PT Riau Power Menjadi Solusi Elektrifikasi Riau

Menuju Kemandirian Listrik Bumi Lancang Kuning

Bisnis Selasa, 07 Agustus 2012
Menuju Kemandirian Listrik Bumi Lancang Kuning
Salah satu bagian instalasi pembangkit combine cycle 1x10 MW milik PT Riau Power di Teluk Lembu, Pekanbaru yang akan resmi beroperasi, Rabu (8/8/2012). (Foto: TEGUH PRIHATNA/RIAU POS)

Laporan MARRIO KISAZ dan SYAHRUL MUKLIS Pekanbaru

PT Riau Power akan meresmikan beroperasinya pembangkit listrik Combine Cycle 1x10 MW atas PLTG 1x20 MW di Teluk Lembu, Pekanbaru, Rabu (8/8) lusa.

Proyek ini merupakan pemanfaatan inovasi teknologi dari pembangkit yang sudah dioperasikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi Riau ini sejak 2007 lalu.

PT Riau Power adalah salah satu anak perusahaan Riau Investment Corporation (RIC) atau PT PIR (Pengembangan Investasi Riau) yang bergerak di bidang kelistrikan dengan visi menjadi andalan Riau menuju kemandirian di bidang listik.

Komitmen ini menjadi salah satu langkah konkrit dalam mendukung upaya Pemprov Riau mengatasi masalah kelistrikan di daerah.

Dedikasi PT Riau Power dalam pengembangan pembangkit listrik mendapat apresiasi positif dari Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP. Menurutnya, permasalahan elektrifikasi memang menjadi salah satu sektor yang harus mendapatkan perhatian ekstra.

Pasalnya, imbas dari masih rendahnya tingkat elektrifikasi tersebut dapat mempengaruhi komitmen pemerintah dalam menggesa pertumbuhan dan perkembangan daerah secara merata dan menyeluruh.

‘’Ya Direktur Utama PT PIR sudah melapor ke saya bahwa tanggal 8 Agutus mendatang akan di-launching beberapa proyek bernilai ratusan miliar. Saya memberikan apresiasi dan penghargaan atas kegiatan yang dilakukan karena mendukung program-program pembangunan pemerintah,’’ tutur Gubri kepada Riau Pos, Sabtu (4/8) malam di Kabupaten Rokan Hulu.

Untuk diketahui, proyek pertama PT Riau Power adalah Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) 1x20 MW Teluk Lembu. Proyek ini merevitalisasi 1 unit gas turbin eks PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) —sekarang PT Chevron Pacific Indonesia— yang dihibahkan kepada Pemprov Riau.

Tanggal 4 Juli 2007, proyek tersebut diresmikan oleh Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP, sekaligus Commercial Operating Date (COD). Investasi proyek 1x20 MW Teluk Lembu senilai Rp30 miliar.

Eksistensi PLTG Teluk Lembu menandai babak baru, dimana perusahaan daerah Riau dapat mandiri dengan mengoperasikan pembangkit sendiri bekerja sama dengan PLN.

Upaya ini telah memberikan kontribusi yang besar. Ini terlihat dari pengembangan pembangkit yang telah dapat menerangi sekitar 40.000 rumah penduduk berdaya 450 watt dan hingga saat ini operasional proyek telah berjalan selama 5 tahun.

Menurut Gubri, komitmen Riau Power sebagai salah satu anak perusahaan RIC merupakan langkah inovatif dalam mengatasi masalah kelistrikan daerah.

‘’Saya kira program-program yang dilaksanakan sangat penting untuk mempercepat program pembangunan dan mendukung kesejahteraan masyarakat di Riau,’’ papar Gubri.

Untuk standarisasi elektrifikasi di Riau, menurut Gubri memerlukan perhatian yang lebih. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Riau memiliki korelasi positif dengan tingkat elektrifikasi.

Semakin tinggi aktifitas ekonomi, maka keperluan pasokan listrik ikut meningkat. Karena itu, pengembangan yang dilakukan PT Riau Power menjadi salah satu upaya menjawab masalah kelistrikan, guna menyongsong Riau sebagai salah satu kutub pertumbuhan ekonomi di wilayah barat Indonesia.

Semangat pengembangan elektrifikasi itu bersinergi dengan target capaian elektrifikasi pada 2015, yakni 70 persen. Upaya ini bukanlah hal yang mustahil.

Pasalnya, program-program pengembangan elekrifikasi, baik dari instansi pemerintah hingga swasta, terus berjalan beriringan dengan laju pertumbuhan ekonomi daerah.

Untuk mencapai target elektrifikasi 70 persen itu, Pemerintah Provinsi Riau melakukan kerja sama bersama swasta dan pemerintah kabupaten/kota. Diharapkan, pengembangan yang diterapkan Riau Power ini dapat terselesaikan secara menyeluruh sampai ke pelosok-pelosok daerah.

