Oleh : Rida K Liamsi

Gedung Aisyah Sulaiman Sebagai Pusat Kesenian Tanjungpinang dan Kepri

Aktifitas Rabu, 29 Desember 2021
Gedung Aisyah Sulaiman Sebagai Pusat Kesenian Tanjungpinang dan Kepri
Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman

Saya tak tahu kapan Gedung Aisyah Sulaiman didirikan. Tapi saya ingat , ketika saya kelas  dua SGB ( Sekolah Guru B ) di Tanjungpinang, sekitar tahun 1959, saya pernah  ikut main drama di gedung itu, drama yang  dipentaskan siswa SGB. Judul dramanya  : Menyesal. Sutradaranya pak Yose Rizal,  guru bahasa Indonesia . Penata pentasnya , pak Mohd Effendi Kassim, guru senirupa. Saya ingat  lukisan  yang ada di layar pentas, adalah lukisan pulau Penyengat yang dilihat dari Gedung Daerah Tanjungpinang yang dilukis pak Effendi.

Saya dapat peran di  anak  babakan, yaitu babak pembuka. Semacam Prolog. Saya bersama dua teman lain sekelas  ( Abbas MD dan Mustafa Yasin ) jadi anak sekolah   yang sedang nongkorong di pinggir Pantai Gedung  Daerah , dan ketemu tukang jual kacang  goreng yang bercerita bagaimana dia menyesal   dahulunya tidak  sekolah sehingga pada masa tuanya dia hidup susah dan hanya jadi   penjual kacang goreng. Saya membaca  puisi Sanusi  Pane : Menyesal .

Dulu  gedung itu  gedung opera, jadi  arsitektur pentas dan properti  lainnya adalah properti opera. Ada tempat musik opera di bawah panggung  dan di sana   Orkestra  memainkan musiknya mengiringi drama atau  opera yang  di pentaskan.

Kini gedung itu sudah jadi gedung pertunjukan umum dan serba guna . Bisa  untuk main drama , dan pertemuan lain. Dan ruang musik operanya sudah tak ada lagi. Karena itu gedung itu disebut aula.  Aula SPG ( Sekolah Pendidikan Guru ). Dulu namanya SGA ( Sekolah Guru A ) tapi sejak SGB dihapus, Sekolah guru hanya  ada satu tingkatan  . Ya SPG , setingkat SLTA.

Seingat saya , KNPI ( Komite Nasional Pemuda Indonesia ) Kepri dideklarasi  di gedung itu. Masih gedung opera. Dan saya ingat  saya dapat tugas membacakan  Pembukaan  UUD 1945. Yang hadir ketika  itu, Bupati Kepulauan Riau  waktu itu , Firman Eddy, SH. Ketua KNPI Kepri yang  pertama  terpilih adalah Ir. Ben Burhanudin, tokoh pemuda  asal Tembelan. Ketika itu  dia sudah jadi  Kepala Dinas Perikanan  Kepri. Ada Sutarman SH, ada Drs Amhar Hamzah, ada Kapten  ( TNI AL ) Syahbudin, Imam Sudarajad, Hanjoyo Putro, SH, dll. Tahun berapa itu ? Saya lupa . Tapi saya masih jadi  guru SD di Tanjungpinang, dan di KNPI Kepri saya jadi  pengurus bidang kaderisasi di bawah Kapten Syahbudin.

Gedung Aisyah Sulaiman itu dahulunya  gedung kesenian sebagai fasilitas pendidikan  Gedung SGA , dan SGA Tanjungpinang itu  salah satu  SGA yang ada di Propinsi Riau ketika itu, selain di Pekanbaru . Siswanya datang dari Bengkalis , Rengat , dll, selain dari Kepri.  Karena itu dulu  orang menyebutnya Gedung Aula SGA . Saya tak tahu kapan gedung ini  berubah nama jadi  Gedung Aisyah Sulaiman. Tapi gedung ini sudah waktu nya diusulkan jadi warisan benda purbakala karena sudah lebih 50 tahun keberadaanya. Sudah  ada sejak zaman Dollar . .dan masih utuh.

