RIC holding tercatat Rp 80 miliar lebih, atau rata-rata 13,3 miliar per tahun yang sebagian besar berasal dari sektor kelistrikan. Sementara laba sebelum pajak tiga tahun terakhir ini tercatat Rp 10,495 miliar dan sejak tahun 2008 RIC sudah break event point (BEP). Kinerja usaha yang dicapai ini makin memperkuat posisi RIC sebagai holding company.

‘’Kondisi keuangan RIC juga cukup sehat. Dengan total utang atau kewajiban hanya Rp 21,496 miliar lebih atau DER baru 40,77 persen masih sangat aman untuk pengembangan investasi melalui utang ke pihak ketiga. Dengan rasio usaha dan kondisi perusahaan yang demikian ini, tahun-tahun mendatang RIC grup akan semakin berkembang, dan dapat merancang investasi yang lebih besar khususnya di bidang kelistrikan, serta pertambangan batu bara, dan konstruksi,’’ ucapnya.

Terhadap kontribusi pada pendapatan daerah, pada tahun 2008 RIC sudah menyetor deviden komitmennya sebesar Rp 0,5 miliar kepada Pemprov Riau dan Rp 0,2 miliar kepada Pemkab Rohil atau secara total Rp 0,75 miliar. Tahun 2009 RIC menyetorkan deviden komitmen sebesar Rp 0,75 miliar kepada Pemprov Riau dan Rp 0,25 miliar kepada Pemkab Rohil atau total Rp 1 miliar. Dan pada tahun ini sesuai dengan keputusan RUPS RIC akan menyetorkan Rp 1 miliar kepada Pemprov Riau dan Rp 0,25 miliar kepada Pemkab Rohil atau total Rp 1,25 miliar.

‘’Dalam perkembangannya kini, RIC menjadi salah satu perusahaan yang makin mendapat kepercayaan para mitra, dan makin banyak mendapatkan tawaran kerja sama di berbagai bidang investasi baik dari dalam negeri (investor nasional), maupun dari luar negeri, khususnya Malaysia,’’ kata Rida.

Tahun 2010, RIC memasuki tahun kedua periode pengembangan investasinya. Karena itu prioritas utama rencana kerjanya, selain meneruskan yang sudah terealisasi dan berjalan tahun 2009, seperti listrik, perdagangan beras, batu bara, media luar ruang dan sekuritas, juga akan melakukan investasi baru di bidang pertambangan, industri hilir sawit dan pariwisata.

RIC juga sedang mempersiapkan diri untuk menjadi perusahaan go public paling lambat pada tahun 2015, sehingga segera menjadi perusahaan terbuka. Sebelum itu, pada 2010/2011, RIC akan menjadi perusahaan public non listed dan merencanakan menerbitkan Medium Term Notes (MTN). Dana ini untuk membiayai berbagai investasinya khususnya bidang kelistrikan, gas, air bersih, industri hilir kelapa sawit, dan lain-lain.

‘’Salah satu proyek yang direncanakan akan didanai dari hasil MTN/ obligasi ini adalah pembangunan gedung pusat Riau Investment dan Expo Center. Dimana gedung ini selain akan menjadi kantor pusat RIC grup, juga dapat disewa BUMD lainnya. Serta menjadi tempat berlangsungnya pameran dan ekspo daerah Riau untuk berbagai event dan komoditas. Proyek ini menjadi bagian dari skenario investasi RIC 2010-2015,’’ imbuhnya.

Rida menambahkan RIC ke depan juga akan terus melakukan business forum secara berkala dan akan berperan sebagai leader bagi BUMD-BUMD baik provinsi maupun kabupaten dalam membangun sinergi bisnis dan keuangan, di bawah koordinasi Biro Ekonomi Provinsi Riau. Strategi mensinergikan kekuatan bisnis dan keuangan BUMD-BUMD se-Riau ini adalah juga bagian dari strategi menuju Riaunisasi atau Riau Incorporation.(mar)