Sementara Direktur Utama PT Riau Power Rida K Liamsi mengatakan, investasi perusahan yang dipimpinnya untuk PLTG 1x20 MW senilai Rp30 miliar di Teluk Lembu masih berlajan hingga saat ini.

Sementara dalam pengembangan combine cycle 1x10 MW ini, Riau Power menginvestasikan Rp155 miliar.

‘’Riau Power berusaha mewujudkan kemandirian Riau dalam bidang kelistrikan. Total investasi Riau Power di Gardu Induk Teluk Lembu senilai Rp185 miliar,’’ ujar Rida.

Menurut Rida, investasi tersebut dilakukan karena Riau sebagai daerah yang kaya sumber daya alam seharusnya tidak lagi tergantung pada jaringan interkoneksi.

‘’Selama ini, Riau tergantung pada interkoneksi dari Utara dan Selatan. Jika terjadi sesuatu dengan daerah tersebut, maka otomatis Riau juga akan ikut terganggu. Nah, di sini kami berusaha menjadikan Riau mandiri dari kondisi kelistrikan sehingga bisa lebih terjaga dan tidak bergantung dari daerah lain,’’ papar Rida.

Ditanya seberapa kekuatan Riau Power saat ini? Rida mengatakan, jika kondisinya masing-masing rumah penduduk memiliki daya Rp450 watt, maka PT Riau Power mampu mengalirkan listrik ke 60 ribu rumah setiap harinya.

Kondisi ini akan terus meningkat dengan pembangunan pembangkit listrik PLTU di Siak 2x3,5 MW dengan nilai investasi Rp126 miliar. Selanjutnya, sedang disiapkan pembangunan PLTG 2x30 MW dan akan beroperasi di tahun 2014 nanti.

‘’Saat ini masih pembebasan lahan dan akan disegerakan pembangunannya. Mudah-mudahan bisa dilaksanakan secepatnya, karena kami berusaha mempercepat kemandirian Riau di bidang kelistrikan,’’ imbuh Chairman Riau Pos Group ini.

Di tempat berbeda, Manajer Sumber Daya Manusia dan Humas PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (WRKR) Suhatman menambahkan, PT Riau Power sangat membantu PLN, terutama dari sumber daya gas yang digunakan oleh Riau Power.

‘’Kalau diasumsikan setiap pelanggan menggunakan daya 1.300 watt di rumahnya, maka 10 MW itu bisa mengalirkan listrik pada 10 ribu rumah pelanggan PLN. Karena combine cycle itu menggunakan gas, maka biayanya lebih murah,’’ ujar Suhatman.

Sedangkan Kepala Biro Ekonomi Setdaprov Riau Irhas Irfan menilai, eksistensi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam mendukung program pembangunan memperlihatkan hasil positif.

Komitmen itu tercermin dari keberhasilan BUMD dalam menggali core bisnis, seperti PT RIC yang melakukan pengembangan PT Riau Power sebagai salah satu anak perusahaan yang berhasil dalam pengembangan daya listrik.

‘’RIC termasuk BUMD yang berhasil dalam menggembangkan core bisnisnya. Diharapkan menjadi pemacu dan motivasi bagi BUMD yang lainnya. Upaya pengembangan nilai-nilai ekonomi itu hendaknya dapat ditingkatkan dan berkontribusi di level lebih tinggi, bahkan ke tingkat nasional,’’ imbuh Suhatman.

Proyek combine cycle 1x10 MW ini merupakan terobosan PT Riau Power menggali potensi elektrifikasi dengan menerapkan beberapa langkah inovasi seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Proyek yang dimulai pada Januari 2010 ini paling efektif dilaksanakan mengingat tidak diperlukan bahan bakar gas baru dalam operasionalnya, karena combine cycle beroperasi dengan memanfaatkan gas buang dari PLTG 1x20 MW.

Pembiayaan proyek ini didukung penuh oleh Bank Syariah Mandiri (BSM).

Sementara dalam pekerjaan EPC (Engineering, Procurement and Construction), PT Riau Power bekerja sama dengan PT Zug Industry Indonesia yang merupakan salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang konstruksi dan pembangkit listrik.

Dalam proyek ini, seluruh komponen HRSG (Heat Recovery Steam Generator) maupun HRSTG (Heat Recovery Steam Turbine Generator) serta komponen pendukung lainnya yang digunakan merupakan unit baru.

Sedangkan untuk mendistribusikan produksi listrik yang dihasilkan pembangkit ini, PT Riau Power telah menandatangani kontrak jual-beli energi listrik dengan PT PLN (Persero) Pembangkit Sumatera Bagian Utara.

Proyek ini akan menambah kapasitas PLTG Teluk Lembu menjadi 30 MW dan akan dapat menerangi 20.000 rumah penduduk. Sehingga total PLTG Teluk Lembu dapat menerangi 60.000 rumah penduduk.

Saat ini, proyek pembangkit Combine Cycle 1x10 MW telah selesai 100 persen dan bisa beroperasi penuh pada September 2012.(ila)


Related Post