Idealnya , gedung kesenian Aisyah Sulaiman dan kawasan sekitarnta   dijadikan sebagai pusat kegiatan  seni dan kebudayaan yang berperan  menjadi pembentuk karakter bangsa   Terutama generasi muda. Semacam Taman Kesenian. seperti Taman Ismail Marzuki ( TIM ) Jakarta. Letaknya  bagus dan strategis  dengan pemandangan  lepas  ke laut Tanjungpinang dan di seberangnya ada    Pulau  Penyengat yang bersejarah dan jalan lingkar Gurindam .

Kepada Walikota Ibu Rahma, Saya pernah  mengusulkan sejumlah  kegiatan untuk memeriahkan dan mengaktifkan gedung Aisyah Sulaiman, sebagai gerakan awal :
Menjadikan Gedung Aisyah Sulaiman sebagaib Pusat Kesenian Tanjung pinang . Kegiatan  itu saya beri nama  Resital Sastera . Konsepnya  kira kira  begini :

  1. Resital Sastera adalah kegiatan dalam bentuk malam apresiasi  sastera yang dilakukun dalam bentuk tampilan seni komunitas , group, atau kumpulan para penggiat dan pencinta sastera  yang ada di Tanjungpinang dan Kepri. Tampil sekali se minggu tiap  sabtu malam. Jika ada kendala tehnis, boleh di geser ke malam yang lain. Penampilan   secara bergilir  52 kali setahun.
  2. Tempat  di gedung Kesenian Aisyah sulaiman dan area sekitarnya
  3. Pelaksana  kegiatan  : Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Tanjungpinang dan Dewan Kesenian Kota Tanjung pinang serta  komunitas sastera lainnya yang ada di Tanjungpinang.
  4. Bentuk tampilan  :  apresiasi sastra , baca puisi , musikalisasi  puisi, dramatisasi puisi , baca cerpen, bincang sastera dll.
  5. Baca Puisi Bulanan tiap tgl  6 untuk menjaga memori ingatan Hari Jadi Tanjungpinang. Pesertanya para penyair dan pencinta puisi . Terutama para siswa dan mahasiswa , termasuk siswa SD.
  6. Anugerah Sastera Aisyah Sulaiman untuk buku puisi , novel dan kumpulan  cerpen/ esai sastra. Yang diberikan tiap  tahun  sekali. Pelaksana Disparbud kota dan  Dewan kesenian TPI.
  7. Bazar buku, kuliner dan marchandis bernuansa Aisyah Sulaiman . Pelaksana Disparbud Tpi dan DK Tgpinang dan komunitas satera yang ada di Tanjung pinang.
  8. Tembok Puisi Aisyah Sulaiman : Pembangunan tembok puisi di laman gedung Aisyah Sulaiman berupa plate plate grafir puisi penyair kepri. Mulai dari Raja Ali Haji sampai ke penyair  muda sekarang ini.
  9. Tentu ada biaya pelajsanaannya , termasuk hadiah,  dll. Tapi tidak begitu besar. Tidak habis Rp 1 M, setahun dan tentu bersumber   dari APBD Kota Tanjungpinang.
  10. Bisa juga didapat dukungan sponsorship , terutama dari dana CSR dunia usaha, terutama  BUMD dan BUMN.

Begitulah. Melalui  kegiatan di Gedung Aisyah Sulaiman ini, Tanjungpinang dapat mempertahankan  dirinya  sebagai jantung negeri melayu, sebagai dermaga  sastra lndonesia . Sebagai  negeri  pantun dan gurindam. Negeri tempat lahirnya   karya  karya  sastera besar, seperti  Gurindam Dua Belas, dan lainnya.

Ok. Semoga bisa diujudkan.


Rida K Liamsi, penyair, budayawan Melayu.