Riaunisasi adalah Jalan Wujudkan Visi Riau 2020

Aktifitas Rabu, 07 Oktober 2009
Riaunisasi adalah Jalan Wujudkan Visi Riau 2020

PEKANBARU (RP)- Riaunisasi, adalah jalan menuju Riau Incorporated, dan Riau Incorporated adalah lompatan besar untuk meujudkan Visi Riau 2020 yang menginginkan Riau menjadi salah satu pusat perkembangan ekonomi terutama di kawasan ASEAN.

Hanya dengan gerakan strategis dan ekspansif itulah, Riau dapat berperan sebagai kekuatan perekonomian. Jika tidak, jangan bermimpi salah satu bagian dari visi Riau 2020 itu akan terwujud. Riau akan tetap menjadi kawasan yang hanya jadi ladang perburuan, sementara hasilnya akan lebih banyak diangkut keluar, dan Riau hanya kaya secara statistik, tetapi tidak dalam realitas kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Demikian dikatakan Rida K Liamsi, CEO Riau Pos Group, mempertegas statement yang disampaikannya sebagai salah satu pembicara pada seminar Geliat Ekonomi Riau 2008 dan Meneroka Ekonomi Riau 2009 yang diselenggarkan Kadin Riau berkerja sama dengan Riau Pos Group (RPG), Selasa (6/1), di Hotel Pangeran Pekanbaru. ??Visi Riau 2020 itu sudah berjalan hampir 10 tahun, tetapi tingkat pencapaian targetnya baru 20 persen. Pendapatan per kapita misalnya, baru 1.600 dolar AS lebih, padahal targetnya 7.500 dolar AS. Lalu bagaimana akan wujud, sementara waktu tinggal 10 tahun. Karena itu harus ada lompatan besar dan strategi yang lebih berani, kalau mau sukses,?? tegas Rida, yang juga menjabat sebagai CEO Riau Investment Corp (salah satu BUMD Riau). Itulah yang dia maksudkan dengan Riaunisasi itu. Jadi semata-mata gerakan pemberdayaan kekuatan ekonomi Riau melalui semangat bisnis dan ekonomi, dengan memanfaatkan semua kekuatan finansial dan Sumber Daya Alam (SDA) Riau dan infrastruktur politik yang ada.

Menurut Rida, gerakan Riaunisasi itu, dapat diwujudkan dengan melakukan pemberdayakan perekonomian Riau dengan memberi dukungan penuh kepada Pemerintah Daerah Riau agar dapat menguasai dan mengendalikan perekonomian daerah dengan ikut serta sebagai pemilik dan pemegang saham dalam berbagai investasi, atau melalui berbagai peraturan daerah, mempunyai akses yang kuat untuk mengatur kepentingan perekonomian daerah Riau, agar menjadi kekuatan ekonomi yang benar-benar menjadi penggerak pertumbuhan dan kesejahteraan daerah.

??Dengan keterlibatan secara ekonomi dan keuangan, maka selain kebijakan ekonomi dan bisnis dapat disinergikan dengan tujuan dan strategi pembangunan daerah, juga akan dapat menguasai sebagian dari manfaat dari ekplorasi kekayaan alam itu, agar bisa lebih banyak dinikmati daerah. Kita kaya sumber daya alam tetapi kita miskin dalam akses dan pemanfaatannya dan terlalu bergantung pada belas kasihan Jakarta,?? lanjut Rida.

Sebagai contoh, ditunjukkannya soal perkebunan kelapa sawit yang luasnya sudah mencapai 1,5 juta hektare dengan produksi CPO (crude palm oil) 3,5 juta ton. Namun nilai tambahnya hampir tak ada. ??Semua diekspor, hingga sebuah pabrik sabun atau mentega pun kita tak punya,?? lanjut Rida.

??Riau melalui BUMD-nya nyaris tak memiliki satu hektare pun kebun sawit atau pabrik CPO. Begitu Riau ingin membangun pabrik biofuel, mencari setetes CPO pun sulit. Mau jadi apa Riau nanti, kalau sawit sudah punah? Riau hanya mewarisi banjir, karena hutannya sudah ditebang untuk sawit,?? lanjut Rida lagi.

Demikian dengan minyak bumi, batubara, dan lainnya, dimanaa Riau hanya jadi penonton dan mewarisi masalah ekologi. Dengan kondisi itu, menurut Rida, Riau hampir tidak memiliki power dan nilai tawar untuk menjaga ketahanan ekonominya, apalagi kalau akan menjadikan sebagai penggerak kekuatan pertumbuhan ekonomi daerah, karena semua strategi ekonominya diatur dan dikendali dari luar Riau.

Seharusnya, kata Rida, dengan semangat Riau Incorporated, maka Pemerintah Daerah Riau, baik secara langsung, maupun melalui BUMD-nya dan kekuatan investasi lokal, dapat mengatur dan mengarahkan semua sektor ekonomi strategis itu, agar bisa memproteksi dan mengamankan kebutuhan di daerahnya dan menjadikan sektor itu sebagai pilar perekonomiannya. ??Kita kan punya uang dari Dana Bagi Hasil (DBH) Migas, dana pihak ketiga di perbankan dan lain lain. Kan sebagian bisa dipakai untuk investasi seperti mengakuisisi pabrik-pabrik kelapa sawit (PKS) yang mau dilepas, kebun yang mau ditinggal, dan bahkan juga ladang-ladang minyak marginal yang ditinggalkan. Membangun refinery sendiri dan lain lain,?? lanjutnya.

Riau, kata penggagas Gerakan Sejuta (Genta) Melayu ini, juga harus lebih berani melakukan terobosan, termasuk ??menyingkirkan?? peraturan bikinan pusat yang menghambat keinginan Riau untuk maju. Seperti aturan pembangunan jalan tol, kawasan pertumbuhan ekonomi baru Dumai dan lainnya, agar semangat Riaunisasi dan Riau Incorporated itu wujud dan menjadi kekuatan penggerak perekonomian daerah.

Empat Gebrakan
Dalam seminar setengah hari itu, Rida juga mengetengahkan, selain harus ada lompatan besar melalui gerakan Riauniasi itu, gerakan itu harus diikuti dengan langkah strategis lain sebagai gebrakan agar target Visi Riau 2020 tercapai. Antara lain dengan mengubah strategi pembanguan Riau yang berorientasi pada kebijakan sosial populis, menjadi kebijakan yang berorientasi pertumbuhan dan pemerataan (growth oriented plus) dengan basis agro industri, pariwisata dan ekomaritim agar sandaran pertumbuhan ekonomi kokoh dan melupakan migas dan pertambangan sebagai primadona.

Kemudian, melakukan pemberdayaan secara maksimal keberadaan BUMD sebagai pilar pembangunan ekonomi daerah dalam kerangka Riau Incorporated. Serta membangun kekuatan UMKM sampai 2,5 persen dari jumlah penduduk dan membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di Dumai agar dapat memanfatkan potensi Selat Melaka untuk membuka era ASEAN Gate Way untuk masuk ke pasar ASEAN dan Dunia.(mar)
(www.riaupos.com)