Oleh Musa Ismail

"Perjalanan Kelekatu": Pengucapan Estetik-Simbolik Dunia Melayu (2)

Aktifitas Rabu, 17 Februari 2010

Dunia Melayu identik dengan Islam. Artinya, estetika Melayu identik dengan estetika Islam. Buku paling awal yang memandang estetika sebagai ilmu tersendiri dan terkenal ialah Aesthetica (1750) karya Baumgarten, filsuf rasionalis Jerman. Kata aesthetica diambil dari kata Yunani, yaitu aesthesis. Artinya, pengamatan indera atau sesuatu yang merangsang indera. Dari pengertian itu, Baumgarten mengartikan estetika sebagai pengetahuan yang berkaitan dengan objek yang dapat diamati dan merangsang indra, khususnya karya seni. Di dalamnya juga, tercakup pengertian sensasi atau reaksi organisme tubuh manusia terhadap rangsangan luar. Dalam tradisi Islam, estetik diambil dari Alquran dan hadis, yaitu jamal (keindahan batin) dan husn (keindahan lahir). Keindahan Ilahi merupakan peringkat keindahan tertinggi dalam Islam (dunia Melayu).


Dalam Islam (dunia Melayu), hidup ini adalah perjalanan, fana, dan tempat singgah seperti diucapkan dalam larik puisi ’’Kelekatu’’: Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu/Terbang dari lampu ke lampu/Dari pintu ke pintu/Dan akhirnya terdampar di bawah bangku//. Hidup di dunia ini merupakan suatu permainan dan senda gurau yang membuat kita terbelenggu dalam keseronokan palsu:

Hanya kita yang merasa Aduhai
                        Aduhai
                               Aduhai
Hanya kita yang tahu, apa yang tak pernah sampai

Lebih dalam, puisi ini menggambarkan suatu simbol perjalanan kehidupan manusia. Di dalamnya, manusia terjerat kesepian, keterasingan, keseronokan, kepedihan, dan kematian. Kematian inilah merupakan awalnya perjalanan menuju keindahan Ilahi yang kita sendiri tak pernah tahu waktunya.

Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu
Menunggu resa angin, menjadi isyarat musim
Memburu cahaya, dan gugur saat gelap tiba
Tapi kita tak tahu Bila
                      Bila
                     BILA

Puisi-puisi lain yang pengucapannya senada dengan puisi Kelekatu adalah Kedidi Kini Sendiri Pergi Mencari, Di Jabbal Rahmah, Di Masjidil Haram, setelah Menara Zamzam, Aku Telah Menangkap Isyarat Itu, Di Masjid Amir Hamzah,  Di Tapaktuan Mereka Takut Menunggu Malam,     Aceh Suatu Hari Sesudah Tsunami, Di Great Wall, Percakapan Akhir, dan Seekor Lumba-Lumba yang Ngembara. Secara mengerucut, pengucapan dan pemaknaan yang muncul dari puisi-puisi tersebut ialah tujuan terakhir dari kehidupan, yaitu kematian (sebagai awal perjalanan untuk kehidupan berikutnya untuk menemukan cahaya). Beberapa puisi tersebut jelas sekali merupakan pengalaman perjalanan batin seorang Rida ketika di tanah suci. Dari pengucapan-pengucapan dalam puisi di atas, terjadi perjalanan kerohanian tentang makna kehidupan sebenarnya. Salah satu gambaran Sebagai contoh gambaran pengucapan estetik-simbolik Melayu (yang sufisme) dapat kita pahami dalam bait puisi Di Great Wall berikut. 

Akhirnya, aku mendaki tangga demi tangga, menahan denyut
demi denyut, mengepal gigil demi gigil, karena katamu, jika
harapan yang sanggup di kabut, dibancuh dalam panas gairahku,
maka rindu yang terpendam akan bangkit dan mengalir….
Dalam puisi Seekor Lumba-Lumba yang Ngembara (Kepada Idrus), pengucapan estetik-simbolik Melayu (yang sufisme) pun dapat kita tangkap.

Seekor lumba-lumba yang ngembara, seperti musim,
sekali datang sekali beredar. Tapi laut tak henti menungngu
kembara membentang layar, kembara menurunkan layar.
Dan kau seperti perahu-perahu yang lelah, kini saatnya
melabuh jangkar.

Pengucapan estetik-simbolik demikian membentang ke arah alam transendental, alam ke-Tuhanan, bersemangat profetik. Semangat profetik ini merupakan titik pusat dalam Perjalanan Kelekatu, yaitu sentral pertemuan antara alam mikrokosmos dan makrokosmos, antara dimensi sosial dan dimensi transendental. Dapat saya katakana pula bahwa estetika-simbolik yang dilukiskan Rida ini membentuk citraan-citraan visual yang berkaitan dengan psikologi (simbol-simbol digunakan merujuk pada peringkat batin. Lalu, juga menyangkut kosmologi, yaitu citraan-citraan yang berkenaan dengan perjalanan dari alam terendah ke alam tertinggi (alam ke-Tuhanan). Secara teserlah, hanya beberapa puisi yang terang-terangan menyebut diksi yang berkaitan dengan religiusitas. Tetapi secara terselubung, kaitan makna ke-Tuhan-an tak dapat kita sangkal di dalam puisi-puisi sastrawan asal Dabosingkep, Kepulauan Riau ini.

Melayu merupakan khazanah yang kaya akan budaya. Kekayaan Melayu itu merupakan tifa induk dalam setiap transformasi nilai-nilai kebudayaannya. Sebagai salah satu produk kebudayaan, kelahiran sastra tak akan pernah kosong dari peristiwa budaya. Pengucapan estetik-simbolik ke-Melayu-an yang ditawarkan Rida dalam karyanya ini merupakan transformasi dari sistem nilai-nilai kehidupan dunia Melayu.  Nilai-nilai tersebut ditransfer dalam bentuk keindahan bersastra melalui puisinya. Pengucapannya ini diangkat dari pengalaman-pengalaman perjalanan estetik yang pernah dialami. Dunia empirisnya inilah yang bergejolak di dalam batin sehingga membentuk suatu pengalaman perjalanan rohani. Kemudian, Rida memproduksinya dengan pengucapan kental lidah Melayu (dapat kita lihat secara jelas dari kondisi dan diksi).

Estetik-simbolik dalam Perjalanan Kelekatu, ternyata tidak hanya membicarakan keindahan tertinggi. Beberapa puisi tersebut, juga menggambarkan keindahan lahir (husn) atau bentuk luar yang diperoleh di alam syahadah dan dapat dicerap indra atau mata jasmani. Imam Al-Gazali menyebut dengan istilah keindahan sensual atau nafsani, yang timbul dari cinta jasmani. Jenis keindahan ini dapat kita tangkap dalam puisi Mak, Bah, Sanghai Baby, Rose Tiga, Rose Empat, dan Cinta. (Bersambung)

Musa Ismail adalah guru SMAN 3 Bengkalis dan penulis.


Related Post